Ular di Kepala Ibu

Oleh: Daruz Armedian

Ilustrasi diambil dari bunjirmanova123.b;ogspot.com.

Ilustrasi diambil dari bunjirmanova123.b;ogspot.com.

 

Ibu, ada ular di kepalamu dan aku melihat hewan menakutkan itu bersarang di situ. Ia sering menjulurkan lidah ketika kau marah. Ia sering memperlihatkan mata yang tajam ketika kau sedang menyimpan dendam.

Hari itu, kau membunuh ular di luar kepalamu. Ular yang melata di depan rumah kita, tepatnya di gerumbul bunga-bunga. Ketika itu, ular berwarna kelabu memangsa seekor kodok kecil. Sehingga suara kesakitan dari hewan kecil yang suka melompat itu sampai di telingamu.

Kau menyukai kodok, menyukai suaranya. Apalagi ketika musim hujan tiba dan genangan air di samping rumah kita penuh dengan kodok-kodok yang bersuara, atau kau biasa mengatakannya sebagai bernyanyi. Dan tentu saja, kau menikmati suara-suara itu sambil memejamkan mata dan menyulut rokok. Sambil meminum kopi atau kadang-kadang cairan berwarna merah keunguan.

Maka, ketika kau melihat kodok dimakan ular itu, kau membunuhnya. Tetapi, kenapa kau membunuhnya hanya karena alasan sepele? Bukankah ular juga butuh makan? Padahal, ular di kepalamu sungguh liar. Sungguh menakutkan ketimbang ular-ular lain yang aku pernah melihatnya. Kau bahkan tidak pernah mengusiknya atau bahkan berniat membunuhnya.

Di situlah, kadang-kadang aku berpikir sendirian di kamar. Jangan-jangan kau sengaja membiarkan ular itu membesar dan membesar. Kau ingin ular itu beranak pinak. Agar aku tidak berani melawanmu ketika kau memarahiku. Atau kau malah tidak tahu kalau di kepalamu ada ular?

Aku ingat, waktu itu aku sedang membuat teh di dapur. Gelas yang kutuangi air panas pecah. Dari luar dapur, kau marah. Kau menyentakku. Dan tepat waktu itu, aku membayangkan ular di kepalamu tumbuh besar. Ular itu marah besar.

Kau masuk ke dapur dengan tubuh sempoyongan—mungkin akibat cairan merah keunguan yang kau minum. “Kerja begini saja nggak becus! Mau jadi apa kamu nanti, hah?”

Ya, Ibu. Jelas aku melihat ular itu menjulurkan lidah. Mata hewan itu merah. Dalam hatiku, kenapa Tuhan menciptakan ular di kepalamu. Aku takut—takut yang sungguh-sungguh takut. Kemudian bayanganku, benda apa yang akan kau pegang untuk memukulku? Toh, padahal aku sudah bosan dipukuli.

Kalau sudah seperti itu, yang kulakukan hanya menangis dan meminta maaf telah berbuat salah. Pernah aku ingin melawan dan membunuh ular itu, tetapi ia terlalu menakutkan dan terlalu seram bagiku. Keganasannya menciutkan nyaliku. Melumpuhkan sendi-sendi tubuhku.

Aku juga melihat ular dari kepalamu itu keluar ketika aku menanyakan kabar tentang ayah. Ular itu mengendalikan tanganmu untuk memegang gagang sapu, untuk memukulku.

Kira-kira beginilah kronologi lengkapnya:

Mulanya aku selalu bertanya-tanya, siapa lelaki yang berkunjung di rumahmu. Lelaki itu wajahnya berganti-ganti. Kadang menjadi seorang pemuda yang tampan dengan pakaian yang keren. Berambut rapi dan berdasi. Kadang menjadi seorang yang tua, berjenggot lebat seperti preman. Atau seperti gelandangan yang lupa jalan pulang. Kadang juga menjadi lelaki kurus sebagaimana pada waktu yang lain menjadi lelaki gemuk. Kadang juga menjadi lelaki kecil sebagaimana pada waktu yang lain menjadi lelaki berpostur besar.

Mereka semua berkunjung ke rumahmu tengah malam ketika jalanan sepi. Ketika kau mengira aku tidur nyenyak sekali. Apakah mereka semua ayahku? Dari lelaki manakah aku diciptakan?

Akhirnya, pada suatu pagi yang biasa, artinya pagi yang masih menyediakan embun turun dan membangunkan orang-orang untuk mulai beraktivitas, aku menayakan hal itu padamu.

“Bu, nama ayahku siapa? Siapa ayahku sebenarnya?” tentu pertanyaan itu kuutarakan dengan ketakutan. Dan memang benar, kau orang yang menakutkan bagiku.

“Anak keparat! Tak usah kamu tanyakan ayahmu. Kamu tidak punya ayah!” Waktu itu, ular di kepalamu muncul dari sarangnya dan menggeliat seolah bangun dari tidur, padahal hewan itu tak pernah tidur. Ia sudah mulai memperlihatkan matanya yang tajam. Aku mulai ketakutan. Sekedar pemberitahuan: kata ‘keparat’ itu kadang berganti jadi ‘asu’ atau ‘anjing’ atau kata apalah yang menunjuk pada keburukan.

“T-a-p-i, siapa laki-laki yang sering mengunjungi rumah ini?” tanyaku gagap.

“Ya, itu semua ayahmu. Paham?!”

Di situlah aku menemukan ucapanmu tidak sama dengan ucapanmu yang pertama. Aku ingin berbicara lagi, tapi ular di kepalamu sudah sedemikian marah. Akhirnya menguasaimu. Membuat tanganmu mencari gagang sapu. Kau memukulku sekeras mungkin. Kakiku memar tapi kau tetap tak sadar bahwa ada yang menguasaimu, yaitu ular. Kau tetap tak sadar bahwa aku ini anakmu. Satu-satunya anakmu. Seharusnya, anak sekecil ini hanya butuh kasih sayang dan bukan penyiksaan.

Akhirnya, pertanyaanku berhenti sampai di situ. Begitulah seterusnya, aku tak pernah menemukan jawaban pasti mengenai ayahku. Hal semacam itu juga bukan hanya berlaku saat aku bertanya soal ayah, tetapi soal-soal lain yang membuatmu tidak suka.

**

Ibu, malam ini, aku memang sudah berniat ingin membunuh ular di kepalamu itu. Sudah bertahun-tahun aku membenci hewan itu. Sudah bertahun-tahun aku ingin membunuhnya, tetapi selama bertahun-tahun juga aku tak punya keberanian melakukannya. Kadang-kadang ketidakberanian itu muncul dari diriku sendiri, semisal berpikir ketika nanti setelah membunuhnya, aku dihantui banyak ular di setiap mimpiku atau ular itu mati namun tumbuh seribu seperti pada dongeng-dongeng. Kadang-kadang pula ketidakberanian itu muncul dari luar diriku. Semisal, ular itu sering menampakkan aroma kebengisan. Lidahnya yang menjulur keluar dan matanya yang haus akan pembunuhan. Tetapi malam ini, ya, malam ini, aku akan melakukannya: membunuh ular di kepalamu. Aku sudah membuang segala ketakutan. Dan segala keberanian telah aku kumpulkan.

Aku tidak boleh membiarkan hal ini berlarut-larut. Aku tak mau menjadi anak yang setiap hari tersiksa karena ibuku—yaitu kau—memiliki ular di kepala. Ular yang sedari awal sudah kujelaskan seperti apa bentuk dan tingkahnya.

Aku mulai menuju kamarmu. Ketika membuka pintu kamar itu, kau sedang memejamkan mata. Tubuhmu yang terdiam itu, aku tahu, menandakan bahwa kau sedang menanggung rasa lelah yang amat sangat. Entah, aku tidak tahu apa yang sedang kau perbuat dengan laki-laki yang baru keluar tadi itu. Ah, siapa yang peduli. Aku melihatmu lagi. Dalam hati aku berbicara sendiri, inilah waktunya tiba, benar aku akan membunuh hewan itu. Di tanganku sudah ada pisau tajam dan berkilatan.

Kebetulan ular di kepalamu tertidur. Padahal sebelumnya, aku tak pernah melihatnya seperti itu. Ketika kau tidur pun, aku tak pernah melihat ular itu tidur. Atau sebenarnya ketika kau tidur, ular itu juga tidur, tetapi otakku saja yang selalu berpikir kalau ular itu selalu terjaga. Apakah keberanian telah mengubah cara pandangku? Apakah keberanian memang selalu membuat orang menganggap musuh lemah dan gampang ditaklukkan?

Aku mulai menusukkan ujung pisau ke ular itu. Dengan tenagaku seutuhnya. Ular itu tak bisa mengelak lagi. Kepalanya telah terluka. Tubuhnya juga telah terluka.

“Jangan menjerit, Ibu. Aku sedang membunuh ular di kepalamu.” Gumamku ketika mulutmu mengerang. Aku tidak habis pikir kalau hewan ini sudah terlalu lama menguasaimu. Sehingga kau pun kesakitan jika ia kesakitan.

Sebelum semuanya terlambat, artinya sebelum ular itu memberi perlawanan hebat dan aku  gagal melakukan pembunuhan, aku tikam terus menerus ular itu. Darah muncrat-muncrat. Membasahi kasur, membasahi seprai dan tentu saja membasahiku juga. Keringat mengucur dari tubuhku sebagai penanda bahwa aku telah berusaha sekuat tenaga. Dengan emosi yang luar biasa.

Aku bernapas lega melihat ular itu tak berdaya. Dan lebih lega lagi ketika kudeteksi, ia tak punya nyawa lagi. Ibu, kau kini terbebas dari ular yang membelenggu.

Awalnya aku mengira ular itu mati seiring kau terdiam lama. Ternyata tidak. Ketika aku melangkah pergi dari kamarmu, ular itu sekarang bermukim di kepalaku.

Ibu, mungkinkah ular itu ada pada setiap kepala manusia, ular yang akan keluar dari kepala ketika seseorang berbuat jahat? Tapi kau tak menjawab. Tapi kau tak bergerak.[]

 

Juni, 2016

*Cerpen ini pernah termuat di Suara NTB, 19 November 2016

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Tulisannya pernah di Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll. Sekarang tinggal di PPM. Hasyim Asy’ari jl. Parangtritis km. 7,5.

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.