Tepat Pukul 06:00

Oleh: Daruz Armedian

Ilustrasi diambil dari 2.bp.blogspot.com

Ilustrasi diambil dari 2.bp.blogspot.com

Ia yang tadi malam dirajam, darahnya api, jeritannya setan.

Dini hari ini Rohman gelisah. Jam yang menunjukkan pukul dua lebih lima menit tak membuat matanya ngantuk. Bayangan lelaki tua berjubah hitam berkelindan di kepalanya. Dan kata-kata itu. Kata-kata lelaki tua yang justeru menghantuinya.

“Percayalah, Tuhan tak pernah menyaksikanmu berzina.”

“Apa benar begitu?” ia menggumam. Seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Tuhan Mahatahu, tapi ada yang tidak diketahui.”

“Zinakah itu?”

Semoga saja itu benar adanya.

Ia sandarkan lagi kepalanya di atas bantal yang sudah usang dalam keadaan kebingungan. Di langit-langit dinding kos, ada yang serupa mata. Mata yang tajam dan menusuk dada. Mata yang sebelumnya ia tak pernah melihatnya. “Arghh, apa-apaan ini.” Gerutunya. Dan ia bangkit. Seperti biasanya, pergi ke warung kopi. Merokok dan menenangkan diri.

Di sela-sela itu, Rohman mengingat sesuatu.

“Jika memang kau ingin merantau, merantaulah. Tetapi satu hal yang abah pesan. Jagalah nama baik keluarga dan tetangga-tetangga.” Abahnya berkata pada suatu hari di mana Rohman memaksa untuk merantau. Padahal, ia sebenarnya tak pernah diizinkan. Abahnya khawatir akan terjadi apa-apa karena tidak dalam bimbingan orangtua.

Memang, dalam setahun dua tahun, pesan itu ia genggam erat-erat. Seperti halnya ia genggam harapan-harapannya. Tetapi pada suatu waktu yang telah diskenariokan, ia mengenal seorang perempuan. Perempuan perawan.

**

Rohman mengira, semuanya akan baik-baik saja. Setelah menikmati tubuh perawan itu akan selesai begitu saja. Pada saat itulah, secara kebetulan, Jamilah, pacarnya ingin ketemuan. Di sebuah taman yang sepi. Taman di mana keramaian seolah tak pernah lahir di dunia ini.

“Mas, aku pengen ngomong sesuatu.” Kata Jamilah di dalam telepon. Suaranya serak seperti sehabis menangis seharian. Dan memang ia masih menangis.

“Ngomong apa, Mil?” katanya penuh santai. Asap rokok ia kepulkan sembari menghirup napas dalam-dalam. Ah, di dunia ini tak perlu ada yang disesali.

“Pokoknya kita ketemuan, Mas. Aku nggak bisa ngomongin lewat telepon.” Suara Jamilah semakin parau. Pilu. Kalau kau tahu jeritan biola, sepilu itulah kira-kira.

“Tinggal ngomong aja kok susah amat, sih?” Rohman keluar dari warung. Melihat rembulan. Melihat bintang-bintang dilangit kelam. Menunggu jawaban dari balik telepon sana. Tetapi bisu. Dunia ini beku.

Yang terdengar hanya tangisan. Sesenggukan. Rohman tak mengerti dan memang tak ingin betul-betul mengerti apa yang dipermasalahkan pacarnya. Wanita memang seperti itu. Terlalu menggunakan perasaan setiap waktu, pikirnya.

Di sana, di tempat yang berbeda, Jamilah terduduk di kamar mandi. Ingin rasanya memecah cermin kemudian serpihannya ia goreskan ke lengan. Seperti pada sebuah film-film patah hati. Sudahlah, Jamilah, memilih mati hanya bagi orang-orang yang kalah. Hanya itu kata hati yang membuatnya urung melakukan bunuh diri.

Sebenarnya dingin. Sebenarnya ada rasa beku mencabik pori-pori. Tetapi ia tak hendak beranjak keluar kamar mandi. Seluruh tubuhnya terguncang menerima kabar ini. Alat pengecek kehamilan menandakan positif. Apa nanti kata orang tua di jauh sana tentang ini semua. Apa nanti kata kakak saya, tetangga saya, teman saya…

“Mil, cepet keluar, Mil. Saya mau kencing.” Ia mengenal suara itu. Suara halus dari Zaza, anak majikannya. Pintu diketuk pelan dan berkali-kali, seperti jarum jam menandakan kematian. Tangis Jamilah tertahan. Kemudian mengambil tisu, membasuh muka, dan membuka pintu.  Ia lihat wajah Zaza pucat, menahan kencing terlalu lama, barangkali. Jamilah hendak bertanya kenapa, tetapi pertanyaan itu justeru malah ditujukan lebih dulu padanya.

“Mil, kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa, Za.” Katanya cepat dan singkat. Kemudian pergi ke kamar. Zaza terbengong dan mengira ada sesuatu yang amat rahasia.

“Mil, kamu kenapa?” pertanyaan yang sama tetapi dengan mulut yang berbeda. Pertanyaan yang sama dari tempat yang berbeda. Telepon yang sedari tadi masih tersambung itu mengeluarkan suara.

“Mas, aku pengen ketemu. Sekarang.” Desak Jamilah. Lalu bergegas keluar rumah. Ia merasa beruntung majikannya beserta sang istri sedang keluar kota. Ia beruntung satu-satunya penunggu rumah, Zaza, sedang di kamar mandi. Sepeda tanpa penyangga yang tersandar di dinding samping rumah, ia bawa dan ditungganginya dengan buru-buru. Suara roda melindasi kerikil-kerikil kecil. Suara kriet kayuhan sepeda dari kakinya. Suara sesenggukan meski tak ada tangisan. Semua suara itu seperti bersatu melawan sunyinya malam.

“Di mana? Aku jemput?” Rohman mematikan rokok. Menuju motornya yang sedari tadi seperti menunggu untuk dijalankan. Di atas sana, bulan mulai tertutup awan. Di wajah Rohman, mulai ada rasa keingintahuan.

“Aku sudah berangkat, Mas. Temui aku di taman sepi seperti biasanya.” Telepon ia tutup. Rohman masih tak mengerti.

Sialan!

**

            “Kamu kenapa, Mil, Jamilah?”

Jamilah adalah perantau. Di kota ini ia jadi pembantu rumah tangga. Kesehariannya selain memasak, juga mencuci baju, dan tentunya lain-lain juga yang tak perlu disebutkan semuanya.  Setelah lulus dari SMP, ia tak melanjutkan sekolah lagi. Alasan ini tentunya tidak diketahui oleh siapa-siapa. Sebab terkadang ada rahasia yang memang tak perlu diketahui pada manusia.

“Mas, Mas Rohman.”

Rohman adalah perantau juga. Bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sebenarnya ia sekolah di SMA kota ini. Tetapi sudah tidak aktif lagi. Kira-kira kata yang tepat adalah mengeluarkan dirinya sendiri. Drop out. Kian hari kian tidak jelas tujuannya. Sehari-hari berkutat di warung kopi, merokok dan bersenang-senang.

“Aku hamil, Mas.” Cukup itu. Ya, cukup itu yang Jamilah ucapkan. Selebihnya ia bahasakan dengan tangisan. Rohman sungguh tak mengira akan seperti ini. Sampai-sampai ia tak bisa bicara. Mulutnya bungkam. Terkunci.

Lampu-lampu di taman kelihatan seperti meredup. Cahaya bulan seperti tak hidup. Orang satu dua berjalan dengan kesepiannya masing-masing. Sunyi. Taman yang tidak seperti taman biasanya. Tak ada keramaian. Rohman diam. Mengumpulkan tenaga untuk bicara.

“Mil, aku rasa belum siap.” Dada Jamilah bergejolak. Ia tahu maksud tak siapnya Rohman. “Gugurkan saja kandungan itu…” benar saja dugaannya.

“Nggak mau.” Secepat kilat ia ucapkan itu. Seorang perempuan tak boleh kalah begitu saja dalam suatu keputusan.

“Mil, aku mohon. Gugurkan saja kandunganmu.” Mata Rohman seperti menangis. Dalam pikirannya melayang-layang seorang anak. Menafkahi istri. Tidak. Tidak. Ia tak mau seperti itu.

“Nggak mau, Mas. Aku mau kamu tanggung jawab.” Rohman paham apa yang Jamilah maksud. Menikahinya.

“Mil, kamu jangan keras kepala. Jangan seenaknya sendiri. Pokoknya mau nggak mau harus kamu gugurkan kandungan itu.”

“Mas, kamu juga jangan keras kepala. Setelah enak malah tak tahu diri. Aku mau bilang ini semua pada orangtuaku.”

“Mil!”

“Mila!”

Jamilah sudah pergi. Ada tangis mengaliri pipi.

**

Rohman bangkit. Pulang ke kos. Pikirannya benar-benar mbulet. Secangkir kopi tak kuasa ia tandaskan. Sebatang rokok tak mampu ia habiskan. Sungguh merana.

Malam ini juga ia harus mengajak Jamilah pergi. Tak ada alasan untuk tetap tinggal di sini. Di kos yang pengap ini. Rohman lihat Jamilah tidur dengan pulas. Sudah sekitar sepuluh hari ini ia tidak tinggal di rumah majikannya. Rohman ingin membangunkan, tetapi ragu. Namun tak ada yang ditunggu. Orang-orang di sekitarnya sudah tahu.

Jamilah dibangunkan. Dibisiki kemudian beres-beres pakaian.

Malam itu, mereka benar-benar pergi.

**

Tepat pada pukul 06:00, kampung yang tak boleh disebutkan namanya itu digegerkan oleh dua mayat yang tergeletak. Laki-laki dan perempuan. Di pinggirnya terdapat racun dan berbagai obat-obatan. Walaupun kelihatannya baru semalam, tetapi wajah mereka kelihatan sudah membusuk. Lengan-lengan seperti kena cakaran. Atau kena cambukan?

“Mungkin inilah akibat dari zina.”

“Heh, jangan suudzon, dari mana kau tahu mereka berzina.”

Kemudian ada diam sebentar. Kira-kira sepuluh detik dalam perhitungan waktu.

“Sudahlah, berzina atau tidak, yang jelas Tuhan Mahatahu.”

Penduduk kampung sama sekali tak ada yang mengenali siapa dua mayat itu. Dan kau pasti sudah menebak akhir cerita akan seperti ini.**

Oktober 2015

*Cerpen ini pernah dimuat di koran Malang Pos, 6 Desember 2015.

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.