Semangat Pung, Kamu Bukan Anak “Malang”! Kamu Anak Pesantren

14795666_1241245482594486_118298305_o

Teruntuk anakku, Ipung

Di pesantren

 

Apa kabar, nak? Semoga selalu sehat dan semangat. Di rumah Ibu baik-baik saja. Begitu juga dengan Bapak, si Mbah, dan Keluarga. Kerek juga masih nyaman, alhamdulillah! Iya sih, kemarin sempat heboh gegara “bacok-an” yang beruntun. Tapi, itu bukan di daerah kita kok, Pung. Jadi, kamu ndak usah khawatir ya. Di pesantren, yang rajin ngajinya!

Oh iya, si doksi, kambing kesayanganmu itu sekarang sudah pulang lho. Kemarin sepupumu mengantarnya ke sini. Katanya, dia sudah lelah bercocok tanam sambil angon. Ya tau sendiri lah Nak, bagaimana kondisi persawahan dan pertegalan di Mliwang saat ini. Sebagian besar sawah di Mliwang sudah menjadi lintasan truk-truk besar Pabrik Semen. Mungkin juga si Doksi sudah ndak nyaman di sana. Dan lagian sepupumu sekarang ikut Paklek mroyek di pabrik. Agak eman sih sebenarnya, dia masih muda.

Di sini, Ibu ndak pengen ngomong banyak, Nak! Ibu cuma ingin ngingetin aja. Besok, Ipung sekolah yang tinggi ya. Ipung harus punya cita-cita bisa sekolah sampai “Doktor”. Jangan berhenti di pesantren saja, apalagi cuma sampai kelas tiga Aliyah. Dan satu lagi, Pung: kalau toh kamu sudah berani terjun bebas di dunia pendidikan, kamu harus berani punya niat murni demi pendidikan itu sendiri. Bukan untuk pekerjaan!

Bukannya Ibu ingin menghakimi atau mempersempit ruang gerakmu, Nak. Ibu hanya ndak ingin melihatmu kecewa kelak. Tetangga-tetangga kita hari ini sudah tidak percaya kalau pendidikan itu menjamin pekerjaan. Temanmu, Firdaus, dua bulan silam kan pulang. Kata bapaknya, dia sudah berhasil merampungkan studi S2-nya di Jogja. Dan sekarang, sambil menunggu kabar dari surat-surat lamarannya, dia membantu Ibunya di Pasar Sapi, Jualan. Lha itu lho, Nak: banyak tetangga kita yang mencibirnya. Ada yang bilang, “Sudah sarjana dua kali kok masih saja pengangguran.” Ada juga yang nyeletuk, lak ya mending koyok anakku saja, proyekan di Pabrik. Sehari bisa sampai 100 rb, padahal toh Cuma lulusan SMP. ” Sudah paham maksud Ibu kan, Nak?

Tapi Pung, kita tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka seperti itu bukan tanpa sebab. Cukup mudahnya pabrik semen membuka lowongan kerja bagi anak-anak se-umuran SMP atau SMA adalah salah satu alasan mengapa mereka demikian. Ibu sendiri ngrasa sih, betapa leganya saat mendapati anak-anak Ibu sudah pada kerja, apalagi kerjanya dekat rumah sendiri. Senang pastinya, tapi bagi Ibu, itu bukan berarti anak-anak Ibu harus putus sekolah.

Ndak tau kenapa ya, Pung. Ibu itu yakin kalau semakin tinggi dan luas pendidikan seseorang, semakin besar pula berkesempatan untuk bahagia dan makmur. Bahkan itu bukan saja untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya. Terkadang Ibu berpikir Pung, kenapa ya pabrik semen mudah sekali membuka lowongan kerja kuli bagi pemuda-pemuda  sepertimu di Kerek? Mengapa kok tidak membuka lowongan kuliah gratis saja? Emm, apa ini ada hubungannya dengan kemakmuran ya, Pung? Ah, entahlah!

Ups, Ibu terlalu cerewet ya? Ah, mungkin ini efek habis baca tulisannya Bapak Dodi Mantra di Harian Kompas kemarin lusa deh. Oh iya, jadi ingat. Ada satu lagi, Nak. Kamu tau ndak, pada tahun 2015/2016 ini terdapat 1.014.079 anak yang putus sekolah di bangku SD. Se-Indonesia, Pung. Miris kan? Kalau keyakinan Ibu tadi benar, bagaimana nasib anak-anak sebayamu itu kelak? Pasti pabrik-pabrik besar seperti pabrik semen di Kerek akan berbahagia sekali.

Dan kiranya, untuk itu juga lah Pung, Ibu nulis surat ini. Rajin ngaji ya, rajin sekolah, dan rajin membaca biar kelak kalau jadi Bupati itu adalah Bupati santri yang ndak hanya melek agama. Tapi juga melek pariwisata, industri, politik, ekonomi, tani, buruh, nelayan, dannnnnn sebagainya. Ya, minimal supaya potensi wisata di Tuban ini bisa dioptimalkan kembali dan ndak malah DIHARAMKAN. Selamat Hari Santri ya Pung!

 

Salam Hangat

 

 

Kerek, 22 Oktober 2016

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.