Menjadi “Konco” Ideal

Ilustasi diambil dari www.Merdeka.com

Ilustasi diambil dari www.Merdeka.com

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (al-Nisa’: 69)

Sebagai individu yang bermasyarakat, sepertinya kita penting untuk mengetahui bagaimana sosok teman yang ideal bagi orang-orang di sekitarnya. Selain memang diperlukan guna membuat orang-orang di sekitar kita nyaman, niscaya itu juga akan memiliki efek positif atau feedback yang baik kepada kita. Adalah dua hal, yaitu seorang yang patuh dengan Rasul dan patuh terhadap Tuhan. Dan dalam hal ini, kiranya kita tidak perlu terjebak dengan konsep kepatuhan yang kaku. Artinya teman ideal yang dimaksud di sini bukanlah sosok yang patuh kepada keduanya secara kaku atau sosok yang selalu mementingkan salat dhuhanya dari pada kelas kuliah, sosok yang tidak menghadiri undangan buka bersama demi salat tarawih, dan sebagainya. Akan tetapi, mereka adalah sosok yang bisa memandang anjuran—untuk tidak menyebut perintah—keduanya secara proporsional, yaitu sesuai tujuan awal itu dianjurkan.

Mengenai kepatuhan kepada Rasul—dalam satu perspektif—itu bukan saja berbicara tentang bagaimana kita membumikan banyak hadis dengan apa adanya. Akan tetapi, kita juga perlu untuk memandang hal tersebut secara lebih luas dengan memerhatikan nuansa lingkungan tempat kita hidup sekarang dan lingkungan ratusan tahun silam di daerah seberang sana. Terlepas dari itu, dalam  hal ini, ayat di atas secara tidak langsung memberikan kita satu gambaran baru tentang konsep patuh kepada Rasul—yang nantinya berperan sebagai kriteria teman ideal—yaitu seorang yang bisa menghargai kata-katanya. Adapun indikasinya adalah beberapa ayat di sekitar ayat tersebut yang menceritakan ketidaknyamanan Muhammad terhadap beberapa sahabat yang sama sekali tidak bisa menghargai kata atau munafik. Untuk itu, tidak terlalu mengada-ada bahwa yang dimaksud sosok ideal teman yang taat kepada Rasul adalah mereka yang bisa menghargai kata-katanya.

Lantas yang dimaksud taat kepada Allah—terlepas dari bagaimana kebanyakan orang memandangnya—adalah mereka yang bisa membedakan antara agama dan Tuhan. Dalam arti, mereka tidak terjebak dengan konsep agama sebagai sekat sehingga meski berinteraksi dengan masyarakat non-muslim mereka mampu berlaku seimbang. Ini merupakan kriteria atau perilaku yang menempatkan Tuhan sebagai sesosok yang benar-benar maha, termasuk maha pengasih yang kasihnya lebih agung dari sekat-sekat agama. Dan kira-kira, itulah kriteria kedua teman ideal, yaitu mereka yang berani akrab, tulus, dan saling menghargai dengan siapa pun tanpa pandang warna agama. Pendek kata, melalui ayat ini, seyogyanya kita bisa menjadi sosok tersebut. Yakni sosok yang tidak pernah menjadikan agama sebagai alasan untuk menciptakan sekat dan membatalkan janji. Sebab kasih sayang Tuhan lebih meliputi segalanya, melebihi ras, budaya, agama, dan bahkan Rasul.(Red)

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.