Masih Soal Hubbul Wathon

tubanjogja.org – Hubbul Wathon

Hubbul Wathon

Oleh Taufiq Ahmad

Secara pribadi, tentu saja saya senang bahwa tulisan saya itu ditanggapi secara apik oleh kawan Ahmad Saifullah. Saya tidak menuduh Saifullah tidak paham gagasan saya. Hanya saja sepertinya memang perlu suatu penjelasan atas gagasan yang saya tulis itu secara lebih sederhana dan jelas.

Dari tanggapan itu, setidaknya ada lima hal yang saya pikir perlu saya nyatakan.

  1. Bahwa hubbul wathon dalam sejarah Nahdliyin dilaksanakan dengan melawan kolonialisme dan sekaligus penolakan atas paham salafi/wahabi dalam satu tarikan nafas. Kolonialisme dilawan sebab membuat pribumi melarat, sengsara dan terhina. Sementara salafi/wahabi ditolak sebab mencerabut warga dari tanah airnya dan memecah belah persatuan umat. Dalam melawan kolonialisme, ada beberapa cara sesuai konteks masing-masing. Misalnya dengan memperkuat serikat dagang pribumi (dalam Nahdlatut Tujjar), dan jihad dalam bentuk perang menghadang penjajah yang hendak kembali menguasai NKRI yang baru berdiri. Sementara penolakan terhadap salafi/wahabi adalah pembentukan Komite Hijaz menjadi embrio kelahiran NU sendiri sebagai organisasi (jam’iyah) pada 1926.
  2. Melawan salafi/wahabi atau sekarang HTI, FPI, JI, MTA atau pendeknya yang dianggap sebagai pengusung ekstrimisme tidak bisa hanya dengan suatu penyadaran terhadap warga NU bahwa mereka membahayakan NKRI. Tidak bisa juga hanya dengan menekan atau menyudutkan ekstrimis belaka dengan alasan bahwa mereka tidak hubbul wathon. Kesadaran itu disituasikan oleh keadaan. Ketika keadaan warga Nahdliyin terhimpit secara ekonomi, terlemahkan secara politik, sementara elit-elit NU malah datang dengan ceramah-ceramah dalam pengajian atau seminar penyadaran tentang bahaya ekstrimisme wahabi/salafi, saya yakin hal itu hanya akan jadi angin lalu atau dalam bahasa kawan Mbah Takrib hal itu hanya akan “menguap di pagi yang dingin.”
  3. Sederhananya, untuk menghambat suburnya ekstrimisme, NU harus hadir bagi warganya yang melarat dan termelaratkan. Ketika warga Nahdliyin yang petani hendak kehilangan sawahnya, NU harus hadir. Begitu pula terhadap kesejahteraan buruh, atau para pedagang kaki lima, atau sektor kerakyatan yang lain. Ketidakhadiran NU dalam hal demikian, artinya NU tak lagi mampu menjadi solusi bagi kehidupan umat. Nah, apalagi jika mereka tahu bahwa sebagian elit-elit NU sendiri malah berselingkuh dengan pemodal dalam merusak tanah air dan menggusur lahan mereka. Adalah sangat mudah bagi warga terdampak yang kemudian mempertanyakan untuk apa ber-NU dan ber-hubbul wathon?
  4. Su’udhon adalah soal moral. Sementara kritis adalah soal pemikiran. Dan sejauh ini alasan moral memang terlalu sering dijadikan alat bagi penguasa untuk membungkam tumbuhnya pemikiran kritis. Dalam tulisan itu, sesungguhnya saya tidak ingin kritis, tapi sekedar menyampaikan apa yang menurut saya perlu saya sampaikan apa-adanya. Artinya, dalam konteks adanya oknum yang bekerjasama dengan investor dalam mengeruk kekayaan alam kita, bagi saya itu saya namai sebagai kelas penghisap (leissure class). Dan kelas penghisap itu mengkhianati tanah air yang seharusnya ia cintai untuk kepentingan dirinya. Soal ia mendirikan banyak yayasan dan menyumbang banyak orang (hijau), saya memang tidak tahu. Tapi di dunia ini kita juga banyak menemui (minimal dalam cerita) tentang para perampok yang dermawan. Ia membagikan hasil rampokannya untuk keluarga dan kawan-kawan sekelilingnya agar posisinya aman. Selain bagi-bagi lapak itu biasanya, untuk mempertahankan posisi mantabnya di mata rakyat, suatu kesalehan-kesalehan relijius secara simbolik akan dimeriahkan. Contohnya adalah hiasan kaligrafi atau Asmaul Husna yang tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan rakyat. Jangan mudah tertipu. Sebab agama memang terlalu sering dijadikan alat untuk menipu.
  5. Terakhir, melihat keadaan itu, tentu saja kita tidak bisa serta-merta menyalahkan penguasa, atau apalagi oknum ini dan itu. Bagaimanapun mereka itu adalah saudara kita, hanya saja sedang tersesat. Tugas kita hanya mengingatkan. Bahwa menjadi penguasa tugas utamanya adalah menegakkan keadilan dan menumbuhkan kemakmuran bagi warganya. Jika rupanya ternyata banyak sekali penguasa itu yang malah menjadi cecunguk dari pemodal asing, artinya sedang tersesat. Ketersesatan penguasa tentu akan berakibat fatal bagi rakyatnya. Maka perlu kita mengerti, bahwa biasanya ada dua hal yang membuat penguasa tersesat. Pertama karena hal itu menguntungkan dirinya pribadi sebab dapat proyek penyokong dengan jadi cukong. Kedua karena memang wawasannya Ia mengira bahwa program industrialisasi dengan “mengemis” pada modal asing adalah kunci kesejahteraan rakyat, padahal yang terjadi sebaliknya.

Kurang lebih itu saja tanggapan saya. Sebagai orang yang lahir dari tanah air ini, kita harus mencintainya. Adapun cara mencintai negeri ini, menurut saya, pertama-tama adalah menerima secara utuh dengan seluruh kelemahan-kelemahan yang ada padanya agar cinta kita tulus dan jujur. Selanjutnya baru ada perbaikan, yaitu unsur-unsur yang merusak harus disingkirkan, sementara unsur-unsur yang membangun dilaksanakan. Hubbul wathon yang begitulah yang saya dambakan. Dan dengan begitu, gemuruh nyanyian hubbul wathon minal iman tak lagi hampa makna. Terimakasih kawan Ipung, eh Saifullah. Mari kita lanjut ngopinya.

 

Yogyakarta, 6 Mei 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.