Mbah Takrib, Wisuda Jenengan Kemarin Hari Apa Nggeh?

tubanjogja.org – Mbah Takrib

Mbah Takrib

Ilustrasi diambil dari www.buserkriminal.com

Oleh, Zev

Membaca tulisan respons Mbah Takrib baru-baru ini, pertama saya tersanjung sekali atas segala pujian berdarahnya—tak pernah saya merasa setersanjung senja ini. Kedua, saya rasa Mbah Takrib penting untuk mengambil program peminatan hermeneutika di pascasarjana UIN dan sedikit mendengar ceramah-ceramah guru (katanya) soal alegoris. Ah atau mungkin, bisalah dimulai dengan membaca kembali “Binatangisme”nya George Well yang diterjemahin Bang Mahbub beberapa dekade silam. Bukan soal literasinya—tentu saya sadar diri lah, apalagi dengan pendahulu yang menggemaskan ini—tetapi tentang “peng-ibarat-an”-nya.

Iya, setidaknya begitu. Maksud saya menyebut UIN sebagai industri, jelas itu bukan dalam artian denotatif, tetapi konotatif. Ilustrasi tersebut bertemu, saya kira, di titik pola pikir. Dalam artian, hari ini, berpijak dari beberapa pengamatan egois, saya mendapati bahwa banyak guru UIN tidak lagi “memperlakukan” kampus sebagai wahana pendidikan, tetapi murni industri.

Salah satu bukti paling nyata adalah betapa sudah dua tahun ini, UIN jarang menyelenggarakan wisuda di hari libur, sabtu dan minggu. Kerapnya malah hari rabu dan selasa. Dan tentu masing-masing dari kita usai paham toh mengapa begitu. Iyaps, tepat sekali: karena hari minggu dan sabtu sudah dialokasikan untuk acara-acara pernikahan, perlombaan, dan sejenisnya yang tentu profit. UIN, di ruang ini, sepertinya lebih bisa bahagia dan tertawa lepas melihat para wali mahasiswa harus izin kerja—atau mendapati mahasiswa-mahasiswanya diwisuda tanpa dihadiri orang tuanya—ketimbang harus merelakkan pelanggannya.

Saya bisa melihat bagaimana gaya berpikir UIN tampak begitu menggemaskan. Tanpa segan, ia memosisikan setiap gedung profit di wilayahnya lebih sebagai cangkir tempat biasanya Mbah Takrib menyimpan kritik-kritik terbaiknya ketimbang sebagai fasilitas guna dinikmati mahasiswanya. Karena cangkir—komoditas (sebagai contoh selain buku)—maka tidak terlalu mengherankan mengapa kini wisuda di hari sabtu dan minggu usai menjadi cerita belaka.

Dan terkira, inilah yang saya maksud dengan Kawasan Industri UIN (KIU). Adalah sebagai ilustrasi betapa pola pikir pelaksana, untuk tidak menyebut guru (biar tidak di-clatu lagi sama Mbah Takrib), UIN usai mendekati garis kemiripannya dengan kerangka pemikiran yag dipakai di dunia Industri.

Oh iya, hampir lupa, soal mahasiswa vs buruh, terima kasih Mbah sudah mengingatkan. Betul apa yang njenengan sampaikan. Saya hampir lupa, jika tiap semester kita masih dikenakan charge. Dan entah, saya selalu suka gayamu mengkritik. Ibarat cowok yang lagi tengkar dengan kekasihnya, ia tidak saja berani menunjukkan titik kekhilafannya, tetapi juga mengarahkan. Berbeda sama sekali dengan “wedus gibas”, yang bisanya cuma berteriak-teriak menghardik pacarnya, tanpa menawarkan penyelesaian. Bahkan untuk sekedar memberi kerupuk si pacar, tidak mau!Huuu…Zav

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Mei 12, 2017

    […] dua artikelnya—KIU dan tanggapan untuk Mbah Takrib–, Zev membahas dua ketimpangan yang berbeda. Pertama, ketimpangan dalam hubungan antara dosen […]

  2. Mei 17, 2017

    […] paragrap tulisan Rizka ini), ada yang menuduh kejam dan pelit bahkan ngasih kerupuk saja ogah (tulisan Zav), ada yang menuduh saya seperti Ajo Sidi ditambah dengan suatu penyakit mental: denial syindrome. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.