Lebih Baik Menepati Janji “Buka Bersama” dengan Teman ketimbang Tarawih

tubanjogja.org – Janji

Janji

Ilustrasi dicangkok dari http://kabar.salmanitb.com

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

(al-Nisa’: 63)

Sebagian dari masyarakat muslim di Indonesia memahami bahwa patuh terhadap Rasul adalah menjalani apa-apa yang dulu pernah dilakukan Rasul. Tidak jarang, ada juga yang memahaminya sebagai alasan untuk meniru gaya fisik Rasul secara total. Mulai dari pakaian, cara makan, bentuk fisik, dan sebagainya. Untuk mempermudah, mereka menyimpulkan bahwa semua yang ada pada Rasul itu diwarisi oleh orang-orang yang biasa mereka sebut dengan “ulama’”. Oleh karenanya, sosok ulama’ bagi mereka berperan begitu penting sebagai parameter patuh tidaknya mereka dengan Rasul. Akan tetapi, di waktu yang sama, sebenarnya mereka tengah terjebak dalam narasi yang mereka ciptakan sendiri: suatu narasi yang kaku, elit, dan tidak menerima perubahan.

Secara prinsip, patuh kepada Rasul tidak saja harus dipahami sebagai meniru apa-apa yang dulu pernah dilakukannya. Seseorang yang selalu berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kata atau selalu menghargai kata-katanya (dengan menepati janji) jugalah termasuk bagian dari mematuhi Rasul. Atau sangat mungkin, justru di situlah spirit mematuhi Rasul yang sebenarnya terletak. Berbasis ayat di atas—mengetahui posisi ayatnya berada pada deretan ayat-ayat yang menjelaskan tentang manusia yang berwajah dua terhadap Rasul—seseorang baru bisa disebut seorang yang patuh kepada Rasul ketika dia berani untuk melakukan segala yang pernah “diucapkan”, tidak mudah membatalkan janji, berbicara dengan gaya yang dengannya orang lain begitu tersanjung, dan sebagainya. Kenyataan bahwa dulu Rasul begitu tidak nyaman dengan kelompok tersebut—kelompok yang tidak menghargai kata-katanya—merupakan satu indikasi bahwa manusia yang demikianlah yang lebih bisa disebut sebagai yang tidak patuh kepada Rasul. Untuk itu, pada prinsipnya, sesuatu yang lebih kita tekankan dalam hal ini adalah mengenai ini, bukan mengenai bagaimana kita harus berperilaku sebagaimana masyarakat Arab ratusan tahun silam.

Adapun mengenai bagaimana menghadapi manusia yang sulit menghargai kata-katanya adalah cukup dengan dua hal, yaitu cuek dan mengajaknya ngobrol dengan gaya bicara yang membuat dia tertarik ketika memang ada kesempatan. Dan maksud dari kesempatan itu tidak lain adalah saat yang bersangkutan merasa bosan dengan keadaanya lantas meminta pendapat kepada kita, lantas di situlah kia memiliki kesempatan untuk membuka obrolan terkait apa yang kita sayangkan darinya. Ringkas kata, secara tidak langsung, ayat di atas mengajak kita untuk kembali menyelami bagaimana seharusnya kita mematuhi Rasul Muhammad: apakah dengan cara demikian, cara ini, itu atau yang seperti apa. Hingga akhirnya, bisa ditarik kejelasan bahwa spirit mematuhi Rasul itu bukan saja terletak pada melakukan apa-apa yang diperintahkannya, tetapi juga terletak bagaimana kita menghargai kata-kata demi kenyamanan orang-orang di sekitar kita.(Red).

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.