Cinta Tanah Air dan Parade Gondal-gandul Inthal-inthul

tubanjogja.org – Cinta Tanah Air

Oleh Lembu Peteng

Tanah air adalah tanah air. Di luar itu adalah sesuatu yang di atasnya. Mencintai tanah air dengan hanya sibuk mengurusi “yang di atas”, adalah ibarat kita sibuk merias tubuh dari atas perut sampai rambut saja, tapi membiarkan perut sampai ujung kaki tidak memakai apa-apa. Maka muncullah pemandangan gondal-gandul inthal-inthul. Bayangkan saja mereka bergerombol dan berparade.

cinta tanah air

Ilustrasi diambil dari beritasatu.com

Perkara gandul-gandul wazaujatuhu itulah yang terlalu sering saya lihat akhir-akhir ini. Kita mencurahkan seluruh tenaga menghalau wahabisme, radikalisme, ekstrimisme, terorisme, ideologi transnasional, tapi diam saja menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak, yang harus dipertahankan dari kerusakan dan monopoli segelintir orang.

Di Tuban sendiri (yang mayoritas warga Nahdliyin) saya pikir juga demikian. Banyak sekali pengajian diselenggarakan. Tapi soal kerusakan alam, ketimpangan sosial, gerakan koperasi menghadang monopoli pasar oleh pemodal, pemberantasan kemiskinan, pemihakan pada nasib buruh, tani, dan kaum melarat lainnya, adalah sesuatu yang hampir tak terbahas. Yang ada melulu mauidzoh hasanah sampai muntah-muntah agar kita tunduk, dan selamanya tunduk, meski diinjak-injak dan dijajah. Atau  paling banter adalah gerakan menghalau ekstrimisme dan terorisme tadi, agar tidak menyerobot masjid-masjid umat.

Memang tidak semua pengajian begitu. Tentu saja banyak kiai-kiai progresif laiknya Haji Misbah di zaman kolonial yang isinya menggerakkan umat Islam menghantam jantung penjajahan. Tapi dibanding yang tidak, mereka ini hanya sejumput.

Tawazun

Salah satu prinsip NU yang digariskan para pendirinya adalah tawazun, artinya seimbang. Sejak kelahirannya, NU memang suatu jamiyah dengan semangat Islam Nusantara, yang menghadang dua hal: menghadang kolonialisme dan wahabisme. Penjajahan harus dilawan sebab memiskinkan, menyengsarakan, sekaligus menginjak-injak martabat pribumi sebagai manusia. Adapun wahabisme ditolak karena punya semangat ortodoksi, yang berpotensi mencerabut warga dari akar sejarah, tidak membawa perkembangan dan kemajuan kebudayaan dan peradaban, sekaligus cenderung membawa perpecahan di kalangan umat Islam.

Keduanya, oleh leluhur Nahdliyin, dijalankan dengan seimbang dan dalam satu tarikan nafas. Sebab apalah arti teriakan anti wahabisme, tapi membiarkan mayoritas umatnya melarat, sengsara dan terhina. Sama halnya dengan apalah artinya ber-NKRI jika benih-benih perpecahan dibiarkan tumbuh subur.

Kembalikan Hubbul Wathon pada Khittoh-nya

Memang, akhir-akhir ini, lagu-lagu hubbul wathon lebih sering dinyanyikan. Suatu lagu yang hendak menunjukkan bahwa warga Nahdliyin memang mencintai tanah airnya. Bahkan dalam lagu itu, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Sehingga siapa saja yang merongrong tanah air, memang harus dilawan.

Tapi sayangnya, pengejawantahannya kini (sekali lagi) tak lebih dari suatu upaya beramai-ramai menggebuk mereka yang dianggap ekstrimis dan teroris saja. Soal ruang hidup yang kian sempit dan mengimpit, sangat jarang menjadi perhatian. Sesuatu yang memang mirip parade gandul-gandul inthal inthul tadi.

Belajarlah dari Mbah Takrib, pemuda Nahdliyin Tuban, atau kawan-kawan FNKSDA, yang menjalankan hubbul wathon dengan seimbang. Itulah khittoh hubbul wathon yang kini harus kita jalankan bersama. Hanya dengan begitu, parade gondal-gandul inthal-inthul tadi tak akan terulangi.

Blandongan 1 Juni 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.