Kampret di Bulan Ramadhan

Oleh Jabal Nawa*

Saat ramadhan tiba, kehidupan kempret dan keluarganya secara garis besar tidak berubah. Mereka tetap keluar malam berburu mangsa atau sekedar bertamasya, dan bersembunyi kala matahari mulai menyinari. Kalaupun ada perubahan, adalah mirip perbedaan antara hari-hari biasa dengan akhir pekan. Hari-hari biasa orang sibuk bekerja (bagi yang tidak pengangguran), sementara akhir pekan adalah saatnya liburan, minimal tidur siang yang panjang. Tapi sayangnya kampret tidak mengenal hari kerja atau hari libur. Tiap hari kampret kerja, sekaligus libur.

Lain halnya dengan dunia orang dalam sebuah negara bernama Indonesia, khususnya Tuban. Pertama, ini paling nampak, kita disuguhi parade paling vulgar dari perkawinan antara agama dengan industri media.Lihat saja, dalam tiap ramadhan, media selalu saja menyiarkan sesuatu yang pola-polanya tidak berbeda dengan ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Seperti rajin menyiarkan dakwah-dakwah, musik-musik reliji dan ke-arab-araban, komedi-komedi syariah, ulasan-ulasan mengenai napak-tilas Islam. Begitu juga iklan-iklannya yang dipenuhi pesan-pesan reliji, baik yang jualan fashion, atau sekian nutrisi penambah gizi, yang tentu saja mendapat stempel dari dari MUI.

Manusianya? Mereka kiniberbondong-bondong mengubah jadwal makan (dan masak tentu saja). Lalu masjid jadi lebih ramai, lantunan kitab suci jadi pengiring malam. Dan, yang terpenting, azan magrib adalah sesuatu yang paling berarti dan karenanya paling dinanti.Begitulah. Yang merekajelas disibukkan oleh aktivitas-aktivitas yang dianggap menambah pundi-pundi ukhrowi.

Disisi lain, harga sembako selalu naik, juga harga pakaian. Mungkin bagi dunia pedagang kain dan sembako diuntungkan. Tapi bagi petani, kenaikan sembako ternyata tak punya andil dalam memberi kesejahteraan lebih buat mereka sebab hasil tani sudah langsung ditebas tengkulak untuk membayar hutang. Ramadhan tiba, artinya petani tetap sengsara.

Mungkin saja petani menjerit atas kondisinya, dan jeritan itu dilantunkan dalam doa-doa sehabis tarawih. Tapi hukum pasar bebas yang menggilas mereka, memang tak bisa dibendung hanya dengan doa. Maka, jika ada pertanyaan, siapa yang paling diuntungkan (secara “duniawi”) dengan hadirnya Ramadhan? Jawabannya sudah jelas. Pemodal besar, yang menjual ayat-ayat suci dengan mata uang duniawi.

Dan apa arti itu semua bagi kampret? Mungkin saja doa-doa yang lebih sering terbaca, atau ayat-ayat suci yang lebih sering terlantun, akan membawa aura kesejukan dan keteduhan bagi kampret, ditengah industrialisasi ekstraktif yang kian hari kian menggilas dan menggurus goa-goa yang alias rumah-rumah mereka, dunia mereka dalam membangun peradaban kampret.

Huh, kampret!

*Orang biasa. Hobinya makan sambal terong gosong.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.