Ziarah ke Kurdistan (Bagian 1)

Kurdistan – Daripada ribut terus soal hubbul wathon, industrialisasi ekstraktif, atau ekstrimisme, yang membuat fikiran kita jadi panas tapi tak jelas ujungnya, alangkah baiknya kita rekreasi sejenak. Kali ini mari kita berziarah ke Kurdistan. Tahan dulu pertanyaan saudara ya. Mari kita beranjak saja.

Pintu memasuki Kurdistan, di sini namanya adalah Barzanji. Suatu kitab kedua yang paling terkenal (dan paling dekat) bagi masyarakat muslim Nusantara (khususnya Jawa) setelah Alquran.[1] Ia sering dibaca bersama dalam berbagai peringatan, seperti tingkeban, aqiqah, khitanan (potong titit), mantenan, maulidan, atau bahkan acara mingguan di langgar atau di masjid. Ada yang belum kenal? Biar saya sunati pok. Tapi (tahukah kita), opo sih sejatine kitab Barzanji kuwi?

Perempuan Kurdistan

Pasukan perempuan Kurdi adalah pasukan yang paling ditakuti ISIS. Di banyak pertempuran, ISIS berhasil dipukul mundur oleh mereka. Foto ini diambil dari https://sputniknews.com/middleeast/201512171031870319-kurdish-women/

Barzanji dan Kurdistan

Barzanji adalah suatu karya pemenang sayembara yang diadakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan Islam dalam Perang Salib. Belajar dari tradisi perayaan Natal dalam Kristen, Al-Ayyubi memakai Barzanji untuk memompa semangat para prajurit dengan mengingat kembali kisah perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam perayaan Maulid Nabi. Karya tulis ini sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, namun kemudian malah terkenal dengan sebutan Al-Barzanji. Dan benar, setelah perayaan Maulid Nabi diadakan dengan gemuruh pembacaan Al-Barzanji serta penghayatan yang mendalam atasnya, pasukan Islam kemudian mampu merebut kembali Yerussalem dari tangan bangsa Eropa pada tahun 1187.

Adapun pengarang kitab Barzanji yaitu Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad Al-Barzanji (1690-1766). Al-Barzanji adalah nama desa “Barzinja”, suatu desa tempat pengarang dilahirkan. Letak desa Barzinja ada di Kurdistan. Kurdistan adalah suatu wilayah yang terdiri dari gugusan bukit-bukit, yang tempat tinggal bangsa Kurdi. Bangsa Kurdi adalah suatu bangsa terbesar keempat di Timur Tengah setelah Arab, Turki, dan Persia. Mata pencaharian bangsa Kurdi adalah bertani dan beternak, saat ini sebagian nomaden, dengan kesukuan (ashobiyah) yang cukup kental. Dulunya Kurdistan merupakan bagian dari kerajaan Turki Usmani, tapi kini terbagi menjadi (setidaknya) empat negara, pojokan Turki, pojokan Suriah, pojokan Irak, dan pojokan Iran. Di semua negara tersebut bangsa Kurdi menjadi minoritas dan dicurigai sebab punya kecenderungan memberontak. Maklum, bangsa Kurdi masih ingin mendirikan negara Kurdistan yang sampai saat ini belum kesampaian.

Tariqat, Kurdistan dan Nusantara

Pintu selanjutnya adalah Tariqat. Adalah tariqat Qadiriyah, kemudian Naqsabandiyah, yang sangat berkembang pesat di Kurdistan. Dalam tariqat, satu sama lain sesama anggota adalah famili. Oleh sebab itu di Kurdistan, tariqat berfungsi efektif sebagai penjahit dari perpecahan antar suku/kabilah bangsa Kurdi. Mirip di Nusantara, dimana tariqat-tariqat menjadi penjahit lintas kerajaan/kesultanan di zaman kolonial.

Adapun persinggungan ulama Nusantara dengan Kurdi berlangsung Madinah. Saat itu ulama Nusantara abad XVII banyak yang berguru kepada salah satu ulama Kurdi terkemuka, Ibrahim Ibn Hasan Al-Kurani (1615-1690) di Madinah. Dia merupakan guru tarekat yang memegang ijazah dari berbagai tarekat sekaligus: Syatariyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Cistiyah. Dua ulama Nusantara tercatat menjadi santrinya di Madinah, ‘Abd Al Ra’uf al Sinkili (1620-1695) dan Muhammad Yusuf al Maqassari (1627-1699).

Kemudian Abad XIX, Ahmad Khatib as Sambasi (w. 1878) belajar dan menjadi guru sampai akhir hidupnya di Mekkah. Beliaulah yang menulis kitab tasawuf yang hebat Fathul ‘Arifin. Beliau juga yang menggabungkan dua tarekat sekaligus dengan mendirikan tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang mendapatkan sambutan massif di Indonesia mulai pertengahan Abad XIX. Khatib Sambas adalah penentang sengit atas kecenderungan wahabisme, puritanisme dan pelarangan tarekat serta membendung arus kecenderungan tersebut masuk Nusantara. Kiai Nawawi al Bantani (1813-1897) yang di atas disebut sebagai pensyarah Kitab Al Barzanji, merupakan salah satu santri terbaiknya di Mekkah. Artinya, selain penyebaran ajaran Islam itu lewat para saudagar muslim Gujarat, atau lewat lasykar-lasykar China, atau langsung dari Hadramaut, bangsa Kurdi juga punya andil yang cukup berarti bagi penyebaran sekaligus pembentukan warna-warninya Islam di Nusantara.

Martin van Bruneissen, berpendapat bahwa kedekatan muslim di Asia Tenggara dengan Kurdistan adalah dari kesamaan madzhab yang diikuti, yakni sesama pengikut Syafii. Tapi menurut saya, ada sesuatu yang terlupakan, yaitu bahwa kedekatan itu juga disebabkan kemiripan asal, maksudnya kita (selain orang perkotaan pesisir), punya kesamaan dengan orang Kurdi adalah sama-sama orang udik/pinggiran/gunung, sesama penggembala kambing atau sapi, sesama petani. Maka wajar jika kemudian klop.

Selain sebagai penjahit persatuan, tariqat di Kurdistan juga punya andil dalam berbagai pemberontakan. Misalnya pemberontakan di Kurdistan Iran pada 1880 yang dipimpin oleh Ubaidillah dari Syamdinan (tariqat Naqsabandiyah). Hal tersebut tentu mengingatkan saya pada pemberontakan di Banten (1888) yang diorganisir oleh beberapa tariqat seperti Qadiriyah dan Naqsabandiyah dalam melawan kesewenangan kolonial Hindia-Belanda.

Kurdistan Saat Ini

Cita-cita bangsa Kurdi dalam mendirikan negara Kurdistan atau Kurdi Raya masih dalam perjuangan. Wilayah Kurdistan yang terpecah-pecah jadi empat negara akibat perjanjian Sykes-Pycott (1923),[2] tentu sangat menyulitkan persatuan untuk mendirikan suatu negara. Sehingga, suatu cerita klasik “Mem dan Zin”[3], oleh pejuang nasionalis Kurdi dijadikan suatu ibarat bahwa Kurdi memang tak bakal bisa meraih Kurdistan.

Di Turki, bangsa Kurdi masih menjalankan tuntutan kemerdekaan sebagaimana digawangi oleh PKK (Partai Pekerja Kurdistan). Perjuangan mereka saat ini mendapat represi dari rezim Turki, Erdogan. PKK dicap sebagai organisasi teroris oleh rezim. Terakhir, perang melawan ISIS dijadikan dalih bagi Erdogan untuk memerangi PKK.

Di Iran, pernah didirikan Republik Mahabad oleh orang Kurdi bernama Mustafa Barzani, tapi dalam waktu singkat republik itu digusur oleh pasukan Syah Reza Pahlevi. Di Irak, bangsa Kurdi mendapat represi yang hebat oleh rezim Saddam Husain. Hingga ketika Saddam terjungkal, Kurdistan di Irak menjadi wilayah otonom. Begitu juga di Suriah, seiring hadirnya ISIS, Kurdi punya posisi tawar yang bagus. Apalagi pasukan Kurdi terkenal sangat hebat dalam memukul mundur ISIS, baik Kurdi Suriah (Rojava) atau Irak.

Terakhir, dibalik kegagalan demi kegagalan itu, berkat kegigihannya, saat ini bangsa Kurdi semakin dikenal dunia internasional. Selain soal memerangi ISIS, banyaknya percobaan-percobaan dalam tata sosial-politik mutakhir menjadi inspirasi baru bagi dunia.[]

Yogyakarta, 08 Mei 2017

Taufiq Ahmad

Baca juga artikel lain yang berkaitan.

[1] Baca karya Martin van Bruneissen “Kurdish `Ulama and their Indonesian Disciples” yang dipublikasikan di http://www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/publications/Kurdish_ulama_Indonesia.htm

[2] Perjanjian Sykes-Picot (1916) adalah perjanjian rahasia antara Inggris dengan Perancis dalam membagi-bagi wilayah Turki Usmani sambil menunggu kejatuhan kesultanan Turki dalam perang dunia pertama. Sejak saat itulah, ketika Turki Usmani benar-benar jatuh, wilayah Kurdistan terbagi menjadi bagian dari empat negara: Turki, Iran, Irak dan Suriah.

[3] Cerita Mim dan Zin adalah cerita rakyat (folklore) yang legendaris bagi bangsa Kurdi. Diambil dari kisah nyata tentang percintaan antara pemuda kelas bawah dengan seorang putri istana yang berakhir tragis sebab berbagai rintangan yang malah membuat mereka terpisah, Mim di penjara dan Zin dikurung di istana. Namun, keduanya kemudian menemukan penyatuannya ketika sama-sama menemukan jalan cinta pada Tuhan: meninggal dunia. Kisah ini dituturkan secara lisan secara turun-temurun hingga seorang pujangga sufi bernama Ahmad Al-Khani menulis cerita itu dalam bentuk syair pada 1692. Terakhir, dari sajak Al-Khani seorang ulama terkenal Kurdi Suriah, yakni Syekh Said Ramadhan Al-Buthi menuliskannya dalam bentuk novel (1957). Adapun makam Mim dan Zin terletak di Cizre, dan saat ini sering diziarahi banyak orang.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.