Melihat NU dari Batu Akik

Oleh Goes Poer*

Selain keindahan yang tersaji, menyejukkan dan ngademke ati tak jarang batu akik juga membuat kita jengah, gerah dan gelisah. Bisa difahami bebatuan akik yang dengan memandangnya saja sudah menentramkan biasanya disajikan oleh orang-orang yang dari semula mencintai akik, lama bergumul dengan akik, setia dengan akik dengan maupun tanpa ditemukannya bebatuan akik di Aceh yg katanya bernilai miliaran itu.

Begitu juga NU, organisasi sosial keagamaan yang konon katanya mempunyai jumlah anggota terbanyak di Indonesia bahkan di dunia ini sering juga membuat pecintanya pening kepala, coblos no 3 NU, harus kembali ke rumah besar NU, menyejahterakan warga NU, nek ora iki opo iku yo ora NU, pokoknya masih banyak yang bikin ngelu linear dengan jumlah orang yang ngaku-ngaku tahu dan mencintai NU dari waktu ke waktu.

Seperti batu akik yang menggelisahkan itu juga biasanya tersaji oleh orang-orang yang mendadak, mengaku suka akik disinyalir hanya bermotifkan ekonomi semata. Untuk itu tak menjadi soal jika nama tetap Bacan meskipun berasal dari Shincuan ataupun Yunnan yang pasti harganya murah meriah. Tak kalah memilukan juga bagi para penjaja bebatuan akik yang katanya mempunyai khasiat dan kemampuan supranatural, berguna untuk membuat manusia tidak terlalu suka harta dunia, mendadak selalu ingin menjauhi cewek-cewek seksi, lebih berwibawa, menambah pesona, alhasil menurut orang-orang macam ini cukup dengan sepuluh macam batu akik, masalah di Indonesia dijamin selesai.

Ada memang yang tanpa melihat siapa yang berucap kita sudah bisa mengambil hikmah dan manfaat dari kata-kata. Tetapi menjadi penting di zaman batu akik ini selain “undhur ma qol wala tandhur man qol” jua melihat siapa yang mengucapkan dan ada dibalik kata-kata tersebut.

Inilah pentingnya kita belajar, mengetahui, mengerti dan memahami NU dari para para kyai yang sedari dahulu jelas sikap dan pengendikonipun memperjuangkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh NU. Menerima kebenaran berkeyakinan pada Tuhan tanpa harus meninggalkan asal-usul di mana kita dilahirkan. Meng-Esa-kan Tuhan tanpa harus berperan maupun sekedar latihan menjadi Tuhan itu sendiri. Men-syi’ar-kan agama seiring dengan kekayaan dan kearifan serta lokalitas kebudayaan.

NU tetaplah NU, tumbuh dari bibit lokal setelah melalui proses filterisasi dari berbagai kemungkinan dan infiltrasi ajaran yang berskala global. Berkembang di tanah lokal yang sedari dulu mampu menumbuhkan jenis dan varietas tumbuhan dengan segala keanekaragamannya. NU ya NU tidak usahlah kau tarik-tarik, bawa-bawa, atau temu-temukan dengan yang di barat jauh sana. Dengan sendirinya NU akan berjumpa dengan Makkah dan Madinah sebagai tempat suci umat muslim, bukan arab Saudi lho ya! Apalagi kalau usaha mempertemukan itu berpotensi atau dibajak oleh oknum, sebagai upaya menambah teman supaya lebih superior jika berteriak mengkafirkan saudaranya sendiri.

Islam datang bukan untuk merubah budaya leluhur kita menjadi budaya arab, merubah panggilan sampean jadi antum, sedulur jadi akhi begitu kata Gusdur. Si Mbok, Ma-e, Mama, Ibu, Umi adalah bungkus, isinya adalah ketaatan dan upaya untuk memuliakan orang tua kita. Belum lagi bisa kita bayangkan bagaimana saru-nya jika ada perkataan seperti ini. Makanan pertama dan paling baik bagi bayi adalah air susu ibu (ASI), kalau yang mengucap saudara-saudara kita yang lebih nyaman dengan logat Arab lha dadi saru to, makanan terbaik bagi bayi adalah air susu Ummi (ASU), itulah kenapa menjadi penting mendialogkan teks dengan konteks.

Dan akhirnya begitulah sepenggal kisah dari batu akik yang menjadi bagian kecil dari kekayaan bumi terikat tali tersinari dengan Sembilan bintang. akik asli bukan imitasi, NU asli yang terdiri dari berbagai versi, bisa garis lurus, garis lucu, garis lugu, dan berbagai potensi garis yang dibutuhkan, NU pasti bisa, sekali lagi karena NU tumbuh dan berkembang dari yang asli.

NU ke kakune so kanggo PIKULAN lemese so kanggo naleni rambanan, begitu NU diumpamakan oleh kyai Mudzakir Ma’ruf mengungkapkan pada jamaah setianya dulu ya dulu ketika radio kotak national masih setia menemani kemana-mana bergantung di leher, terutama saat budal ne tegal. Ungkapan tersebut bukan hanya menunjukkan betapa dinamisnya NU, kerasnya bisa untuk memikul lenturnya bisa untuk menjadi pengikat adalah bahasa yang dipakai Mbah Yai menjelaskan NU pada petani.

Ini NU ku yang bermula dari batu akik yang indah itu, terimakasih si mbah Ahmad Mustofa Bisri, maturnuwun Bopo Timur Sinar Suprabana, dari panjenengan kekalih kutemukan keindahan batu akik dan indahnya beragama. semoga keberkahan dari panjenengan kekalih tansah lumeber bagi kita semua.

*cah angon yang hoby cari batu ya batu yang dulu dengan batu itu tak jarang menjatuhkan kesegaran dari kebun dan ladang orang.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.