DUH, KIU: Kesadaran itu Dari Mana?

Ilustrasi diambil dari http://www.bbc.com/news/education-34721681

Oleh, Riska*

Menyambung dari tulisan kawan yang berinisial Zav–selain mengagumi bahasanya yang renyah–, saya juga sependapat dengan apa yang ia sampaikan. Bahwasanya kalau ditarik dari rumpun persoalan manusia, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menanggapi hal ikhawal masalah yang ada.

Mahasiswa juga sejenis manusia pada umumnya. Bedanya mahasiswa dengan masyarakat biasa terletak pada pendidikan formal yang diampunya. Tapi jika mahasiswa yang dalam historianya dikatakan sebagai agent of change dan social control, tidak memiliki kesadaran intelektual. Apa bedanya dengan masyarakat yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan?

Kesadaran menjadi persoalan yang masih terus diperbincangkan. Terutama yang terjadi di tengah-tengah mahasiswa saat ini. Idealisme seorang mahasiswa, yang dulu sering digaungkan oleh angkatan-angkatan terdahulu. Sebut saja angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998. Kini hanya menjadi historia semata. Dan mahasiswa pun sudah banyak kehilangan esensinya. Seolah-olah mereka sudah ternina-bobokkan oleh dongengan-dongengan perjuangan mahasiswa zaman dulu. Saat ini, tak jarang manusia dengan sebutan mahasiswa itu sudah merasa aman dan berada pada titik zona nyamannya.

Akar rumput persoalan, terutama yang ada di kampus saat ini, bukan semata-mata pula dari kurangnya kesadaran mahasiswa. Itu juga termasuk, tapi bukan sepenuhnya. Kebijakan melalui surat Keputusan (SK) menteri pendidikan dan kebudayaan, No 0156/U/1998 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang turunannya adalah pemberlakuan Sistem Kredit Semester (SKS) yang dilegalkan dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Mengakibatkan salah satu penyebab ruang eksplorasi mahasiswa menjadi semakin sempit.

Mahasiswa, ada sebagian yang mengatakan sebagai kelas semi-borjouasi. Dalam artian disatu sisi dia sebagai eksponen agent of change, sedangkan disisi lain dia menjadi bagian dari sistem yang ada di kampus. Dilematis, pasti dirasa. Entah sebagian dari mereka atau malah seluruhnya. Menyambung persoalan yang terjadi antara realita dan idealita yang saling berbenturan dan berlawanan. Dan keduanya tidak bisa terdamaikan, jika itu adalah suatu hal yang kontradiksi.

Beranjak dari kesadaran. Untuk menumbuhkan kesadaran tiap persoanal menuju kasadaran kolektif, tidak semudah membalik telapak tangan. Mengutip filsafatnya Hegel, Realitas yang membentuk kesadaran, bukan kesadaran yang membentuk realitas.
Saya beranggapan, kesadaran personal tidak bisa tumbuh dengan ajaib (cling), jika tidak dibenturkan dengan realitas yang ada. Sedang, dibalik kesadaran palsu _seperti yang dibilang zev_ pasti ada tangan-tangan yang tak terlihat. Pun, semua itu tidak luput dari relasi kekuasaan yang sedang bergelut, dan akan terus mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan keadaan ekonomi politik yang terjadi pada negara.

Nah, bisa dibilang, tidak semua person itu memiliki kesadaran _apalagi keadaran penuh atau kritis_ kecuali analisis dan paradigma mereka sudah diasah dalam ruang-ruang alternatif mahasiswa yang ada. Semisal, disini peranan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pergerakan kampus _entah ekstra maupun intra_ sangat berperan aktif.

Berperan dalam hal penyadaran dengan strategi gerakan yang dimiliki masing masing organisasi itu tadi. Karena, mereka adalah kumpulan orang-orang yang terorganisir, maka dari itu, mereka juga mengemban tugas mengorganisasikan massa yang ada. Baik dari kesadaran massa, menuju kesadran kolektif. Untuk menuju cita-cta dan kebutuhan bersama.

Kenapa tulisan awal saya lebih menembak pada pemerintahan. Karena, secara struktur hirarki, terutama yang ada dalam negara. Keberadaannya sangat berperan dan berpengaruh. Meminjam tulisan dalam buku Pramoedya Ananta Toer, Anak Segala Bangsa, kita tidak bisa menyama ratakan anak zaman saat ini dengan anak zaman dahulu. Pola penyadarannya juga memerlukan formulasi yang baru pula, karena saat ini kita berada pada era globalisasi dengan segala kecanggihannya. Pengaruh tekhnologi ini juga sangat signifikan terhadap kesadaran tiap personal yang ada saat ini.

Jadi, relasi kekuasaan sangat lah berpengaruh. Jika ditarik dari atas ke bawah, sistem tidak bisa lepas dari laku perbuatan manusia.
Untuk mencapai suatu kesadaran bersama, masyarakat saat ini perlu disuguhkan oleh realita yang itu menjadi kebutuhan bersama. Seperti yang pernah terjadi demo 1998 (penurunan pemerintahan orde baru) semua masyarakat sangat antusias mendukung aksi tersebut. Karena pada saat itu, inflasi ekonomi dirasakan oleh semua orang, hingga berakibat pada kenaikan semboko-sembako. Yang itu menjadi keresahan bersama, dari kaum elit sampai orang kecil.

Anggap saja ini celotehan saya, terserah seperti apa tanggapannya nanti. Mungkin ini sesempit dari pengetahuan saya. Asal nyinyirannya nanti jangan buat orang jatuh bangun,hhee.

*Sudah bukan warga baru, ia juga aktif di LPM Rhetor UIN Suka.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.