PUNK: di Jalanan Kami Menjadi Manusia

Anak Punk – Saat menulis artikel ini, awalnya saya sedang menikmati secangkir kopi, sembari melamun dan mendengarkan musik (ritual harian di siang yang biasa). Selang beberapa menit kemudian, lamunan saya buyar, ketika layar TV di depan saya tiba-tiba diganti chanel youtube yang kebetulan diputar musik dari lagu-lagu Marginal. Kelompok seniman musik beraliran Punk yang mengusung lagu-lagu kritis dan perlawanan atas sistem sosial, ekonomi dan politik yang menindas.

PUNK: di Jalanan Kami Menjadi Manusia - Anak Punk Versi Tuban Jogja

Oleh, Mbah Takrib*

Singkat cerita, setelah asik mendengarkan beberapa judul lagu, saya kembali ingat dengan kabar dari seseorang yang diposting di grup facebook, Media Informasi Orang Tuban (MIOT). Dimana beberapa waktu yang lalu, telah dilaksanakan penangkapan pada beberapa kelompok anak Punk yang dianggap meresahkan masyarakat di Tuban. Banyak yang mengpresiasi penangkapan tersebut, dibarengi dengan cibiran, celaan dan bahkan kutukan terhadap mereka, walaupun ada juga yang melakukan pembelaan dengan memposting beberapa meme satir dari prinsip hidup anak Punk.

Celaan itu wajar, karena anak Punk dianggap urakan, gelandang, pemabuk, pembuat onar, pembangkan, tidak punya masa depan dan bla bla bla, intinya mereka dianggap sebagai agen patology social atau penyebar penyakit sosial dalam masyarakat. Apalagi pada kasus di atas, anak-anak Punk yang ditangkap itu dicurigai sedang melakukan punculikan atau tepatnya kaderisasi dan perekrutan anggota.

Kesan negatif itu berbeda dengan apa yang saya tangkap, ketika mendengar lagu-lagu Marjinal dan hasil kreatifitas seniman Punk lainnya. Dari lirik lagu yang diusung, mereka adalah orang-orang cerdas, kreatif dan memiliki kepedulian terhadap bangsa. Kritik yang mereka lontarkan berangkat dari pembacaan situasi yang mendalam atas kondisi. Simak saja lirik lagu berjudul Negeri Ngeri oleh Marjinal berikut:

Lihatlah negeri kita

Yang subur dan kaya raya

Sawah ladang terhampar luas

Samudera biru


Tapi rataplah negeri kita

Yang tinggal hanyalah cerita

Cerita dan cerita, terus cerita…(cerita terus)

Pengangguran merebak luas

Kemiskinan merajalela

Pedagang kaki lima tergusur teraniaya

Bocah-bocah kecil merintih melangsungkan mimpi di jalanan

Buruh kerap dihadapi penderitaan

Inilah negeri kita

Alamnya kelam tiada berbintang

Dari derita dan derita menderita…(derita terus)

Sampai kapankah derita ini (au-ah)

Yang kaya darah dan air mata

Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi

Dinodai

Dikangkangi

Dikuasai

Dijajah para penguasa rakus
Dinodai

Dikangkangi

Dikuasai

Dijajah para penguasa rakus

Dari sini, saya melihat ada yang senjang dari cara kita menilai anak Punk. Kita terjebak bias pada apa yang kita lihat, tanpa memberikan aspek penilian yang porposional terhadap mereka. Dan persis sangat jarang ada yang membaca Punk dari sisi kesejarahan, semangat dan nilai yang mereka usung serta produk budaya yang mereka ciptakan. Bahkan mungkin, juga oleh sebagian anak-anak Punk itu sendiri.

Sejarah kemunculan Punk tidak jauh berbeda dengan kelahiran Rasta di Jamaika (kepulauan Karibia). Sebagaimana Rasta, Punk juga lahir dari semangat pemberontakan. Jika Rasta muncul dari ajaran agama yang mengilhami perlawanan atas diskriminasi ras dan perampasan hak sebagai manusia oleh bangsa kulit putih kepada bangsa kulit hitam Afrika, di era berbudakan Amereka dan Eropa, maka Punk juga demikian; ia tumbuh atas situasi dan kondisi yang hampir sama serta berkembang menjadi jalan hidup dan melakukan perlawanan arus dalam sistem sosial yang dianggap membelenggu, timpang dan menindas. Kemudian, baik Rasta maupun Punk sama-sama berkembang menjadi gaya hidup, aliran seni dan memunculkan tren fashion baru sebagai identitas simbolik.

Namun, berbeda dengan Rasta yang dipelopori agamawan dengan semangat kesetaraan ras, Punk lahir dari anak-anak muda kelas pekerja yang memiliki nalar fikir bebas dan kritis, di London Inggris, pada tahun 1970-an. Mereka adalah kelompok marjinal yang mengusung semangat pembebasan dari eksploitasi sistem ekonomi industrial.

Mengingat Inggris pada waktu itu adalah negara industri yang sedang mengalami permasalahan ekonomi. Dimana kondisi tersebut telah memicu pertentangan kelas yang akut dalam hubungan industri dan berdampak pada kesenjangan sosial, ekonomi dan politik.  Dari keadaan itulah, Punk mendapat lahannya yang subur untuk tumbuh dan berkembang sebagai gerakan anak muda yang kritis terhadap pemerintah dan sistem sosial.

Punk kemudian berkembang pesat di Amerika, pada tahun 1980-an. Dalam kondisi yang menyerupai di Inggris, Punk mendapat momentumnya ketika Amerika juga sedang mengalami kehancuran ekonomi, merebaknya pengangguran dan kejahatan. Hal itu, disebabkan oleh krisis moral para tokoh politiknya dan keterlibatan Amerika dalam perang dingin serta menelan kekalahan dalam perang yang berkepanjangan dengan Vietnam. Shingga memicu gelombang protes dari rakyat Amerika sendiri,  salah satunya dari Anak-anak Punk. Protes itu ditunjukan misalnya menyendir para penguasa lewat lagu-lagu dengan lirik sederhana, namun terkadang kasar, bitz yang cepat dan menghentak.

Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi Punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu Punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu Punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat dan pemerintah. Dari lirik dalam musiknya, mereka melakukan kritik politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu Punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan penampilan berkualitas rendah dan mereorganisasi secara drastis kemapanan gaya hidup. Itulah mengapa, Punk juga dikenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan dan anti sosial. Yang pasti, mereka meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan harus disertai dengan hebohnya pemikiran.

Punk sendiri, merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Sebab negara telah menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Dominasi negera yang mengekang itulah, menjadi penyebab sistem sosial dan pasar yang tidak adil dan monopolistik. Dari sini dapat kita cermati Punk sebagai ideologi lebih dekat anarkhisme, suatu faham yang mengingkari keberadaan negara yang hirarkis. Sehingga wajar jika Punk terkesan anti sosial, anti hukum bahkan pemberotak dalam masyarakat, artinya tidak mengikuti norma dan nilai yang ada.

Dari sini dapat kita fahami Punk merupakan sub-culture yang subversif terhadap budaya industri yang hegemonik dan tidak berpihak pada masyarakat kelas bawah. Mereka melakukan perlawan atasnya dengan musik, gaya hidup (boikot) dan penampilan.

Anak Punk

Info grafis by Dimas Chill

Perlawanan itu berangkat dari etika DIY (do it by yourself) yang juga mendorong beberapa komunitas Punk, termasuk di Indonesia, merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.

Pada perkembangan selanjutnya, CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta tindik dan tato. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang terjankau. Dalam kerangka filosofi Punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein dan barang bermerek lainnya.

Tidak hanya dalam bidang musik dan usaha, perlawanan itu juga terwujud dalam bentuk gerakan sosial. Sebagaimana yang dilakukan oleh band Marjinal saat terlibat mendukung masyarakat di pegunungan Kendeng, Rembang Jawa Tengah, dalam aksi penolakan pembangunan pabrik semen, PT Semen Indonesia.  Atas pertimbangan, pembangunan pabrik akan mengancam kelantarian alam dan keberlansungan hidup masyarakat.

Melihat sejarah, ide dan kreativitas anak-anak Punk, tidak adil jika kita menilai secara parsial dan memandang sebelah mata. Sebab, Punk adalah kelompok yang lahir atas respon kondisi sosial, ekonomi dan politik pada masanya, sehingga pilihan hidup di jalanan merupakan konsekuensi logis yang harus ditempuh. Sedangkan kondisi masyarakat kita (Tuban), saat ini sedang berkembang pada tahap masyarakat industri, dimana mulai banyak pabrik yang didirikan dan beroperasi. Maka wajar, jika hari ini mulai banyak bertebaran anak-anak Punk. Hal ini adalah suatu kritik terhadap sistem sosial yang tidak adil, membelenggu dan timpang dari hubungan industrial.

Yogyakarta, 14 Januari 2015.

*Admin tubanjogja.org

Baca juga, artiket tuban jogja

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. pmsjlcpgy berkata:

    PUNK: di Jalanan Kami Menjadi Manusia – KPMRT Yogyakarta
    pmsjlcpgy http://www.g519a2h22cn4kz84l667b28ebzbn7j9ys.org/
    apmsjlcpgy
    [url=http://www.g519a2h22cn4kz84l667b28ebzbn7j9ys.org/]upmsjlcpgy[/url]

  2. seo berkata:

    Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

  1. November 17, 2017

    […] juga tulisan Mbah Takrib => Punk; Di Jalanan Kami Menjadi Manusia – Kejatuhan Uni Soviet dan Ekspansi Rusia di […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.