Menguap di Pagi yang Dingin

Oleh, Mbah Takrib*

Setelah fakum hampir selama dua bulan, untuk tidak memposting tulisan di tubanjogja.org. Akhirnya, beberapa penulis di lingkaran Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta, kembali menggeliat setelah beredar video kritik kebijakan pemerintah yang pro terhadap industrialisasi ekstraktif—yang mengancam keberlangsungan hidup, seperti kerusakan alam dan hilangnya lahan pertanian produktif (lihat video “Tuban Mboten Didol”). Tulisan-tulisan tersebut ditunjukan sebagai apresiasi sekaligus dukungun terhadap wacana yang diusung, sebab merasa sefaham dengan pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat video.

Ada empat artikel penting yang saya fikir sejalan dengan isi video tersebut. Pertama, arikel yang ditulis Zev, berjudul Menunggu Pangeran Berkuda Semen. Dalam tulisan itu, Zev mengurai secara naratif problem masyarakat industrial, dengan berpijak pada  kisah asmara yang tidak direstui oleh orang tua si gadis lantaran si cowok tidak bekerja di  perusahaan semen. Diakui Zev—yang juga pemuda asli Kerek—, kasus semacam itu sudah mulai marak didaerahnya, bahwa kehormatan seseorang dalam masyarakat sudah tidak lagi diukur dari kebijaksanaan hati, tatapi bergeser pada materi dan pekerjaan yang ia dapatkan.

Kedua, artikel yang ditulis oleh Wahyu ES dengan judul Hidup di Tuban Sejahtera dan Bahagia, Sebagai Ilusi Industri Kotor. Tulisan tersebut berupaya membongkar mitos industrialisasi yang ditanamkan oleh pemerintah tentang ilusi kesejahteraan yang dijanjikan. Tulisan tersebut menyajikan data ilmiyah dari hasil penelitian  berbagai lembaga tentang kemiskinan di Tuban, yang ironisnya malah terseber di daerah ring satu perusahaan semen.

Ketiga, artikel berjudul Mayday di Bumi Wali: Ikslas Jadi Kuli Sampai Kiamat dari Ahmat Taufiq. Tulisan itu berisi auto kritik peringatan hari buruh di Tuban, yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi buruh bekerjasama dengan pemerintah daerah dan didukung oleh berbagai perusahaan besar, dengan tema “Selamat Datang Industrialisasi di Bumi Wali”, berbentuk jalan sehat. Dalam kritiknya, Ahmat Taufiq mengingatkan proplem kemiskinan—melalui pendekatan sejarah—tidak hanya soal menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya, tepapi lebih dari itu adalah terwujudnya keadilan sosial, melalui sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat. Sedangkan kesejahteraan buruh, menurut Taufiq, hanya dapat diraih dengan terwujudnya kedaulatan buruh itu sendiri, yang mana justru lupa diperjuangkan saat peringatan hari buruh di Tuban.

Keempat, masih artikel yang ditulis oleh Ahmat Taufiq, berjudul Cie.. Hubbul Wathon. Tulisan yang masih anget di tubanjogja.org itu, merupakat respon spirit keberagamaan kaum Nahdhiyan tentang cinta tanah air sebagaian dari iman. Ia tidak hendak menolak jargon tersebut, hanya saja ia merasa ada yang janggal dengan euforia Habbul Waton. Pasalnya, jargon tersebut hari ini hanya menguat untuk membendung faham radikalisme semata. Tatapi disisi lain justru melupakan makna dasar dari tanah air itu sendiri, yang kondisinya sangat menghawatirkan. Dimana telah terjadi penjarahan kekayaan alam secara masif oleh korporosi asing dan tidak mendapatkan perlawanan dari kelompok yang mengatasnamakan elit Nahdhiyin itu, padahal menjaga kekayaan alam guna kemakmuran rakyat adalah  cinta tanah air, yang menurut Taufiq, lebih utama.

Suatu kabar yang membahagiakan seharusnya, saat arus liberalisasi dan imperialisme seolah tidak dapat dibendung, di Tuban, dialektika dan pemikiran kritis justru semakin menguat. Hal itu tercermin dari video dan beberapa artikel yang bertebaran di media sosial. Namun sayang, selain hanya sekedar menguap di pagi yang dingin, pemikiran kritis tersebut justru mendapat tanggapan sinis dari beberapa kalangan. Mereka menstigma, orang-orang yang bergerak di dunia kritisisme ini sebagai pengangguran, provokator dan penyebar kebencian. Suatu yang ironis, ketika ada beberapa orang yang sedang mencoba menggambarkan stiusasi di Tuban sacara utuh di luar paradigma penguasa, mereka justru dinistakan.

Ketika membaca komentar-komentar sinis itu, saya hendak bilang “Apa anda waras?”. Namun entahlah, mungkin mereka tidak tau; untuk membuat video ataupun tulisan semacam itu dibutuhkan upaya yang keras, didahului belajar serius untuk mendapatkan data dan mempertajam nalar fikir–upaya itu, biasanya dilakukan dengan membaca buku, artikel dan situasi–. Belum lagi, untuk menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah karya dibutuhkan ketrampilan khusus  dan waktu yang tidak sedikit. Semua itu, tentu saja tak semudah dan secepat mbacot di kolom komentar, media sosial.

Tapi sudahlah, mungkin ini soal kesadaran yang tertanam di alam fikiran mereka dan harus kita fahami sebagai salah satu keterbatasan manusia. Saya berusaha meyakini, mungkin mereka yang berfikir demikian (sinis jahat), terlalu sibuk mencari uang dan tak punya waktu membaca buku-buku penting dalam memahami cita-cita berbangsa dan bernegara, seperti buku Di Bawah Bendera Revolusi 2 jilid karya Ir. Soekarno, berjilid-jilid Kumpulan Karangan karya Hatta dan lainnya–atau kalaupun toh membaca buku, mungkin buku yang mereka baca sejenis buku Jurus Kaya Dalam 5 Menit, Kiat-kiat Mendapat Kapal Pesiar Dari MLM atau Cara Mudah Mengkavling Surga–. Atau mungkin sebaliknya, mereka sebenarnya memilik cukup banyak waktu luang, tetapi habis digunakan untuk bermedia sosial dan tergabung dalam berbagai macam group yang isinya kabar kriminal, kecelakaan, himbauan pemerintah, info pengajian, propaganda membangun negara islam dan atau berita cabul.

Wallahu a’lam bishawab.

Yogyakarta, 04 Mei 2017

*Admin tubanjogja.org

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.