TUBANOLOGI: Mengembalikan Pengetahuan Lokal Sebagai Subyek

tradisi-wacana-kritis

Oleh: Suhariyadi

(Pengantar lahirnya Tubanologi sebagai salah satu content Papringan Online.com) 

           Apakah Tubanologi itu? Nampaknya pertanyaan itu relevan untuk dikemukakan di awal tulisan ini. Jawaban terhadap pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada sebuah definisi, betapapun itu tidak sesederhana menciptakan istilah ‘Tubanologi’. Analog dengan terminologi keilmuan, kata logi yang melekat pada kata Tuban memiliki pengertian sebagai ilmu. Tetapi terlampau jauh untuk seperti analogi itu. Tubanologi bukanlah ingin membangun sebuah ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan mesti dibangun dari suatu penelitian ilmiah yang sistematis, teroganisatis, dan kritis. Tubanologi hanyalah sebuah ruang yang menampung segala bentuk pemikiran, baik dari hasil-hasil penelitian, pengalaman, pengetahuan, maupun sekedar hasil diskusi di warung nasi, tentang ke-Tuban-an.

Meski begitu, Tubanologi bukan sekedar nama yang begitu saja muncul tanpa dilandasi sebuah pemikiran. Tubanologi bukan sekedar kata tanpa memiliki bentuk dan isi apa-apa. Dan Tubanologi bukan sekedar keinginan yang begitu cepat muncul dan cepat pula hilang di telan masa. Tapi Tubanologi adalah sebuah harapan. Tubanologi juga sebuah bentuk pengakuan, keyakinan, kepercayaan, pemikiran, dan penghayatan, bahwa Tuban merupakan suatu masyarakat yang memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang belum banyak diangkat ke permukaan. Sesungguhnya, ia bisa menjadi sumber pengetahuan, sehingga bisa dipahami, diapresiasi, dihayati, direnungkan, dan dijadikan sebuah wacana pengetahuan lokal.

Kenapa mesti Tubanologi? Banyak kosa kata atau istilah yang bisa digunakan untuk menamainya, karena bukan itu yang esensial. Sebuah nama bisa apa saja, tapi yang utama adalah esensinya. Sekali lagi, Tubanologi adalah sebuah ruang yang menampung segala bentuk pemikiran, baik dari hasil-hasil penelitian, pengalaman, pengetahuan, maupun sekedar hasil diskusi di warung nasi, tentang ke-Tuban-an. Ia sengaja dimunculkan untuk mendudukan pengetahuan lokal Tuban sebagai bagian dari kekayaan dan warisan sosiokultural masyarakat, di tengah perkembangan zaman mutakhir dengan paradigma globalisme-nya.

Sebagai sebuah paradigma kebudayaan mutakhir, globalisme ternyata memiliki kekuatan menggerus yang lokal dan nasional. Ia menerabas batas hingga ke ruang-ruang publik dan privasi individual. Konsep The Global Village yang hendak diciptakan membawa ideologi yang sanggup merubah pola pikir dan hidup masyarakat. Pada titik itulah dibutuhkan semangat, gerakan, dan tindakan untuk menyadari bahwa perkembangan budaya mutakhir itu berkecenderungan membawa kurban yang tak kalah besar dibandingkan modernisme. Tak kurang dari seorang futurolog Alfin Tofler mengilustrasikan bagaimana bahaya mengancam di depan.

Alfin Toffler (dalam I Nengah Duija, Jurnal Wacana, Vol. 7, No. 2, Oktober 2005, hl. 111), mengemukakan bahwa suatu peradaban baru sedang tumbuh dalam kehidupan saat ini. Bagi mereka yang buta merekamnya, peradaban ini telah membawa gaya baru kehidupan keluarga, mengubah cara kerja, cara bercinta dan cara hidup, membawa tatanan ekonomi baru, konflik-konflik baru, dan di atas semua itu, juga mengubah kesadaran manusia. Serpihan peradaban itu telah ada sekarang ini. Jutaan orang telah menyelaraskan hidupnya dengan irama hari esok itu. Manusia yang takut terhadap masa depan itu terlibat dalam suatu pelarian yang sia-sia ke masa lalu dan mencoba memulihkan kembali dunia mereka yang sekarat, dunia yang melahirkan mereka.

Berbicara tentang Tubanologi di tengah perkembangan zaman mutakhir, mengarah pada suatu rumusan jawaban atas pertanyaan, bagaimana mendiskripsikan diri (masyarakat lokal Tuban) kepada luar diri. Hal itu merupakan konstruksi secara geososiokultural tentang makna-makna (pengetahuan; kognisi) yang direpresentasikan ke dalam praktik-praktik kehidupan masyarakat. Makna-makna tersebut selama ini mempengaruhi pola-pola hubungan sosial, produksi tek-teks kultural, dan penilaian diri terhadap hakikat kehidupan kolektif masyarakat Tuban.  Dengan demikian, masyarakat Tuban dipandang sebagai wacana yang bermakna. Tubanologi pada akhirnya adalah sebuah ruang pengetahuan lokal yang bersumber dari kelokalan Tuban. Tubanologi sebagai subyek, yang hendak memahami pengetahuan lokal sebagai obyeknya, sehingga pada akhirnya, ia bisa mendudukan pengetahuan lokal ke-Tuban-an itu sebagai subyek di tengah hegemoni budaya mutakhir. Pada tahap itulah pengetahuan lokal ke-Tuban-an harus menjadi obyek terlebih dahulu, dan peranan subyek dimainkan oleh Tubanologi. Lantas secara bersama-sama, Tubanologi dan pengetahuan lokal ke-Tuban-an akan menjadi subyek, yang selama ini cuma obyek yang digerus dan dnafikan oleh budaya mutakhir.

Untuk berperan sebagai subyek, tentu Tubanologi harus mampu menjawab sederet pertanyaan yang muncul menyertai peran subyek itu. Sebagai subyek, apakah obyek Tubanologi? Bagaimana hubungan antara obyek tersebut dengan Tubanologi? Bagaimana Tubanologi memahami obyeknya? Bagaimana cara dan prosedurnya? Apa fungsinya bagi masyarakat Tuban? Sederet pertanyaan itu akan mengokohkan eksistensi Tubanologi sebagai sebuah ruang yang menampung segala bentuk pemikiran, baik dari hasil-hasil penelitian, pengamatan, pengalaman, pengetahuan, maupun sekedar hasil diskusi di warung nasi, tentang ke-Tuban-an.

Tubanologi: Landasan Berpikirnya

Apakah obyek Tubanologi? Secara eksplisit telah dikemukakan bahwa Tuban hendak memahami pengetahuan lokal tentang ke-Tuban-an. Dengan demikian, pengetahuan lokal tentang ke-Tuban-an merupakan obyek utama Tubanologi. Jawaban tersebut masih terlalu samar untuk bisa dipahami. Tentu muncul pertanyaan: Apakah pengetahuan lokal ke-Tuban-an itu? Ada tiga definisi operasional yang harus dipahami terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan itu, yaitu: ‘pengetahuan’, ‘lokal’, dan ‘ke-Tuban-an’. Apakah makna ketiga istilah tersebut?

‘Pengetahuan’ adalah hasil dari rasa ingin tahu tentang sesuatu yang dihadapi seseorang. Sedangkan ‘lokal’ sinonim dengan ‘daerah’, yang dipertentangkan dengan ‘nasional’ dan ‘internasional’. Sementara ‘ke-Tuban-an’ memiliki pengertian produk-produk sosiokultural masyarakat Tuban, baik material maupun spiritual, yang konkrit maupun abstrak, perilaku maupun alam pikir (kognisi) yang selama ini menjadi pedoman, penuntun, dan pembimbing masyarakat dalam praktik-praktik kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan, ‘ke-Tuban-an adalah kebudayaan yang dimiliki masyarakat Tuban itu sendiri.

Berdasarkan definisi di atas, dapat dirumuskan bahwa Pengetahuan Lokal ke-Tuban-an adalah kebudayaan daerah sebagai hasil akal budi masyarakat Tuban sebagai penciptanya. Dalam teori kebudayaan diungkapkan sebuah proposisi bahwa masyarakat menciptakan kebudayaannya, yang pada gilirannya kebudayaan itu akan mengatur kehidupan masyarakat yang menciptakannya. Di situlah kedudukan kebudayaan menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari secara kolektif. Dengan demikian, kebudayaan masyarakat Tuban adalah kebudayaan daerah yang diciptakan masyarakat Tuban sendiri, yang pada akhirnya, mengatur kehidupan masyarakat Tuban sendiri. Ia pada gilirannya sebagai sumber pengetahuan masyarakat Tuban, yang dalam praktik-praktik kehidupannya dipedomani, diatur, dan diarahkan oleh kebudayaan yang telah diciptakannya itu.

Bagaimana hubungan antara pengetahuan lokal ke-Tuban-an tersebut dengan Tubanologi? Sesungguhnya pengetahuan lokal ke-Tuban-an (kemudian akan disebut ‘ketubanan’ dalam tulisan ini selanjutnya) tersebut adalah isi Tubanologi. Tubanologi adalah bentuk, dan ketubanan adalah isi. Antara keduanya seperti dua sisi mata uang. Keduanya harus ada untuk menandai eksistensi dan nilai bagi perkembangan masyarakat Tuban ke depan. Persoalannya adalah, bagaimana Tubanologi sebagai bentuk sekaligus subyek, memahami ketubanan sebagai obyek sekaligus isinya. Jawaban atas persoalan tersebut akan mengarahkan kita mengungkapkan cara,  prosedur, dan pendekatan, yang dipakai Tubanologi memperoleh pengetahuan lokal ketubanan.

Persoalan kebudayaan pada dasarnya adalah proses belajar masyarakat untuk mengenali diri sendiri dan lingkungannya, sehingga dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri secara kolektif. Pemaknaan kebudayaan semcam itu mengarah pada sikap dialogis subyek terhadap obyeknya. Tentu sangat relevan jika Tubanologi menggunakan cara dialogis untuk memahami pengetahuan lokal ketubanan sebagai obyek pemahamannya. Pendekatan dialogis menjadi alternasi utama bagi Tubanologi untuk mengemban peranannya sebagai subyek. Untuk mewujudkan itu mesti memiliki seperangkat prosedur yang tertib agar dapat memiliki nilai bagi masyarakat Tuban.

Bagaimanakah prosedurnya? Prosedur adalah langkah-langkah yang dirancang dalam melakukan sesuatu. Dengan demikian, prosedur dalam konteks pemahaman pengetahuan lokal ketubanan merupakan langkah-langkah yang akan digunakan Tubanologi sebagai subyek pemaham. Tentunya prosedur tersebut relevan dengan cara dan pendekatan dialogis yang telah dikemukakan di atas. Pertama, mengenali secara dekat unsur-unsur kebudayaan daerah Tuban, sekaligus sebagai unsur-unsur pengetahuan lokal ketubanan. Kedua, menggali sebanyak mungkin unsur-unsur kebudayaan daerah Tuban tersebut untuk diangkat ke dalam ranah wacana pengetahuan lokal Tuban. Ketiga, hasil dari kedua langkah tersebut diharapkan dapat menjadi wacana tandingan terhadap hegemoni budaya mutakhir yang dewasa ini cenderung meniadakan budaya lokal. Prosedur tersebut dapat dilakukan jika instrumennya adalah masyarakat Tuban sendiri. Artinya, terjadi dialog diri instrumen dengan dirinya sendiri sebagai pelaku budaya. Dengan demikian, antara cara, pendekatan, dan prosedur dalam jalur yang sama, yaitu bersifat dialogis.

Pada akhirnya, alur pemikiran di atas berujung pada pertanyaan: Apa fungsi Tubanologi bagi masyarakat Tuban? Tubanologi sesungguhnya hendak berperan secara aktif, kreatif, dan kritis, sebagai anggota masyarakat Tuban. Ia lahir dari dalam masyarakat Tuban. Ia hidup dan berkembang dalam masyarakat Tuban. Ia barangkali berakhir bersama-sama dengan akhir masyarakat Tuban. Oleh karena itu, Tubanologi memiliki konsekuensi moral bagi masyarakatnya. Dan sebagai anggota masyarakat Tuban, Tubanologi harus berpartisipasi bagi kemajuan masyarakat Tuban. Itulah nilai yang melekat secara esensialis dan diemban untuk diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari dalam segala bentuk dan maknanya.

Tubanologi dan Ilmu Pengetahuan

          Tubanologi dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang berbeda, tetapi memiliki hubungan sembiosis mutualisme. Jika Tubanologi ruang pengetahuan lokal sebagai hasil rasa ingin tahu, maka ilmu pengetahuan merupakan hasil-hasil pengajian secara ketat, sistematis, dan ilmiah. Jika Tubanologi berdasarkan semangat dan tanggung jawab moral terhadap kekayaan budayanya sendiri, maka ilmu pengetahuan berdasarkan teori dan metodologi ilmiah. Dan jika Tubanologi memberikan kebebasan kepada semua pihak untuk memanfaatkannya, maka ilmu pengetahuan memberikan kebebasan secara ilmiah dan akademis para ilmuwan dan peneliti.

Tetapi Tubanologi dan ilmu pengetahuan juga merupakan dua hal yang memiliki kesamaan. Tubanologi dan ilmu pengetahuan sama-sama berangkat dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Keduanya juga sama-sama memiliki semangat dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat yang melahirkannya. Tubanologi memberikan kebebasan seseorang untuk menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari, begitu juga dengan ilmu pengetahuan. Titik kesamaan itulah menjadi ujung dari Tubanologi dan ilmu pengetahuan menyambung hubungan yang erat, tanpa harus saling meniadakan, menghegemoni, dan mengacaukan masing-masing. Benang merahnya terletak pada saling memanfaatkan bagi keperluan memajukan dan mengembangkan masyarakat yang beradab.

Tubanologi memanfaatkan hasil-hasil kegiatan dan metodologi ilmu pengetahuan, karena Tubanologi terbuka luas bagi semuan pihak, termasuk ilmuwan dan peneliti, untuk memasuki wilayahnya. Begitu juga ilmu pengetahuan dapat memanfaatkan hasil-hasil kerja Tubanologi sebagai obyek pengajiannya. Untuk bisa seperti itu, Tubanologi tentu harus menata diri untuk siap menerima karakteristik ilmu pengetahuan yang terkenal tertib, sistematis, dan bermetode, tanpa harus kehilangan hakikatnya sebagai subyek yang bebas dan terbuka bagi semua pihak dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tubanologi memang merupakan entitas (wujud) yang beragam, heterogen, dan multi-fungsi.

Tubanologi dan Masyarakat Tuban

Tubanologi merupakan bagian dari struktur sosial masyarakat Tuban. Ia berperan sebagai salah satu unsurnya, yang bersama unsur-unsur sosial lainnya membangun kolektivitas. Untuk itu, Tubanologi bisa berentitas apa saja tergantung siapa yang akan menggunakannya. Tubanologi bisa berentitas sebagai institusi formal yang memiliki sistem. Tetapi bisa juga ia cuma sebagai sebuah halaman media informasi dan komunikasi masyarakat. Tubanologi bisa juga berentitas forum informal di pasar, warung, trotoar, atau di sebuah kerumunan orang-orang yang ingin menghabiskan malamnya. Bahkan ia bisa juga menjadi forum diskusi, seminar, workshop, pelatihan, pendidikan, dan sebagainya.

Semua serba bisa, karena Tubanologi adalah ruang publik bagi masyarakat Tuban untuk menunjukkan semangat dan gerakan budaya bagi kemajuan masyarakat Tuban. Tubanologi bersifat multi-fungsi dan multi-kultural, sebagaimana masyarakat Tuban yang secara geososiokultural juga beragam dan siap menjadi ibu kandung segala bidang kehidupan. Masyarakat Tuban merupakan daerah yang memiliki sejarah yang panjang, dari masa kerajaan Singosari, Kediri, dan Majapahit hingga kini.

Tuban memiliki sejarah penting pada masa lalu. Pada zaman Singosari, Kediri, dan Majapahit, kabupaten Tuban merupakan daerah pelabuhan internasional pada waktu itu. Beberapa referensi sejarah Nasional Indonesia dan Asing mengungkapkan bahwa Tuban merupakan pusat perdagangan nusantara semenjak abad ke-11. Pada abad ini Tuban telah banyak dikunjungi oleh pedagang dari Arab, Persia, India, Burma, Kamboja, Campa, dan Cina, di samping pedagang dari daerah-daerah di nusantara. Sedangkan memasuki abad ke-16 orang-orang Eropa, terutama Portugis dan Belanda, masuk ke Tuban untuk memperluas ekspansi kekuasaannya melalui Tuban.

Karena latar belakang geografis yang strategis dan memiliki pelabuhan yang besar tersebut, Tuban akhirnya menjadi pintu masuk pengaruh dan infiltrasi asing ke Indonesia (Jawa). Tercatat dalam sejarah nasional Indonesia, Tuban merupakan daerah pendaratan pasukan Mongol di bawah pimpinan Ku Bhilai Khan, untuk menyerang kerajaan Majapahit. Begitu juga pelabuhan Tuban menjadi pusat perdagangan di masa itu dalam menyokong tata perekonomian Majapahit sebagai kerajaan terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Islamisasi di Jawa juga tidak bisa dipisahkan dari peran Tuban sebagai gerbangnya di masa awal masuknya agama Islam di Jawa pada abad ke-15. Tuban merupakan daerah terpenting bagi penyiaran agama Islam pada zaman kerajaan Demak. Runtuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad XV, yang ditandai oleh candrasengkala ‘Sirna Ilang Kertaning Bumi’ (1400), pusat kerajaan beralih dari Mojokerto ke Demak. Peralihan pusat kerajaan tersebut tidak serta merta mengurangi peranan Tuban sebagai daerah pelabuhan terpenting di Jawa. Hubungan internasional dan regional bahkan semakin meluas dalam bidang keagamaan dan sosial. Wilayah ini menjadi pintu bagi masuknya agama Islam, baik dari daerah lain seperti Aceh misalkan, maupun dari Negara Arab.

Fakta sejarah di atas sudah tentu meninggalkan identitas dan kearifan lokal hingga masa kini. Kebanggaan, citra, simbol, ritual, folklore, dan Ikon sejarah menandai identitas Tuban sebagai daerah yang memiliki ciri dan karakteristik sebagai peninggalan sejarahnya. Dua situs peninggalan periode sejarah tersebut, khususnya dari masa kerajaan Majapahit dan Demak, adalah situs kadipaten Tuban sebagai kota lama dan banyaknya situs Makam Wali atau Sunan. Meskipun situs yang pertama belum banyak digali, tetapi dalam rekonstruksi sejarah kabupaten Tuban, peta situs tersebut telah terbukti secara ilmiah dalam penelitian sejarah. Sedangkan situs yang kedua, situs makam wali, hingga sekarang masih terpelihara dan banyak dikunjungi peziarah, yaitu: Makam Sunan Bonang, Syaikh Ibrahim Asmaraqondi, Sunan Bejagung Lor (Syekh Maulana Abdullah Asy’ari) dan Sunan Bejagung Kidul (Hasyim ‘Alamuddin), Nyai Ageng Manyura, Andong Wilis, Gagarmanik (Pangeran Tundung Musuh), dan makam-makam lain yang banyak tersebar di daerah-daerah di kabupaten Tuban. Bahkan masyarakat Tuban menganggap makam Syeh Siti Jenar berada di kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding.

Realitas sejarah masa lalu di atas dapat menjadi titik pandang dalam pengungkapan identitas Tuban. Realitas sejarah tersebut bukan hanya terbatas sebagai fakta, tetapi memiliki pengaruh psikologis dan praktik-praktik kebudayaannya. Semangat, kebanggsaan, pencitraan, perilaku dan cara pandang kelokalan, baik oleh masyarakat Tuban sendiri maupun luar Tuban, sangat dipengaruhi oleh hal itu. Dapat dikatakan bahwa realitas sejarah masa lalu meninggalkan nilai-nilai yang membangun pola pikir, perilaku, dan berkebudayaan bagi masyarakat Tuban.

Berkaitan dengan itu, beberapa fokus perbincangan tentang identitas kelokalan masyarakat Tuban, dapat diperoleh dalam empat hal. Pertama, artefak, folklore, dan ritual ceremony yang sampai saat ini masih dipertahankan, dipelihara, dan menjadi sumber inspirasi bagi produk-produk budaya kekinian. Kedua, pengaruh peninggalan sejarah tersebut terhadap praktik-praktik kehidupan sehari-hari masyarakat; Ketiga, norma, adat-istiadat dan tradisi lokal yang secara kontinyu masih dipertahankan masyarakat. Keempat, sejarah lokal sebagai titik tumpu penyusunan sejarah nasional.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah keempat hal tersebut masih cukup kuat mengakar dalam praktik-praktik kehidupan masyarakat Tuban? Apakah kebijakan pembangunan daerah Tuban selama ini memperhatikan hal tersebut? Nampaknya perlu secara eksplisit didiskusikan dalam segala forum masyarakat. Di situlah Tubanologi mengambil peranan yang aktif bagi kemajuan masyarakat Tuban. Hubungan Tubanologi dan masyarakat adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan lagi.

Penutup 

Sebagai sebuah pemikiran yang memiliki peluang untuk meruang, maka sudah waktunya Tubanologi memulakan hidupnya. Ia dapat berbentuk apa saja; ia bisa bersifat apa saja; ia bisa berfungsi apa saja; ia bisa digunakan siapa saja; dan semua serba bisa, asalkan semuanya itu diarahkan bagi kemaslahatan hajat hidup orang banyak. Papringan online merupakan salah satu dari semua serba bisa terebut. Sebagai media informasi dan komunikasi untuk masyarakat Tuban, tentang masyarakat Tuban, dan oleh masyarakat Tuban, maka Papringan online adalah entitas semangat dan gerakan kebudayaan yang disebut dengan Tubanologi. Karena bersifat multi-fungsi dan multi-kultural, Papringan online dapat diakses, dimanfaatkan, dan dibicarakan oleh orang banyak dan dengan banyak fungsi.

*Diambil dari: https://unirow.academia.edu/SUHARIYADIsuhariyadi

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Johna759 berkata:

    Very efficiently written information. It will be beneficial to everyone who employess it, including myself. Keep up the good work for sure i will check out more posts. ddfkkegeeegb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.