Manifesto Berandal Lokajaya

/i/

Bahwa penjajahan, penindasan dan penjarahan adalah kejahatan tertinggi umat manusia. Oleh sebab itu, maka melakukan perlawanan atasnya, adalah tugas paling mulia. Jika kejahatan tertinggi itu telah menduduki istana, mengendalikan hukum dan menentukan nasib rakyat, maka tidak ada kewajiban yang lebih mendesak selain mengobarkan pemberontakan.

Adalah dwi tunggal sejarah, Proklamasi Agustus di Jakarta dan Pertempuran November di Surabaya tahun 1945, yang menjadi titik pijak Revolusi Indonesia. Revolusi dengan cita-cita kemerdekaan dalam seluruh dimensi, yaitu ekonomi, politik dan budaya. Kemerdekaan itu akan terwujud jika rakyat Indonesia berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam budaya. Tapi kenyataannya, hari ini ketiga hal tersebut hanya menjadi ilusi.

/ii/

Semenjak gonjang-ganjin 1965, kita kembali memasuki kolonialisasi ulang. Para pemimpin bangsa gagal membaca geopolitik dunia. Sehingga kita jadi korban perang dingin, dan negara kita jatuh dibawah kuasa Amerika bersama jutaan rakyat indonesia mati dalam pembantaian. Lalu penjajahan kembali bercokol di Indonesia dengan dalih investasi, dibawah payung hukum Undang-undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) 1967. Doktrin “pembangunanisme” mulai dicanangkan dengan dukungan militer dalam lingkup dwi fungsi ABRI. Sejak itulah, ekonomi kita kembali dikuasai raksasa bernama perusahaan swasta Multi National Corporation dan Transnational Corporation (MNC/TNC). Kita tak lebih dari sekedar manusia yang dipaksa bekerja keras, bersusah payah untuk menjadi budak di negeri sendiri.

Di ranah politik, kedaulatan kita dirampas oleh wakil rakyat dan para pemimpin untuk melayani kepentingan kaum kapitalis yang bersembunyi dibalik panji-panji pembangunan di zaman Orde Baru dan globalisasi setelah Reformasi. Tiga puluh dua tahun Orde Baru melakukan depolitisasi terhadap rakyat, menjalankan elitisme politik, yang ujungnya adalah penajisan terhadap politik itu sendiri. Dari situ imajinasi rakyat dalam berpolitik runtuh. Setelah Reformasi 1998, yang ada hanya politik sebagai rutinitas limatahunan memilih pemimpin laiknya undian dalam acara arisan. Dan siapapun, dengan partai apapun yang terpilih, hasilnya adalah sama saja: memfasilitasi kapitalisme semakin menggurita di Indonesia.

Dalam ranah kebudayaan rupanya juga tetap memprihatinkan. Dulu, Sunan Kalijaga mengkonsep secara apik dalam Serat Lokajaya yang berbunyi “Anglaras ilineng banyu, angeli ananging ora keli,” ikut arus tapi tak terhanyut. Hal itu juga pernah dicanangkan oleh Generasi 1945 dalam “Surat Kepercayaan Gelanggang.” Generasi 45 percaya pada generasi baru Indonesia untuk melanjutkan, menumbuhkembangkan kebudayaan nasional Indonesia dengan caranya sendiri. Namun yang terjadi kini adalah sebaliknya. Kepribadian kebudayaan kita hancur sebab kita sibuk mengkonsumsi daripada berkreasi, sibuk memamah kebudayaan luar yang didukung derasnya arus industrialisasi, tanpa memiliki daya kunyah dan daya serap yang memadai.

/iii/

Orde Baru yang bercokol 32 tahun runtuh diterpa krisis finansial global. Reformasi 1998 bergulir seolah membawa harapan. Tapi kaum reformis yang mabuk kemenangan semu itu, lupa kalau bencana yang lebih besar mengancam.

Di ranah ekonomi ada globalisasi, yang intinya liberalisme pasar. Dan doktrin liberalisme adalah meminimalisir peran negara untuk menjadi sekedar anjing penjaga modal internasional yang ditanam di indonesia. Di ranah sosial, marak isu civil society atau masyarakat madani. Biasanya diusung NGO/LSM yang pendanaannya dari luar negeri. Dan civil society, disadari atau tidak, adalah searah dengan kepentingan pasar bebas.

Di ranah politik ada desentralisasi (yang bisa kita temui intinya adalah distribusi keserakahan). Orang daerah cakar-cakaran untuk merampoki rumahnya sendiri, dan hasil terbesarnya rupanya untuk kepentingan massifnya penetrasi kapitalisme global. Rakyat setempat tetap menjadi kuli, diperas tenaganya habis-habisan tanpa ada jaminan sosial yang memadai, dan harus menanggung beban pengusiran, kerusakan lingkungan, dan kematian massal jika bencana datang.

/iv/

Membaca kenyataan diatas, adalah seperti membaca bahwa kejahatan yang paling jahat, yakni penjajahan, penindasan dan penjarahan dengan segenap atribut represif maupun eideologisnya, telah benar-benar menguasai kita, menginjak-injak harkat kita sebagai manusia merdeka. Arah dari semua ini tak lain daripada menuju jurang kematian bersama.

Sebelum bencana benar-benar menggulung dan meluluhlantakkan segenap sendi-sendi kemanusiaan kita, ada suatu tugas mendesak yang harus kita laksanakan. Tugas itu adalah pemberontakan.

Pemberontakan yang kita lakukan, adalah bukan semata hendak mengganti penguasa, tapi meruntuhkan struktur sosial lama yang mandeg, yang menggilas dan menindas, dan membangun struktur sosial baru sebagaimana pernah dicontohkan dalam cita-cita kemerdekaan total (hurrun tamm) 1945. Pemberontakan itu berupa gerakan mogok di pabrik-pabrik, sabotase urat nadi kapital dengan menggagalkan atau memacetkan eksploitasi alam dan pekerja, pendudukan institusi-institusi politik penguasa, pembubaran sekolah-sekolah yang mencetak budak-budak terdidik-terampil demi pelanggengan penindasan, penggalakan koperasi-koperasi desa demi kemerdekaan petani, pengambil-alihan media massa komersiil yang hanya mengejar akumulasi kapital dan melakukan pembodohan-pembodohan massal, pembuatan arus wacana pembebasan di dunia maya, dan penggalakan kreasi-kreasi seni-budaya rakyat. Pendeknya semua anasir gerakan revolusioner harus kita galakkan.

Tidak masalah jika kemudian kita mati untuk itu. Setidaknya tugas kita sebagai manusia tertuntaskan. Alangkah indahnya mati dalam perjuangan. Alangkah hinanya hidup dalam penindasan.

 

Mangasah mingising budhi

Memasuh malaning bhumi

Memayu hayuning bawono

Hidup rakyat!

Hidup pemberontak!

 

Yogyakarta, 08 Oktober 2016.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Oktober 26, 2017

    […] Baca Juga : Manifesto Berandal Lokajaya […]

  2. November 20, 2017

    […] Baca ==> Manifesto Brandal Lokajaya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.