Karst Tuban Dalam Gempuran Tambang

Karst Tuban – Korporasi: Monster Perusak
Tuban merupakan Kabupaten dengan sekitar seperempat wilayahnya terbentang bukit-bukit kapur atau lebih dikenal dengan karst. Tersebarnya bentangan bukit kapur, membawa berkah tersendiri bagi korporasi besar maupun kecil menengah. Korporasi besar yang tergiur itu adalah Semen Indonesia yang berdiri pada tahun 1957, Lafarge-Holcim raksasa semen dunia dari Swiss, Serta yang terbaru ialah perusahaan semen dari China yang memakai nama Abadi Cement dan Unima Cement. Sementara korporasi kecil-menengah terus menebarkan teror kerusakan ekosistem bukit kapur, baik yang legal maupun ilegal. Namun naas, janji demi janji digaungkan namun tak memberikan perubahan yang signifikan berdasarkan versi mereka. Malahan karst Tuban alam telah rusak, mereka sedang gundah gulana, resah pada kehidupan yang tidak pasti ini.

Karst Tuban Dalam Gempuran Tambang

Ilustrasi gambar diambil dari bpjs.twing.com

Pada awalnya tahun 1990 pemerintah dan Semen Gresik sudah menetapkan perluasan pabrik, akhirnya perluasan Semen Gresik (sekarang SI) diawali dengan mendirikan pabrik baru di Tuban pada tahun 1994. Tuban 1 dibangun dengan kapasitas produksi 2,7 juta ton per tahun, lalu dilanjutkan dengan proyek Tuban 2 dibangun 1997 produksi 2,5 juta ton per tahun, Tuban 3 dibangun 1998 dengan 2,5 juta ton per tahun, dan terakhir Tuban 4 dibangun tahun 2012 dengan kapasitas produksi rata-rata 2,5 juta per tahun. Semen Indonesia sendiri memiliki mining areas sebesar 1650 hektar, dengan 1250 hektar untuk batu kapur serta 400 hektar untuk tanah liat (data Semen Indonesia). Sementara data yang dimiliki oleh Walhi Jatim sekitar 2028 hektar.

Selanjutnya ada Lafarge-Holcim yang merupakan korporasi worldwide asal eropa, lebih tepatnya bermarkas di kota Jona Swiss. Hadir di Indonesia dengan membeli Semen Kujang dan Nusantara, yang akhirnya dilebur jadi satu dengan bendera Holcim Indonesia. Adanya Holcim di Tuban tak bisa dilepaskan dari Orde Baru, melalui PT. Dwima Agung yang notabene berada dalam lingkaran cendana. Holcim mengakuisisi tanah yang sebelumnya dimiliki Dwima Agung, dengan mengakuisisi perusahaan milik Hutomo Mandala tersebut pada tahun 2012. Wilayah tambang yang dimiliki Dwima Agung tersebar di wilayah Kecamatan Tambakboyo, meliputi Sawir, Merkawang, Glondong Gede (pelabuhan dan akses jalan). Setelah itu melakukan perluasan pada tahun 2012 dengan membeli tanah yang tersebar di Kecamatan Kerek, meliputi Mliwang, Luwuk. Lokasi mining areas Holcim bersinggungan langsung dengan Semen Indonesia, jaraknya sekitar 1,7 km. Holcim Tuban 1 diresmikan pada 17 Juni 2014 dengan kapasitas 1,7 ton per tahun, dan menyusul pengembangan Tuban 2 yang sejatinya ditargetkan rampung pada 2015 lalu. Luas untuk Tuban 1 dan Tuban 2 mencapai 579 hektar.

Sementara itu Abadi Cement di desa Sugihan Kecamatan Merakurak dan Unime Cement di wilayah Tambakboyo serta Kerek, namun informasi untuk kedua korporasi ini masih tertutup. Berdasarkan data dari Walhi Jatim konsesi tambang untuk Unime sendiri mencapai 822 hektar, hanya mencantumkan wilayah Kecamatan tanpa menyebutkan detail wilayahnya.

Karst Tuban – Kesejahteraan Itu, Hanya Ilusi
Melihat semakin banyaknya tambang semen yang menyelimuti Kabupaten Tuban, membawa kekhawatiran tersendiri. Terutama dampak yang akan ditimbulkan suatu saat nanti, baik lingkungan, sosial maupun ekonomi. Dampak industri sejatinya tidak membatasi perempuan maupun laki-laki, karena mencakup semua unsur. Namun yang membedakan hanyalah persoalan tenaga kerja, lebih dominan laki-laki daripada perempuan. Karena memang adanya industri semen paling banyak meraup tenaga kerja, hanya pada waktu pendirian pabrik. Rata-rata yang dibutuhkan tenaga kasar, sehingga terjadi dikotomi gender. Laki-laki lebih berpeluang dalam kesempatan kerja, sementara perempuan sangat minim. Adapun kesempatan hanya pada tenaga terdidik, sementara tingkat pendidikan disekitar area industri baik SI maupun Holcim tidak lebih dari SMP.

Masalah tenaga kerja selalu menjadi pembahasan utama. Contoh aksi Karang Taruna ring 1 SI, atau aksi-aksi warga lainnya yang resah dan gelisah soal lapangan pekerjaan. Jikalaupun ada pekerjaan, sejatinya pekerjaan untuk warga desa sekitar hanya pada level bawah, itupun outsourcing serta temporer (PKWT). Jadi sejujur-jujurnya, hal tersebut tidak menggambarkan kesejahteraan yang didengungkan oleh pihak korporasi tambang. Melihat aspek lapangan pekerjaan, sebenarnya palsu. Mengingat industri ekstraktif merupakan industri yang menggunakan teknologi mutakhir, mustahil jika dapat mencakup semua SDM di wilayah terdampak. Mengingat rata-rata pendidikan mereka hanya sampai pada taraf dasar, maka oleh karena itu hanya individu dengan pendidikan mumpunilah yang dapat bekerja disana.

Dampak lainya ialah persoalan kesejahteraan yang manipulatif, dimana ada keterkejutan “shock” karena alih fungsi profesi. Banyak diantaranya petani dan nelayan, yang harus rela pindah profesi karena lahan yang telah dijual dan laut yang tidak lagi produktif. Sehingga ketika tidak ada pekerjaan yang temporer (proyek) maka terpaksa menganggur, disamping menjadi buruh tani yang tidak jelas. Karena lahan kian menyempit, sehingga produktivitas pertanian otomatis menurun.

Ilusi kesejahteraan lainnya ialah persoalan CSR (Corporate Social Responsibilities), yang selama ini hanya sebatas proyek fisik. Gapura, Monumen serta penanaman pohon yang tak akan mampu menggantikan alam yang telah rusak. Sebagai contoh Hutan Semen Indonesia di Tlogowaru, yang hanya manis di media namun kenyataanya hanya kebun belaka. Lalu pengembangan usaha mikro juga hanya sebatas bualan, mereka hanya mensupport industri mapan. Contohnya Batik di Kerek, yang disupport habis-habisan oleh SI. Sementara yang lainya hanya per-event, contohnya usaha mikro dibidang peternakan dan pangan.

Beda SI lain lagi Holcim, tidak ada usaha yang signifikan untuk melakukan pencitraan kesejahteraan. Hanya melakukan pengembangan peternakan yang bekerja sama dengan UGM, dengan membentuk semacam koperasi. Berbicara soal peternakan, warga dirangkul oleh pihak korporasi untuk mengikuti program peningkatan kesejahteraan. Warga dirangkul untuk merawat sapi, dengan catatan sapi tersebut dipinjamkan dengan jaminan sertifikat tanah. Selain itu terdapat persoalan pada pakan ternak, mereka harus beli sendiri dengan harga yang cukup menjerat. Program-program pencitraan semacam ini hanya sebagai branding corporation, agar nantinya tidak dikritik oleh banyak pihak. Program selanjutnya ialah Sekolah gratis dengan jubah EVE, anak-anak lokal diberikan beasiswa untuk sekolah dengan iming-iming kontrak kerja. Tapi pencitraan tetaplah pencitraan, karena hanya mencakup segelintir orang.

Kesejahteraan semu yang melanda masyarakat sekitar tambang, tampaknya cukup signifikan dengan data terkait yang berkontradiksi dengan pencitraan korporasi tambang. Hal ini didukung oleh data dari FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) Jawa Timur,  yang dikemukakan pada Kabartuban[dot]com 26 April 2012. FITRA menyebutkan jika pada kawasan Ring I PT Semen Gresik (Semen Indonesia) dari 10 desa yang masuk kawasan Ring I, dua desa tercatat memiliki jumlah warga miskin cukup tinggi, yakni Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak jumlah penduduk miskin 496 jiwa dan Desa Gaji, Kecamatan Kerek dengan jumlah penduduk miskin mencapai 870 jiwa. Tidak hanya pada area SI saja, di wilayah Holcim yang pada saat itu sedang melakukan finalisasi pembangunan pabrik. FITRA mencatat bahwa Desa Merkawang memiliki penduduk miskin sebanyak 260 jiwa sedang Desa Glondonggede 242 jiwa. Sejalan dengan FITRA, berdasarkan kajian BPS pada rentang waktu 2013-2015 indeks kemiskinan Tuban masih menempati 10 besar Jawa Timur dari 38 Kabupaten/kota yang ada. Detailnya angka kemiskinan Tuban mencapai 17,08 persen meningkat 0,44 persen dari tahun sebelumnya yang berada di angka 16.64 persen. Jika dibandingkan dengan Lamongan yang tidak mempunyai industri ekstraktif sebesar Tuban, justru angka kemiskinannya lebih rendah yaitu dikisaran angka 15%.

Karst Tuban – Buaian Kesejahteraan yang Mengancam
Angka kemiskinan yang masih tinggi di Kabupaten Tuban menjadi kontradiksi tersendiri, disaat industri ektraktif menawarkan sebuah konsep kesejahteraan yang ekonomis. Menarik untuk dikaji lebih dalam, mengapa angka kemiskinan masih begitu tinggi ditengah pernyataan korporasi yang akan mengangkat derajat perekonomian warga lokal. Alih-alih mensejahterahkan warga lokal Tuban, malahan korporasi tambang begitu banal serta brutal menghancurkan alam. Dampaknya tentu pada rakyat secara umum, dimana mereka harus rela kehilangan mata pencaharian serta hidup dalam keterbatasan.

Masih ingat kasus Karanglo, disana jarak dengan mining areas hanya kurang-lebih 1-2 KM dari pemukiman dan area pertanian warga. Sementara untuk Tlogowaru, Sumberarum dan Temandang juga tak lebih dari 8-10 KM, untuk wilayah SI. Sementara Holcim juga tidak kurang dari 3-7 KM dari area pemukiman dan pertanian. Maka tidak heran lagi jika ada kasus seperti yang diungkapkan Walhi Jatim jika “Data yang dihimpun Walhi menyebutkan, warga di tiga desa ring satu yaitu Karanglo, Temandang, dan Sumberarum, menunjukkan ada peningkatan penderita penyakit saluran pernafasan. Pada 2013, tercatat 1.775 warga yang mengalami infeksi akut pada saluran pernapasan, di 2014 sekitar 1.656 orang, namun meningkat menjadi 2.058 orang pada 2015 “. Meskipun data yang disajikan Walhi berbeda dengan versi pemerintah, hal tersebut secara tidak langsung menggambarkan bagaimana pertarungan data terkait dampak korporasi tambang.

Selain dampak ekonomi dan sosial, ekosistem karst Tuban juga terancam. Kita bisa melihat secara gamblang dengan mata terbuka, bagaimana lubang-lubang bekas galian dibiarkan menganga menanti korban. Merusak struktur tanah, air, serta ekosistem yang ada.

Pada penelitian karst Tuban. Balitbang Energi dan Sumber Daya Mineral ( P3G Bandung tahun 2002 di Tuban ) disebutkan bahwa batuan gamping ( kapur ) mampu menyimpan air sebesar 87,2 sampai 198 liter/m3. Naif serta munafik, jika mengatakan menambang di area karst tidak merusak lingkungan. Air menjadi sumber penghidupan, karst nyatanya menyimpan air dalam rongga-rongga batuannya yang membentuk sebuah lorong seperti goa.

Sampai hari ini belum ada penelitian terkait penurunan debit air di wilayah terdampak tambang. Tetapi pastinya, ada perubahan secara permukaan yang terlihat (surface validity). Daerah sekitar SI saja, banyak area persawahan yang harus mengebor sumber air lebih dalam untuk mengairi lahannya. Belum lagi di pemukiman, banyak sumur yang menyusut sehingga harus menggunakan mesin pompa bertenaga besar untuk memperoleh air tanah. Jika dibandingkan dengan masa lampau, periode 1990an masih banyak sumur konvensional di area pemukiman sekitar pabrik semen. Berdasarkan fakta diatas, maka muncul sebuah asumsi bahwa ada penurunan kuantitas terkait berkurangnya jumlah sumur konvensional, serta semakin dalamnya pencarian sumber air sebagai tanda adanya dampak dari pertambangan karst Tuban selama ini.

Sebenarnya bukan hanya industri besar, namun industri skala kecil menengah juga menebar ancaman dalam perusakan alam. Jika melihat sepanjang Widang, Palang, Rengel yang belum terjamah semen, maka kita akan melihat pertambangan rakyat yang dengan rakus merusak karst. Sepanjang Kerek, Merakurak, Tambakboyo kita disuguhi hancurnya karst oleh korporasi semen. Hancurnya ekosistem karst sangat disayangkan, padahal banyak sekali potensi ekonomi alternatif di dalamnya. Seperti pariwisata, banyaknya goa, flora dan fauna di wilayah pengunungan kapur seharusnya menjadi nilai tersendiri.

Menurut Alm. Edi Thoyibi, karst Tuban seharusnya masuk dalam kawasan lindung serta konservasi. Mengingat dalam penelitian beliau, menyebutkan banyak goa-goa vertikal yang menyimpan air dan merupakan rumah dari beberapa spesies fauna. Contohnya seperti goa Ngerong di kawasan karst Rengel, yang menjadi rumah bagi ribuan kelelawar serta spesies ikan unik. Sedikit bergeser ke persimpangan Kerek dan Tambakboyo, terdapat beberapa goa arkeologi. Salah satunya ialah goa Jambangan dan Landak yang menjadi daerah resapan air serta rumah bagi spesies kelelawar. Bergeser ke area PT. SI terdapat sejumlah goa, salah satunya goa lawa yang kini tidak jelas nasibnya. Sebetulnya masih banyak goa arkeologi yang tersebar di beberapa titik area karst Tuban, namun masih belum bisa dipetakan karena beberapa kendala. Kendala soal data, rentan dimanfaatkan oleh para korporasi tambang yang jahat. Mereka akan melakukan segala cara agar dapat meraup untung dari alam, bahkan dengan cara-cara kotor. Salah satu caranya yaitu dengan membuat peta ekologi palsu, sabotase situs alam, serta manipulasi data. Sehingga mereka dengan mudah mengatakan, ”ini kars tuban tidak berguna jadi dapat ditambang”.

Mengutip petuah dari Betrand Russel terkait kesejahteraan, “Kita tidak bisa menjamin kesejahteraan kita, kecuali dengan menjamin kesejahteraan orang-orang lain juga. Jika anda bahagia, anda harus rela mengusahakan orang-orang lain agar bahagia pula”. Kesejahteraan secara umum dimaknai sebagai keadaan yang berimbang, kondisi sosial kemasyarakatan yang damai. Yang mana orang-orang dalam suatu wilayah dalam keadaan sehat dan damai. Keseimbangan alam dan manusia sejatinya merupakan kesejahteraan yang organik. Manusia hidup damai dengan alam, melindungi serta melestarikan alam sekitarnya. Karena kita tahu kesejahteraan tidak hanya bersifat kuantitatif tetapi juga kualitatif. Oleh karena itu, perlu ditinjau ulang konsep kesejahteraan yang sudah ada hari ini.

Tuban dengan segala potensinya, telah dirampas oleh orang-orang rakus yang mendaku diri sebagai penyelamat perekonomian. Potret buram eksploitasi alam di Tuban, menyumbang polemik wacana mitos kesejahteraan tambang untuk rakyat. Menyumbang persoalan ekologi nasional, disamping persoalan agraria. Eksploitasi karst tidak hanya ada di Tuban, namun juga sedang dihadapi oleh daerah-daerah yang lainya. Gombong Kebumen, Kendeng, Cilacap (Jateng), Biduk-biduk, Sangkulirang Mangkalihat (Kaltim), Trenggalek (Jawa Timur), Lhoknga (Aceh), Karawang, Cibinong (Jawa Barat), Flores (NTT) dan masih banyak yang lainnya. Persoalan tambang memang menjadi permasalahan bersama, ditengah negara yang tak acuh dengan alam serta rakyatnya. Semua demi mengejar pasar bebas, terutama menggairahkan pasar investasi yang tidak berpihak pada rakyat (lihat kajian MP3EI). Kars Tuban hari ini sedang terancam, kelangsungan hidup anak-cucu kita sedang dipertaruhkan. Alam tidak membutuhkan manusia, tetapi manusia-lah yang membutuhkan alam.

Oleh, Wahyu Eka Setiyawan – Surabaya, Januari 2016

*Penulis, Karst Tuban Dalam Gempuran Tambang – berkelahiran Tuban, sekarang sedang menempuh pendidikan di UNAIR Surabaya.

Baca Juga Tubanjogja.org: Comberan-comberan gelombang pasang audiovisual

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.