Ngopdar KPMRT: Kupas Tuntas Soal Mudik

Yogyakarta, tubanjogja.org—KPMRT bahas tuntas soal mudik, sekaligus rencanakan mudik bareng dalam acara Ngopdar di Blandongan Café (28 Mei 2017). Hadir puluhan anggota dari berbagai kampus di Yogyakarta. Hadir juga tamu undangan perwakilan berbagai macam Ormada.

Mudik adalah tradisi khas masyarakat muslim Asia Tenggara, khususnya Indonesia, dalam menyambut lebaran Idul Fitri. “Di negara lain hampir tidak ada. Perayaan atas Idul Fitri tidak semeriah di Indonesia yang biasanya diisi acara halal bi halal dan silaturrahim”, ujar Nasikin, Ketua KPMRT.

Adhim, anggota KPMRT menambahi, dalam masyarakat Amerika dan Eropa memang ada istilah yang mirip dengan mudik, yaitu homecoming. “Tapi homecoming lebih cenderung diartikan mengunjungi kampong halaman belaka, seperti ingin ketemu orang tua. Tapi hal tersebut tidak dalam momen tertentu semisal hari besar Natal,” terang Adhim.

Diskusi soal mudik berlangsung meriah, hingga larut malam. Faizin, anggota KPMRT yang sekaligus menjadi pekerja di Blandongan Café, sampai memberikan tambahan kopi buat peserta.

Rencana Mudik Bareng

Pembahasan soal mudik, kemudian ditutup dengan rencana mudik bareng. “Tujuannya agar kita bisa saling menolong ketika terjadi apa-apa di jalan,” kata Nasikin.

Ipan membenarkan hal itu. “Ketika kita terjatuh di jalan, minimal ada yang bantu. Mudik kemarin ban motor saya pecah, tapi berhubung sendirian, yang akhirnya nuntun sendiri. Dan itu sangat tidak enak,” ungkapnya.

Rencana mudik tersebut disepakati berjalan dua gelombang. Gelombang pertama yaitu H-7, sementara gelombang kedua adalah H-3. Adapun koordinator mudik bareng belum ditentukan, baik coordinator umum, maupun coordinator per-gelompang. “Untuk sementara ini biar kami rapatkan bersama pengurus bagaimana enaknya,” pungkas Nasikin.[AT]

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.