Al-Quran sebagai Basis “Literasi Agama”

tubanjogja.org – Al-Quran

Al-Quran

Ilustrasi diambil dari http://print.kompas.com

Oleh: Muhammad Saifullah*

Baru mau memulai karangan ini, sekonyong-konyong saya teringat secerita dari negeri seberang. Begini kisahnya, konon ada seorang lelaki, tidak tua, tidak juga muda, menjumpai seorang kakek yang tinggal di pinggiran desa. Ia menemuinya untuk meminta kebijaksanaan, selepas beberapa hari sebelumnya dirasa ada yang hilang dari dirinya.

“Kakek, mbok aku ini dinasihatin!” Kata si lelaki.

“Mau nasihat yang seperti apa lagi, Nak?”

“Yang sekiranya bisa membuatku semacam tidak lekas marah-marah gitu, Kek. Atau yang dengan itu, pikiranku bisa menjadi seperti air danau, tenang.”

“Oalah, gampang itu nak. Jadi gini, mulai sekarang, sebelum sampean melakukan apa pun yang bagimu penting, jangan langsung melakukannya! Kamu harus berjalan ke depan tiga langkah dulu, setelah itu mundur tiga langkah lagi, dan baru kamu eksekusi. Begitu ya!”

“Cuma itu, kek?”

“Iya nak!”

Setelah merasa cukup, si lelaki pamit pulang. Di benaknya sudah terbayang, ia akan bercerita dengan istrinya soal kejadian-kejadian seru hari ini, termasuk nasehat si kakek yang menggemaskan.

Akan tetapi, belum juga bertemu istrinya, ia harus marah-marah luar biasa. Pasalnya, ketika sampai di depan rumah, ia mendapati ada sepasang sandal tak dikenal berserakan di depan pintu. “Sandal siapa ini!” gerutunya. Ia tampak menafsirkan aneh-aneh, dan kemudian bergegas masuk rumah dengan kepala mendidih. Ia melewati dapur, mengambil pisau seadanya, dan menuju kamar.

Dalam kamar, ternyata benar. Istrinya tidak tidur sendirian. Di sampingnya ada orang lain yang sengaja membungkus tubuhnya dengan selimut. Benaknya pun langsung tak karuan. Dan tanpa sepatah kata, ia langsung menuju ranjang sembari bersiap menusukkan pisau ke tubuh samping istrinya yang sudah lelap. Tetapi, tepat sesaat sebelum benar-benar mengayunkannya, ia tiba-tiba ingat kata-kata si kakek, “maju tiga langkah, mundur tiga langkah!”

Entah ada angin apa, ia mau saja melakukan percis seperti saran si kakek. Tiga langkah ia maju, tiga langkah mundur, dan saat ingin melangkahkan kakinya ke depan lagi, tiba-tiba ada suara ranjang mengernyit. Istrinya terbangun! Tidak lama setelah itu, sosok di samping istrinya juga terjaga. Dan rupanya, seorang yang tidur di sebelah istrinya adalah adek perempuan bungsunya sendiri. Spontan, si lelaki memegang dadanya sambil mendesah, “Untungnya! Terima kasih, kek.”

Itu adalah kisah yang sering diangkat dalam tradisi Zen Budhisme. Terlepas dari sahih tidaknya, saya menengarai sekurangnya dua poin di situ yang menarik untuk dijabarkan lebih jauh menyangkut kondisi keislaman Muslim Indonesia. Adalah “pengetahuan” dan “hal yang remeh”. Artinya, secara umum, kita bisa melihat betapa manusia hari ini kerap mengabaikan hal-hal yang remeh sembari menafsirkan dirinya sebagai “yang paling benar”, sehingga ketika melihat liyan masih memiliki kebenaran saja, ia gerah!

Fathorrahman Ghufron, dalam tulisannya, “Menumbuhkan Literasi Agama”, menyebut bahwa jalan efektif untuk mengurangi sikap intoleran adalah dengan mengadakan gerakan melek agama, religion literacy (Kompas, 12 April 2017). Ini, kata Ghufron, berdasarkan asumsi bahwa biang kerok dari menjamurnya gerakan intoleransi berlabuh pada dangkalnya pemahaman agama kebanyakan Muslim. Jika di level pemahaman sudah matang, tentu intoleransi bisa terkurangi. Lalu, bagaimana model gerakan melek agama tersebut? Ia meliputi tiga hal, yakni melek agama sendiri, melek agama liyan, dan melek soal kelahiran sekaligus perkembangan setiap agama.

Merespons itu, saya kira ada satu hal yang dilewatkan Ghufron, yaitu kesadaran. Kesadaran untuk melek, literacy awareness. Seindah serta sesederhana apa pun rumusannya, tetapi partner (masyarakat) yang diajak untuk bergerak tidak sadar kalau itu penting, maka hasilnya sama saja. Kesadaran merupakan lapis awal di balik keberhasilan segala bentuk pergerakan, percis kala Abu Bakar dulu memercayai Nabi selepas ia tersadarkan oleh keutuhan perilaku Nabi padanya.

Berpijak pada kalimat indah Jamal al-Banna bahwa sejatinya yang Muslim butuhkan untuk bergerak cukuplah suara teks (Evolusi Tafsir, 2004), maka hal paling awal yang harus dilakukan soal ini adalah bagaimana masyarakat memahami jika al-Quran menganjurkan siapa pun untuk mencintai pengetahuan, seremeh apa pun itu. Mereka wajib untuk melakukan apa itu yang disebut oleh Khaled Abou el-Fadl—dalam salah satu khutbah Jumatnya—sebagai engineering of mind, menjadikan pikiran sebagai mesin yang selalu bergerak. Pun, secara bersamaan, saya pikir penyadaran ini bisa kita mulai dari khutbah Jumat.

Al-Quran sebagai Alat Picu

Sebelum beranjak menuju level praktik, sekurangnya ada tiga ayat yang bisa dipakai sebagai basis untuk menggerakkan Muslim guna mencintai pengetahuan (literacy). Artinya, kita bisa menafsirkan ayat-ayat tersebut ke arah tertentu yang dengannya mereka bisa dekat dengan literasi, percis seperti para Muslimat hari ini yang sungguh menggandrungi kerudung, selepas mendengarkan pemahaman beberapa ayat mengenai kepentingan memakainya. Tiga itu adalah al-Mujadalah (58): 11, Ali Imran (3): 18, dan al-Zumar (39): 9.

 

Al-Mujadalah (58): 11

Imam Baidlawi, dalam tafsirnya Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, menengarai dua hal yang penting untuk diperhatikan di sini. Adalah menghargai pendapat (kebenaran) liyan dan sinergi antara ilmu dan kebiasaan. Pertama bisa dipahami sebagai himbauan kepada kita untuk tidak gampang menyela pembicaraan dalam sebuah diskusi, tidak main gawai sendiri saat teman lagi bercerita, dan sebagainya. Kenyataan jika semua itu tidak menyiratkan adanya sikap tawassu’, lapang, merupakan salah satu alasan mengapa demikian. Artinya, soal interaksi dengan liyan, apalagi menyangkut keilmuan, kita penting untuk tidak merasa “sudah bisa” atau “paling benar sendiri”. Ini, lanjut Baidlawi, kalau dilakukan secara istikamah akan berdampak pada peningkatan daya literasi kita atas apa pun, termasuk agama. Ia menyebut, fima turiduna al-tafassuha fihi min al-makan wa al-rizq wa al-sadr wa gairiha.

Adapun kedua soal peningkatan kualitas diri. Untuk menumbuhkan integritas diri, tegas Baidlawi, langkah paling awal yang penting kita lakukan adalah memiliki ilmu, dan baru setelah itu mengimbanginya dengan praktik keseharian secara perlahan. Soal ini Baidlawi memang tampak nyaman dengan fokus pada perkara keseimbangan antara peningkatan keilmuan dengan praktik. Akan tetapi, saya kira—apalagi untuk konteks Muslim hari ini—peningkatan pengetahuan harus lebih diutamakan. Alasannya, sikap (gerakan) yang muncul mereka dengan peningkatan keilmuan lebih rendah ketimbang praktiknya jauh lebih membahayakan ketimbang sebaliknya. Dengan ungkapan lain, utu al-‘ilm, memiliki ilmu, harus diperhatikan lebih dulu, nembe berpikir bagaimana membumikannya dalam keseharian.

Ali Imran (3): 18

Selanjutnya, bukti lain betapa al-Quran kerap merangsang kita mencintai pengetahuan, bisa kita jumpai pada Ali Imran (3): 18. Lewat ayat tersebut, Imam Baidlawi sampai pada kesimpulan bahwa para “pecinta ilmu” memiliki posisi sama dengan malaikat sebagai yang paling mengerti semesta setelah Tuhan. Jika malaikat mendapatkannya karena ketetapan, iqrar, maka pecinta ilmu karena keyakinan dan nalarnya. Mereka meyakini, memikirkannya, dan kemudian memahaminya. Mereka mendapatkan posisi tertentu, karena cintanya terhadap pengetahuan.

Apa maksud dari nalar di situ? Berpikir soal diri sendiri. Artinya, secara tersirat ayat tersebut bukan saja berbicara soal penegasan seputar monoteisme (keesaan Tuhan), tetapi juga anjuran untuk mengenali diri sendiri. Kenapa harus diri sendiri? Sebab untuk mengenali Tuhan, siapa pun harus selesai dengan diri sendiri—selepas itu lingkungan (semesta), nembe Tuhan. Dan secara bersamaan, ketika seseorang berani memulai ini, ia bisa disebut usai mendapati titik kesadarannya atas pengetahuan.

 

Al-Zumar (39): 9

Ketimbang dua ayat di atas, mungkin ini yang lebih mencolok bagaimana Tuhan mengandaikan Muslim untuk mencintai pengetahuan. Dilihat dari redaksinya saja, siapa saja bisa memahami betapa antara mereka yang mengetahui dengan yang tidak jauh berbeda. Pertama tentu bisa mengontrol dirinya sesuai narasi bikinannya sendiri, sedangkan kedua jelas kesulitan harus ikut pada siapakah dirinya—kalau toh ia berhasil mengontrol diri, niscaya itu bukan atas narasi bikinannya, tetapi buatan orang lain. Artinya, berbicara soal tindakan, sikap, cara menyelesaikan masalah, dan sejenisnya, sesungguhnya kita tengah berdiskusi perkara pengetahuan: semakin banyak yang diketahui, semakin terkontrol tindakannya, begitu juga sebaliknya.

Mengenai ini, Imam Baidlawi menyebut begini, nafyun li al-istiwa’ al-fariqaini bi I’itibar al-quwwah al-‘ilmiyyah ba’da nafyihi bi i’tibar al-quwwah al-‘amaliyyah. Perbedaan keduanya, bukan saja di level pengetahuan, tetapi juka sikapnya terhadap liyah. Atau, lanjut Baidlawi, boleh juga disebut bahwa untuk mengetahui seberapa dangkal literasi seseorang, kita bisa mengamatinya dari perilaku kesehariannya. Nuansa ketegasan untuk memiliki pengetahuan sungguhlah terasa: Hal yastawi alladzina ya’lamuna walladzina la ya’lamun?

 

Titik Cumbu

Sebentar saja membaca al-Quran, pasti kita akan segera menyadari jika ada yang missed pada kebiasaan Muslim hari ini. Bagaimana tidak, dalam kitab sucinya usai tertulis ceto betapa mereka dianjurkan untuk memiliki pengetahuan sehingga bisa menciptakan narasinya sendiri, tetapi pada realitasnya masih sedikit yang menyadari itu. Banyak dari Muslim, sebagaimana ditulis Ghufron di atas, lebih memilih untuk melakukan apa saja hasil narasi liyan, dan di waktu yang sama jelas itu membuktikan betapa mereka enggan untuk mengoptimalkan nalar dan perasaannya.

Dari sekurangnya tiga ayat di atas, seyogyanya kita bisa lebih meresapi jika yang menjadi keinginan Tuhan—jika boleh mengandaikan—bukanlah soal salih vertikal saja, tetapi juga salih horizontal (sosial). Dan untuk menjadi yang kedua, memiliki ilmu (alim) adalah harga mati. Pun, idealnya dalam menyongsong kondisi salih vertikal, ilmu juga mutlak dibutuhkan, sehingga sampai di sini, saya pikir tiada alasan yang lebih masuk akal lagi bagi kita untuk tidak menyadari betapa al-Quran mewajibkan kita “berpengetahuan”.

Alhasil, jika kita benturkan dengan cerita di awal tadi, ukuran bagi mereka yang usai menyadari pentingnya ilmu adalah dengan tidak meremehkan sekecil apa pun kebijaksanaan. Sebab yang bagi kita kecil hari ini, belum tentu kecil juga buat besok (Yusuf [12]: 76). Dan saya pikir, saat kita telah selesai di sini—level kesadaran—maka untuk urusan bagaimana Muslim harus melek agama, mulai dari agama sendiri, liyan, sampai akar kesejarahan keduanya, tentu akan lebih mudah diwujudkan. Paling tidak, mereka tidak merasa kesusahan, bahkan menikmati setiap proses dari literasi agama tersebut, mengetahui memahami ketiganya tidaklah gampang.

*Alumnus Tafsir Hadis

Institut Keislaman Abdullah Faqih

(INKAFA) 2013

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.