Hantu-Hantu Sepanjang Rezim Silih Berganti

Ilustrasi diambil dari http://www.josstoday.com/read/2016/06/08/34966/Hantu_Komunisme

Ilustrasi diambil dari http://www.josstoday.com/read/2016/06/08/34966/Hantu_Komunisme

Oleh Taufiq Ahmad

Tiap rezim punya hantunya sendiri. Apakah hantu itu memang sudah ada, atau sengaja diciptakan tak jadi soal disini. Yang jelas, akan susah ditemui dalam sejarah (kalau kita belajar) dimana eksistensi suatu rezim tanpa disertai eksistensi hantu yang jadi musuh latennya. Ini paragraf pembukaan. (wes ngerti, bento!—red)

Selanjutnya, tulisan singkat ini adalah tanggapan dari tulisan orang tak dikenal (mungkin hantu). Tapi jangan tanya kenapa saya merasa perlu menanggapi. Itu tabu. Yang jelas dari tulisannya yang berjudul “Hantu Itu Masih Bernama Komunisme?” itu ada dua hal yang bisa saya tarik.

Pertama, tulisan itu diam-diam mengkampanyekan komunisme. Hal itu bisa dilihat dari inti dari tulisan, yang kebetulan adalah endingnya, berbunyi “dalam konteks komunisme, jika ia masih dirasa sangat menghantui, apa jangan-jangan memang ia masih relevan?”. Saya yakin sang penulis berpandangan bahwa komunisme sesungguhnya masih relevan. Hanya saja ia tak berani secara frontal berkampanye begitu. Pasti khawatir namanya terlacak dan ia akan disembelih, dan jadi hantu beneran kayak PKI. Karena itu, ia mencari isu untuk dia tunggangi. Dan kebetulan—katanya, tapi dugaanku ia bohong—ada temannya yang ditegur ayah-ibunya soal FB-nya yang memampang simbol PKI (Palu-Arit). Langsung saja ia tunggangi isu itu. Lalu (dengan canggihnya) ia menjlentrehkan perihal kehantuan komunisme sejak kelahirannya (di Eropa), dan tambah mencekam seiring polesan Orde Baru sepanjanng 32 tahun. Artinya sang penulis ngerti betul perihal sangkan paran dumadining komunisme, dan secara sadar mengkampanyekannya.

Kedua, saya lupa mau nulis apa. Pokoknya tulisan itu menyesatkan. Jadi hati-hati kalau membaca tulisan itu, soalnya sangat membuai. Kalau dulu orang-orang komunis bilang agama itu candu, kini komunisme menjadi candu itu sendiri, dan lebih parahnya, candu komunisme bisa membuatmu jadi hantu.

Produksi Hantu Sepanjang Rezim

Kembali soal paragraf pembuka, bahwa tiap rezim punya hantunya sendiri. Zaman Soekarno hantu itu bernama Nekolim alias neokolonialisme dan imperialisme. Siapapun yang dekat dengan Nekolim, suram nasibnya. Misalnya musisi Koes Bersaudara (sekarang Koes Plus) yang legantaris itu, pernah mencicipi penjara sebab dianggap meniru gaya the Beatles. Dan The Beatles dianggab bagian dari musik-musik debutan hantu Nekolim.

Zaman Soeharto hantu itu bernama komunisme atau PKI. Ke-hantu-an komunisme di zaman Orde Baru menjadi sangat mencekam sebab tiga hal: pertama komunisme mendeklarasikan diri sebagai hantu dan sangat memusuhi kapitalisme yang kini disembah banyak orang, kedua ratusan ribu (bahkan mungkin jutaan) anggota atau simpatisan PKI yang dibunuhi untuk kelahiran suatu Orde, dan ketiga Orba kemudian mengkultuskan kehantuan PKI dengan berbagai cara. Di sini menjadi wajar soal kasus orang ditegur ayah-ibunya perihat Palu-Arit di FB-nya.

Zaman sekarang? Ada banyak sekali hantu, dan satu sama lain saling berebut panggung. Ada hantu ekstrimisme-terorisme, berita hoax, narkoba, korupsi, ada hantu Orde Baru, militerisme, komunisme, ajaran sesat, ada juga hantu Cina, liberalisme, semen, dan sebagainya. Dan semua itu jadi sangat merebak seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Dan mengapa itu bisa terjadi? Mungkin hantu memang selalu ada, tapi eksistensi hantu bakal melemah dan memudar jika kita mengedepankan akal sehat dan meminggirkan paranoia.

Melihat hantu-hantu yang ada kini makin marak artinya apa? Artinya, sebenarnya kita belum beranjak dari generasi pocong, kuntilanak, thuyul dan wewe gombel.

Griya Hana, 26 Maret 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.