Dimana Kita Hidup (Puisi-puisi Mbah Takrib)

 

Ilustrasi diaambil dari dutawisata.co

Ilustrasi diaambil dari dutawisata.co

Diskursif

 

Pikiranku dibelenggu kenyataan

menjadi jinak pada keadaan

ataukah ini penahlukkan

bukan represif,

tunduk pada pentungan

namun diskursif

 

Melalui wacana;

globalisasi-liberalisasi

orang-orang berlenggak lenggok

membangun imajinasi

budaya imitasi

yang absurd

 

Media melacur pada kaum pemodal

jadi antek dan sundal

generasi muda jadi korban

hilang rasa kebangsaan

membiarkan, mendukung penjarahan

 

yang ada penindasan

yang tersisa kesengsaraan

 

Yogyakarta, 2012

 

Panggung Kita

 

Opera media telah dibuka

di televisi, koran dan berita online

sindir-menyindir tahta yg dikuasai bajingan

(kata mereka)

saling menjatuhkan, satu dengan lainnya

 

Di negeri ini,

korupsi adalah kabar paling seksi

(sekaligus dinanti)

hampir semua rakyat membenci

(namun, masih banyak yang berharap untuk disuap)

 

Aih., pemilu telah kembali

pesta demokrasi, arena kompetisi

yang kadang kejam, tanpa belas kasihan,

hanya ada;

kawan dan lawan, kalah dan menang

sedang

para petarung berlenggak-lenggok di podium

dirias sangat anggun

 

Di kampungku,

orang-orang ramai berbicara politik

(gosip) para jagoan yang dipajang dijalan-jalan

 

Di media sosial,

masyarakat fasih mengkritik perilaku para politisi

dalam tema; demokrasi transaksional

money politik, jual-beli kekuasaan.

 

Panggung kita;

opera sandiwara tanpa teladan

hilangnya bramana-brahmana pengajar kebaikan

politak sebagai jalan kemuliaan

lahir dari kebijaksanaan

memberi kemaslahatan

*Di panggung, kita latah (tak) bijaksana

Yogyakarta, 2014

 

Diman kita hidup

 

Dimana kita hidup

di hati yang di khianati

mimmpi-mimpi mulai redup

hilang dan terkubur

 

Dimana kita hidup

di tanah yang digusur

di negeri yang tak makmur

di terotoar jalan

di kolong jembatan

 

Diman kita hidup

telah berdiri tegak

gedung-gedung menjulang

industrialisasi

kemajuan teknologi

 

Dimana kita hidup

dalam cengkram kapital para pemodal,

korporasi asing melenggang

rakyat dijadikan budak

diupgret sesuai kebutuhan pasar

pengetahuna dikonstruk

terjadi penjinakkan

melegalkan penjarahan

yang ada penindasan

yang tersisa kesengsaraan

 

Dimana kita hidup

nalar kritis dibelenggu

isu HAM, demokrasi liberalisasi

atas dasar alasan globalisasi

dimana kita hidup

tumbuh subur

oligarki, kolusi dan korupsi

 

Dimana kita hidup

masa dpan telah digadaikan

diobral, diperjual belikan

nasib dipertaruhkan, tak pernah ada jaminan

Yogyakarta, 2013

*Mbak Takrib, Kelahiran Tuban dan kontributor tetap tubanjogja.org

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.