Masih Soal Catatan Toilet

tubanjogja.org – Catatan Toilet

catatan toilet

Ilustrasi diambil dari https://www.yukepo.com/unik/potret-toilet-unik-dan-nggak-biasa-dari-berbagai-belahan-dunia

Oleh, Wedus Gibas*

Awalnya saya menyesal menulis catatan kemarin. Saya khawatir mereka kapok menulis. Tapi rupanya tidak. Mereka tangguh-tangguh. Persis ketika anak-anak bermain pedang-pedangan, terus ada yang jatuh dan menangis, tapi besuknya diulangi lagi. Di titik ini saya bahagia.

Poin kedua, saya terkejut sebenarnya dengan respon atas catatan toilet yang saya tulis dalam waktu 12 menit itu. Ada yang baper (baca akhir paragrap tulisan Rizka ini), ada yang menuduh kejam dan pelit bahkan ngasih kerupuk saja ogah (tulisan Zav), ada yang menuduh saya seperti Ajo Sidi ditambah dengan suatu penyakit mental: denial syindrome. Wow. Tentu saja tidak marah dengan tuduhan-tuduhan itu. Itu sepele. Saya hanya kasihan. Dan sebab itu jadi berpikir: apa benar tulisan saya dari toilet itu menyakiti?

Sesungguhnya dalam tulisan itu saya hendak jujur menunjukkan kenyataan, bahwa tulisan mereka bertiga itu berangkat dari kesalahan penalaran. Ya mungkin ada miripnya dengan Ajo Sidi itu: “kalian sibuk menyembah Tuhan, tapi lupa kalau anugerah Tuhan kalian biarkan dirampoki orang.” Soal kakek yang kemudian bunuh diri sebab cerita Ajo Sidi, dasarnya si kakek baperan dan lemah. Tapi saya tentu saja akan bertanggung jawab, berbeda dengan Ajo Sidi yang negluyur pergi. Maklum, Ajo Sidi hanya tokoh dalam cerpen.

Sebelumnya, begini loh ya, soal kenyataan, sebenarnya kenyataan yang kita alami ini tidak pahit-pahit amat kok. Asal jiwa ini tidak kita biarkan kering. Hujanilah jiwa yang kering kerontang dengan rasa syukur, lalu hiasilah dengan kesabaran. Dua hal itu yang insyaallah akan membuat jiwa kita indah bagaikan TMII. Maksudnya, perluas perspektif. Jangan melihat taman bunga hanya dari durinya. Juga dalam tulisan saya kemarin, meski saya tulis dari toilet yang bau itu.

Adapun untuk logika berfikir, cobalah tengok tulisan Joko Dalem yang berjudul “Homo-kampretus Sapiens”. Di situ dia berusaha memberi contoh tentang cara baca atas kenyataan. Tentu saja bukan berarti kita harus menirunya. Tapi bahwa logical fallacies, itu persis yang Joko Dalem gambarkan tentang sendok yang nampak bengkok saat dimasukkan air dalam gelas, padahal tetap saja lurus.

Nah, yang ditulis mereka bertiga itu, ya persis soal sendok itu. Yang satu bilang sendoknya bengkok ke kanan (dalam bahasa Rizka disebut kapitalisme), sehingga yang diperlukan adalah membelokkan ke kiri (ia sebut kerakyatan). Lalu si Zav menunggangi isu, bahwa bukan sendok yang penting, tapi ujung sendoknya yang masuk dalam air itu, warnanya apa (warna pendidikan apa warna industri?). Adapun Mbah Takrib ngotot kalau ujung sendok, apapun warnanya, adalah sendok! Soal tulisan Monses 19 yang melakukan pembelaan atas Rizka, ya cukup lumayan lah retorikanya.

Adapun dalam konteks tema yang dibicarakan mereka bertiga (sekarang empat), temanya adalah pendidikan yang coba dikaitkan dengan industri dan kapitalisme. Maka sebelum terlalu jauh, kita bertanya, pendidikan itu apa? Tentu saja kita tak bisa menjawab secara ujug-ujug dengan mengutip pendapat tokoh-tokoh. Ya gak papa sebenarnya, cuma ya mosok kita tidak bisa berpikir sendiri. Begini, apa perbedaan pendidikan dengan sekolah? Bedanya dengan mondok pesantren? Bedanya dengan kursus? Bedanya dengan belajar silat dan silat lidah?

Begitu juga soal industri, neoliberalisme dan kapitalisme. Harus jelas dulu titik berangkatnya. Proses diatas adalah perlu. Dan itu disebut tahap pertama. Maksudnya adalah pengenalan. Dalam pengenalan itu kita mendapati “perbedaan sekaligus persamaan”. Selanjutnya baru kita bisa mengenali mana kulliyat (universal), mana juz’iyat (partikular), mana jami’ mana mani’, mana wasilah mana ghoyah, mana dzat mana sifat, dan seterusnya.

Selanjutnya perlu juga dikaji secara historis. Ya jelas ini perlu, sebab yang dibahas adalah sesuatu yang sifatnya historis (kasarnya meruang dan mewaktu). Nah, dari situlah, kita akan temui “titik temu” atau titik pijak di antara keduanya. Lantas kita akan mampu menangkap bagaimana hubungan mereka saling berkaitkelindan. Kalau saat ini kemudian para pakar bilang ada yang namanya industrialisasi pendidikan dan dampak-dampaknya yang dianggap menindas itu.

Untuk sekedar contoh, ada tulisan Joko Dalem lagi yang cukup bagus yang memaparkan soal pendidikan, meskipun tetap parsial juga. Judulnya “Tiga Soal Fundamental Pendidikan Kita“. Bacalah kalau mau. Itu cukup mencerahkan.

Terakhir, tentu saja proses di atas tak perlu ditulis. Cukup jadi pegangan bernalar. Itu saja dulu ya. Kalau masih gak paham, besuk dilanjut sambil ngopi. Kita selesaikan secara dewasa. Jangan hanya saling tuduh dan hasut.

Mosok dengan tulisan begitu saja langsung pada baper dan nangis-nangis, sampai harus menuduh pembual, pelit, gila, dan seterusnya. Sudah gitu pinjem teori orang lagi kan (misalnya Freud, Marx, dst). Betapa kasihan. Lagi-lagi ini persis anak kecil yang ditunjukkan kalau pedangnya benar-benar gabus (bukan pedang benaran) lalu marah lapor ibunya (kebetulan Barat). Duh duh duh… mbok ya jangan inferior begitu. Itu nama kampungnya minderwaardigheid complex, suatu penyakit mental bangsa jajahan. Be strong, gaes. Oke?

Griya Hana, bangun tidur, 13 Mei 2017

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.