Bualan Dari Toilet dan Denial Syndrom

Bualan dari toilet dan denial syndrom.

Oleh, Mbah Takrib

Ilustrasi diambil dari personalityputripuspa.files.wordpress.com

Oleh, Mbah Takrib*

Sudah, mari kita akhiri bualan Wedus Gibas soal pendidikan yang ditulis saat di toilet itu. Selain hanya kenyinyiran yang bau dan sentimentil, nyatanya ia tak pernah serius mengupas pokok masalah pendidikan itu sendiri. Dan apa yang disampaikan, tak ubahnya kotoran yang keluar ketika ia beol.

Saya lebih sefaham dengan Riska dan Zev dalam mengupas pendidikan, walau tidak sepenuhnya (baca: Aku di PHP KUI). Sebab, dua orang tersebut cukup jelas dalam bersikap, mereka juga  jeli menangkap dan memaparkan realiatis yang tidak sejalan dengan idealismenya.

Riska, anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor, telah cukup gamblang mengurai setiap masalah di lembaga pendidikan.  Menururutnya, masalah utama ada di sistem dan regulasi, yang telah terkontaminasi oleh kapitalisme. Pada tulisan selanjutnya, yang ditulis sebagai tanggapan kritik Zev, ia juga memaparkan soal kesadaran dan tanggung jawab yang harusnya melekat pada setiap mahasiswa.

Kesadaran tersebut, erat kaitanya dengan proses belajar yang ditentukan oleh sistem pendidikan. Baginya, sangat susah–atau bahkan tidak mungkin–untuk menumbuhkan kesadaran kritis di era sekarang, sebab pendidikan yang seyogyanya ditujukan untuk memanusiakan manusia itu, kini tak ubahnya ritualitas yang nir makna, identitas simbolik dan terjerat pragmatisme. Singkatnya, orang sekolah tinggi-tinggi hanya untuk mendapat pekerjaan yang layak dengan harapan meningkatkan status sosial. Ya mirip judul senitronlah, “Anak Petani Naik Pangkat Jadi Buruh Kantoran”.

Berbeda dengan Riska, Zev mengambil segmen lain dalam melihat masalah pendidikan. Mengambil contoh di UIN—maksudnya Sunan Kalijaga—tempatnya kuliyah, Zev cukup berhasil memotret ketimpangan dan masalah kesadaran. Ketimpangan itu–Zev menanggapi Riska–, tidak hanya soal akses yang disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan, tetapi juga terjadi dalam aktivitas belajar sehari-hari.  Ia melihat kampus tak ubahnya seperti pabrik  (baca: KIU (Kawasan Industri UIN)), dimana akibat superioritas pemengku kebijakan, mahasiswa justru menjadi korban dan kehilangan haknya.

Dalam dua artikelnya—KIU dan tanggapan untuk Mbah Takrib–, Zev membahas dua ketimpangan yang berbeda. Pertama, ketimpangan dalam hubungan antara dosen dan mahasisiwa. Dimana atas nama proses belajar, kadang dosen dalam meminta bantuan kepada mahasiswa untuk membantu pelaksanaan kerja mengeyampingkan hak mahasiswa. Tugas itu, dicontohkan Zev berupa pengerjaan laporan penelitian, kepanitian seminar dan pemaksaan membeli buku karya dosen. Kedua, akibat kampus mengikuti regulasi Badan Layanan Umum (BLU), komersialisasi aset kampus, kadang pemangku kebijakan mengesampingkan hak mahasiswa. Zev mencohkan kasus pelaksanaan wisuda selama ini yang jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali dilaksanakan pada hari libur, Sabtu dan Minggu, alasannya cukup jelas, sebab di hari itu biasanya gedung wisuda di sewakan untuk acara umum seperti resepsi pernikahan.

Langgengnya peminggiran hak mahasiswa dalam pendidikan di perguruan tinggi, menurut Zev, disebabkan oleh hilangnya kesadaran kritis mahasiswa itu sendiri (baca juga artikel Riska). Pasalnya, Ia melihat tak pernah ada semacam protes dari mahasiswa. Mereka justru melaksanakan itu secara sukarela dan bahkan berebut untuk mendapat simpati dari dosen.

Pemikiran keduanya soal pendidikan, bagi saya baik-baik saja dan boleh dikritisi sejauh batas normal. Normal maksudnya adalah melandasi kritik pada argumen yang rasional, dari ketidak sempurnaan pandangan dan pemikiran keduanya. Bukan nyinyir membabibuta, menulis sajak pesakitan sebanyak 570 kata yang isinya bualan kosong dari sesak bau toilet.

Wedos Gibas, Si Pemaido Pesakitan

Membaca tulisan Wedos Gibas berjudul “Saol Pendidikan dan Catatan dari Toilet”—saya sarankan tidak usah dibaca–, memengingatkan saya pada tokoh pembual bernama Ajo Sidi dalam cerpen AA Nafis “Robohnya Surai Kami”. Dalam cerpen itu, Ajo Sidi adalah tokoh antagonis yang kesehariannya membual dari lapao-kelapao (warung dalam bahasa Padang), diceritakan: suatu hari Ajo Sidi bercerita—tepatnya membual–pada seorang kakek penjaga surau (mushola/langgar) tentang cerita seorang Haji bernama Sholeh yang rajin beribadah tetapi masuk neraka. Singkat cerita, setelah mendengar bualan Ajo Sidi, sang kakek baper dan memutuskan untuk bunuh diri–saya harap Zev dan Riska tidak memutuskan hal demikian, atas bualan Wedos Gibas.

Lulu apa hubungannya Ajo Sidi dengan Widos Gibas? Iya, keduanya adalah sama-sama pembual, bedanya bualan Ajo Sidi lebih berkualitas, itu saja.

Membual dalam kamus besar bahasa Tuban dekat artinya dengan maido. Suatu tindakan mencemoh orang lain tanpa didasari pada logika rasioal dan hanya bertumpu pada ego semata. Kegiatan membual tidak ditujukan sebagai upaya konstruktif, melainkan bentuk dekontruksi moral dan mental.

Orang dengan kebiasaan menbual berlebihan dibarengi dengan penyangkalan, laiknya Wedos Gibas, sesungguhnya dekat dengan penyakit mental yang populer disebut Denial. Suatu penyakit  yang dengan kuat menyangkal, menolak serta tak mau melihat fakta-fakta menyakitkan yang tak sejalan dengan keyakinan, pengharapan dan pandangannya. Orang dengan gejala seperti itu, bisa dikatan sedang berada dalam sikon “in denial” terkurung dalam denialism.

Dalam kajian psykoanalisis, denial adalah bagian dari mekanisme pertahanan ego. Sedang ego dalam setruktur kepribadian, menerut Freud, sebangun dengan adanya  id dan superego. Ego berfungsi menjembatani id dan superego. Karena konflik antar keduannya telah menimbulkan kecemasan. Untuk itulah ego memiliki mekanisme pertahanan (defends mechanism.

Ada banyak bentuk mekanisme pertahanan ego, salah satunya adalah denial. Denial syndrom atau sindrom penolakan, dapat kita lihat gejalanya pada pembual bernama pena Wedos Gibas. Ia berusaha melakukan penolakan dan pengingkaran terhadapa segala bentuk penjelasan atas kritik sosial yang dikemukakan Zev dan Riska. Namun penolakannya itu, tidak didasari dengan penjelasan lain yang bisa diterima nalar. Ia hanya melempar cacian nyinyir dan tidak menjelaskan apapun atas kenyinyiran tersebut.

Terakhir, mari kita terima kenyinyiran Wedos Gibas sebatas pemakluman atas pesakitan psikis yang ia alami. Alfatihah…..

Yogyakarta, 13 Mei 2017

*Seorang yang sedang berempati pada Wedos Gibas

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 21, 2017

    […] yang menuduh kejam dan pelit bahkan ngasih kerupuk saja ogah (tulisan Zav), ada yang menuduh saya seperti Ajo Sidi ditambah dengan suatu penyakit mental: denial syindrome. Wow. Tentu saja tidak marah dengan tuduhan-tuduhan itu. Itu sepele. Saya hanya kasihan. Dan sebab […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.