Telikungan Gang Ndasen

Ilustrasi lukisan karya Mahud Bagek.

Oleh, Mbah Takrib*

Segalanya telah berubah, bagiku juga bagimu

Benar, perubahan adalah hal yang pasti, entah karena takdir Tuhan atau hukum alam.  Kini, kita telah berada jauh melampaui setapak harapan yang pernah kita pijak. Berkatmu Lin, kini aku menjadi manusia yang lebih kuat. Dan tak larut dalam kenangan dimasa lalu, kuharap kaupun begitu, bangkit dan menjadi manusia yang lebih baik.

Malam ini aku berjanji, akan kuhapus masa lalu itu dan memulai masa baru. Aku tau, tempat inilah yang membuatmu berjibaku dengan penderitaan di sepanjang malam, tersayat-sayat dan menahan perih dari luka yang ditanam oleh para bajingan. Mungkin saja termasuk diriku.

Tapi tidak, Lin. Kau juga tau, dulu aku sering menyempatkan datang kesini adalah sebab aku sayang padamu. Dan rupanya kau pun begitu. Namun tentu saja kau juga mengerti posisiku, aku adalah seorang petugas yang harus melaksakan kebijakan pemerintah dan kadang harus meninggalkanmu. Seperti saat ini, pemerintah kita sudah berubah. Akan ada kebijakan baru membangun daerah tanpa prostitusi.

Aku tidak tau apa kau bahagia atau tidak mendengar kabar ini. Tapi baiknya, ini adalah tugas kenaikan pangkatku sekaligus sebagai penanggung jawab pembebasan daerah dari prostitusi. Tentu, agar esok tidak akan ada Lin-lin muda yang hidupnya menjajakan diri di jalan-jalan, tidak akan ada Lin yang melambaiakan tangan dan berpakaian ketat di tengah malam menahan dingin angin malam. Lin, yang haknya dirampas keadaan.

***

Seperti biasa, di tempat ini banyak kudapati perempuan di sepanjang jalan, menebar senyum dan ramah pada setiap mereka yang lewat, sepertimu dulu. Tapi tenanglah Lin, akan segera kuhapus goresan bibir yang memilukan itu. Menggantinya dengan harapan hidup di hari esok yang lebih baik, kehidupan normal yang menyenangkan, bekerja di siang hari dan tidur di malam hari. Sebagaimana yang telah dicanangkan oleh pemerintah, membangun masyarakat religius yang harmonis.

Ah sudahlah, toh pasti sekarang kamu sudah bahagia dengan pasangan hidupmu. Dan baiknya, biar segera kuselesaikan tugas ini, doakan aku.

Segera kuperintahkan beberapa barisan menyergap para perempuan yang mangkal di sepanjang jalan. Teriakan dan jeritan terdengar dimana-mana. Orang-orang lari tunggang-langgang menghindari kejaran kami, bermaksud hendak menyelamatkan diri.

***

Malam kian dingin, saat aku merasa ada yang berbeda. Kulihat seorang perempuan berdiri tepat di seberang jalan, ia diam di kegelapan. Ketika hendak kuperintahkan salah seorang dari anggota tim menjemputnya, ia justru berjalan pelan menghampiri kami. Aku heran, ini sungguh aneh.

Dari remang-remang jalan kota, perempuan paruhbaya itu, nampak ragu menghampiri kami.

“Harmoko” Suaranya terdengar lirih, memanggilku.

Semakin dekat, ketika lampu mobil menyorot wajahnya, kulihat raut muka penuh haru, menatapku. Iya, wajah itu tak asing, dia adalah Ruslina, perempuan yang pernah kucintai di tempat ini.

Dadaku berdebar kencang, kini ia telah berada di depanku. Sekilas, bayangannya hadir dari masa lalu, juga tentang perasaanku saat ini.

Waktu terasa berjalan lambat, kami terdiam saling memandang. Rasanya banyak sekali yang ingin kusampaiakan dan tanyakan padanya, tapi tak sepatah katapun bibir ini dapat berucap, kecuali getar tubuhku telah berbicara dengan bahasa yang jujur.

“Pak, apa bapak kenal perempuan ini?”. Tanya Sutomo, salah seorang bawahanku, menyela pertemuan kami yang sunyi.

“Iya, kenal”. Jawabku singkat, “Tolong tinggalkan kami”. Pintaku.

“Baiklah pak”. Sutomo dan yang lain beranjak pergi.

Kuhela nafas dalam-dalam dan kusandarkan tubuhku pada pintu mobil, berharap bahwa pertemuan ini hanya mimpi. Dan belum sempat kukatakan apapun, Lin memulai percakapan lebih dulu dengan menanyakan kabar.

“Bagaimana kabarmu dan keluargamu, mas?”, tanya Lin pelan, aku tau diapun pasti merasakan hal yang sama dengangku.

“Baaik Lin” Jawabku terbata, “Kamu masih disini?” Tanyaku.

“Iya mas, mau kemana lagi? jalanan ini adalah hidupku dan aku menunggumu. Semenjak kepergianmu apalagi harapan terpenting dalam hidupku ini, selain penantian. Berharap kau datang dengan kabar baik, dan kamu tau, malam ini doaku telah terjawab”.

Baru ku fikirkan jawaban untuknya, Lin melanjutkan. Seolah memang banyak hal yang ingin ia sampaikan.

“Oya mas, kamu terlihat gagah dengan seragam berpangkat. Perutmu yang semikin buncit juga terlihat lucu, hehehehe”.

Ungkap Lin sembari bergurau, ia memang perempuan yang pandai menyembunyikan kenyataan juga mengontrol keadaan. Sekarang suasana tak lagi tegang, tawanya yang terdengar riang itu, memecah rasa takut yang mengganjal dalam ingatan.

“Maafkan aku Lin, bukan maksudku meninggalkanmu. Kau juga tau, aku tak kuasa memenui harapan kedua orang tuamu. Saat kudengar ada lelaki yang juga mencintaimu, kuputuskan untuk meninggalkanmu dan sungguh itu demi kebaikianmu”

“Tapi mas, tidakkah kamu tau persaanku? Tidak ada lelaki lain yang bisa kupercaya selain dirimu. Lelaki itu, tak pernah serius padaku, dia cuma pelanggan biasa, tak ada yang istimewa”

Jawaban Lin, membuatku tak mampu berkata apa-apa.

Yogyakarta, 03 Januari 2017

Baca juga, Cerita dari Gang Ndasen dan Sebrang Gang Ndasen

*Penulis aktif di sanggar sastra Tinta Merah.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.