Tahajud di Warung Kopi (Interpretasi Surah al-Isra’ [17]: 79)

tubanjogja.org – Tahajud

Tahajud

Ilustrasi dicangkok dari https://dayensobarna.wordpress.com

 

Yudian Wahyudi, penulis buku Jihad Ilmiah dari Tremas ke Harvard, menyebutnya sebagai “tahajud ilmiah”. Bagi Yudian, tahajud bukan saja persoalan pahala, doa, dan surga. Itu juga tentang pemikiran dan peradaban. Melalui tahajud, lanjut Yudian, masyarakat Muslim hari ini akan sangat terbantu, seharusnya, guna membangkitkan kembali peradabannya. Namun, bagaimanapun, tentu konsep tahajud yang ditawarkan Yudian tersebut tidak bisa kita samakan begitu saja dengan pandangan mainstream.

Bagi Yudian, tahajud tidak hanya sujud. Tahajud bukan cuma tentang salat dua rakaat, empat atau lebih. Tetapi, juga mengenai kontemplasi. Kontemplasi di waktu yang tepat. Membaca buku, menulis sekitar satu sampai tiga lembar, dan sejenisnya, lanjut Yudian, pada sepertiga malam sangat boleh kita sebut sebagai tahajud. Bahkan, justru pada kegiatan semacam itulah (membaca dan menulis), ruh dari tahajud bersemayam.  Dan kiranya, di titik ini, siapa pun menjadi wangun, kenapa Yudian menyebutnya “tahajud ilmiah”.

Apa yang disimpulkan Yudian cukup beralasan. Jika menengok ayat tertaut kata tahajud, kita tidak akan menemukan satu clue pun yang menandakan adanya pemahaman bahwa tahajud harus salat. Mari kita lihat ayatnya. Adalah surah al-Isra’ (17): 79. Pada ayat tersebut, kalimat yang dipakai hanya “fatahajjad”. Kata-kata yang identik dengan makna salat tidak dijumpai di dalamnya. Sehingga, dari segi tata letak kalimatnya, perwujudan kata tahajjud di al-Isra’: 79 bukan sebatas salat. Kegiatan-kegiatan efektif lainnya, di luar salat, seperti membaca dan menulis (versi Yudian) sangat masuk di dalamnya.

Se-nuansa dengan itu adalah Imam Tabari. Imam Tabari, menafsirkan kata fatahajjad, bukan dengan pengertian “salatlah” (sallu), namun, fashur ba’da naumatin bi al-Quran atau “terjagalah selepas bobokmu dengan al-Quran”. Ia tampak lebih suka melihat kata hajada (bentuk derivasi dasar dari kata fatahajjad) sebagai sahara. Ibnu Faris, dalam Maqayis al-Lugah, menyebut kalau maksud dari sahara adalah qalilun naum atau “yang sedikit tidurnya”. Berbicara tentang sedikit tidur, tentu konotasinya bukan hanya salat. Aktivitas-aktivitas produktif lain yang dilakukan pada sepertiga malam juga bisa digolongkan sebagai wujud dari kata sahara.   

Menariknya, sebagaimana disinggung sekilas, di situ Tabari menafsirkan tahajjud sebagai fashur ba’da naumatin bi al-Quran. Sekali lagi saya sebut, bi al-Quran. Pengertian yang dipilih Tabari untuk menggambarkan tahajud adalah se-aktivitas begadang bersama al-Quran. Ia tidak menyebut bi al-Salah, tetapi bi al-Quran. Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan seseorang berdua dengan al-Quran pada sepertiga malam? Tepat sekali! Kalau tidak membaca, ya merenunginya. Sederhananya, saya membayangkan bahwa saat Tabari berbicara tentang tahajud, gambaran yang muncul di kepalanya adalah duduk manis di depan jendela, menikmati sunyi malam sembari merenungi al-Quran. Salat? Mungkin iya, tetapi tidak terlalu dominan sebagaimana hari ini.

Masyarakat Muslim Kala Itu

Lebih jauh, berbasis asumsi bahwa pemikiran seseorang selalu tertaut dengan kondisi sosial kemasyarakatannya, saya bisa menyebut jika world view (pandangan dunia) masyarakat di masa Tabari tentang tahajud cukup berbeda dengan masyarakat di Indonesia kini. Di sini, meminjam bahasanya Thomas Kuhn, telah terjadi apa itu yang disebut sebagai shifting paradigm (pergeseran paradigma). Lebih tepatnya menyangkut tahajud. Dulu, tahajud identik dengan kontemplasi yang sarat budi dan rasa, tetapi sekarang bergeser ke aktivitas salat. Hari ini, saat kita menyebut tahajud, spontan yang muncul di benak kita adalah bayangan seorang yang tengah salat.

Mengapa bisa demikian? Saya kira ini ada hubungannya dengan beberapa hadis tentang keutamaan salat malam. Sebagai salah satu contohnya adalah hadis riwayat Ibnu Majah 1324 (versi Lidwa) tentang tiga cara simpel untuk merangkul rida Allah, yaitu murah senyum (salam), suka berbagi makanan, dan tidak wegah salat malam. Selainnya, mungkin juga, itu terkait dengan surah al-Isra’: 78 (satu ayat sebelum ayat tentang tahajjud) yang di situ tampak jelas bagaimana di dalamnya tertulis kalimat aqim al-salah—meski itu bukan tertuju pada salat tahajud. Sehingga, sampai di sini, cukup wajar mengapa dalam “alam bawah sadar” masyarakat Islam Indonesia hari ini, konotasi dominan tahajud adalah “salat”.  

“Membaca Tahajud” dan Gelombang Tetha

Kembali pada tawaran Yudian Wahyudi tentang “tahajud ilmiah”—atau “membaca tahajud”, jika memakai bahasa saya, biar tidak terkesan ikut-ikutan—ada satu lagi yang menggoda di dalamnya. Adalah tautannya dengan gelombang pikiran manusia, human brainwave.  Dalam otak manusia, terdapat empat gelombang, yakni beta, alpha, tetha, dan delta. Pertama adalah gelombang saat kita, manusia, benar-benar terjaga dan sadar atau malah tinggi. Saat kita makan bersama teman di kantin sembari nostalgia dengan emosi yang kadang naik, kadang turun, semisal, berarti saat itu gelombang otak kita beta.

Kedua adalah gelombang rileks, netral, dan masih sadar. Jika dibanding beta, gelombang alpha lebih santai. Biasanya, waktu yang tepat untuk memicu gelombang alpha adalah saat senja. Kondisi sore dengan lembayung terindahnya berpotensi besar menciptakan nuansa alpha pada otak. Sedangkan ketiga, tetha, posisi ketegangannya di bawah alpha. Bisa dibilang, ini adalah kondisi saat kita mengantuk, melamun, dan sejenisnya. Gelombang tetha lebih dekat dengan alam bawah sadar manusia. Adapun yang terakhir, delta, adalah kondisi saat tidak ada ketegangan sama sekali atau tidak sadar. Tidur contohnya. Kala bobok, gelombang otak kita delta, kosong.

Dan dari semua itu, rupanya gelombang yang paling efektif dipakai untuk belajar adalah tetha. Alasannya, gelombang inilah yang paling dekat dengan alam bawah sadar manusia. Ketika membaca pada gelombang tetha, meski kita tidak sepenuhnya paham, percayalah suatu hari, saat dibutuhkan, apa yang usai terbaca tadi pasti akan muncul dengan sendirinya. Ini bisa terjadi lantaran pada posisi gelombang tetha, apa yang dicerna otak akan banyak terserap ke alam bawah sadar. Untuk itu, adalah waktu yang pas untuk membaca buku setiap sebelum bobok dan setelahnya.

Di mana titik pertemuannya dengan “membaca tahajud”? Tepat di waktu sepertiga malamnya! Sepertiga malam, bagi manusia normal, adalah waktu kantuk-kantuknya, antara ada dan tiada. “Membaca tahajud” dianjurkan untuk dibiasakan pada sepertiga malam. Jadi, sampai di sini, siapa saja tentu bisa menangkap, mengapa kita dianjurkan untuk senantiasa melakukan tahajud. Dan saya pikir, di garis inilah pandangan Tabari dan Yudian di atas menemukan bentuknya. “Tahajud bukan hanya salat!” Tegas mereka. “Membaca, merenung, menulis, dan kawan-kawannya di manapun itu (tak terkecuali kafe) pada saat gelombang otak tetha, boleh disebut tahajud!” (red.)

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.