Jogja dan Buku Bajakan

Buku Bajakan -Banyak sekali buku bajakan, terutama buku-buku “berkualitas” yang sering dicari para aktivis, atau para penggila buku yang duitnya cekak. Juga buku-buku populer, seperti novel-novel best-seller. Untuk jenis ini biasanya dikonsumsi mereka yang baru kenal dunia perbukuan, atau mahasiswa baru.

book-place-copy

oleh Jabal Nawa

buku bajakan itu seringkali bisa didapat dari penjual eceran di jalan, pedagang kaki lima, atau diedarkan dari kampus ke kampus atau warung ke warung tempat tongkrongan mahasiswa. Sasaran konsumennya masih umum, mayoritas tentu mahasiswa.

Sementara buku khusus buku-buku serius dan berkualitas, seperti filsafat, sejarah, kajian sosial-politik, yang biasanya dijadikan rujukan akademik dan (sering) subversif, bisa didapat dari penyedia jasa fotocopy (untuk kemudian saya sebut PJF) yang memang marak di Jogja, terutama sekitar kampus. Buku-buku jenis ini diminati oleh mereka yang konsern dalam kajian sosial. Para aktivis, apakah mahasiswa, pers, atau LSM, seringnya mencari buku-buku yang bernuansa kritik sosial, pergerakan, atau perlawanan. Sebab buku-buku itu dijadikan bahan rujukan wajib untuk kajian atau diskusi antar aktivis.

Di beberapa PJF bahkan sudah menyediakan List buku-buku yang ada dan sering dicari orang. Maka, bisa juga kita katakan bahwa mereka memang bisnis buku bajakan berkedok PJF.

Jika anda mencari buku-buku tersebut, anda tinggal datang ke PJF tertentu –yang biasanya sudah diketahui umum oleh pelanggan—anda tinggal lihat daftar buku bajakan yang tersedia, dan pilih mana yang anda cari, atau yang menarik bagi anda. Lalu pesanlah. Bayarnya bisa belakangan. Dan karena banyak sekali peminatnya, tak jarang anda harus sabar menunggu yang terkadang lebih dari dua minggu. Jika sudah jadi, biasanya anda akan dihubungi. Tapi ketika tiba-tiba saat itu anda tidak punya uang, biasanya langsung dialihkan ke orang lain. Jadi tak usah khawatir kalau bakal dituntut di pengadilan.

Jika buku yang anda cari tidak tersedia, pinjamlah ke teman, perpustakaan, atau nyuri dulu. Lalu sodorkan ke PJF tadi. Biasanya, jika buku itu disinyalisir berkualitas, atau dicari-cari banyak orang, buku yang anda bawa tadi akan di-scan untuk softfile. Ya, untuk bank data mereka yang terus mereka akumulasi sebagai modal.

***

Jogja adalah kota pendidikan yang di dalamnya terdapat ratusan kampus. Ratusan ribu mahasiswa datang dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan banyak juga yang dari luar negeri. Bahkan disinyaliris lebih dari 75% mahasiswa di Jogja berasal dari luar Jogja.

Banyaknya mahasiswa pendatang adalah peluang yang besar bagi pebisnis. Tentu bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan mahasiswa. Salah satunya adalah bisnis perbukuan dan PJF.

Tidak semua mahasiswa punya banyak duit. Tak jarang mereka hidup pas-pasan. Bahkan ada beberapa yang yang punya tempat tinggal, tidurnya numpang ke kawan-kawannya, atau di warung-warung kopi yang memang terbuka 24 jam.

Bagi mahasiswa jenis ini, tentu akan kesukaran jika dia menginginkan buku-buku. Apalagi buku-buku asli yang bagi mereka mahal. Maka, tak jarang mereka melakukan pencurian buku-buku di toko buku dengan dalih darurat, atau mencuri ilmu.

Ketika ada informasi tentang buku bajakan yang murah dan tidak kalah berkualitas dengan aslinya, sudah tentu menjadi alternatif bagi mereka yang haus buku tapi berduit cekak tadi mencetak buku bajakan tadi. Jadi ada semacam simbiosis mutualisme diantara pembajak dengan konsumen. Sama-sama saling menguntungkan, yang oleh karenanya, sama-sama saling melindungi.

Memang, dari segi hukum, itu adalah pelanggaran atas hak cipta. Tapi, tentu kita juga harus jeli mengapa fenomena ini terjadi. Sehingga kita tidak serta-merta menghakimi mereka yang dianggap merugikan penerbit atau penulis buku tersebut.

Saya rasa ini tugas pemerintah untuk mengatasinya. Bukan dengan jalan menangkapi para pembajak. Tapi dengan jalan lain yang lebih bijak, misalnya dengan mensubsidi para penerbit atas buku-buku yang diproduksi. Dengan kualifikasi tertentu oleh para ahli. Agar, kalau perlu, buku-buku yang berkualitas yang beredar itu sangat murah, atau bahkan gratis!

Kenapa kamu beli buku bajakan? Kata kawanku: salah sendiri buku aslinya mahal!

 

*Penulis adalah penggila buku.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Oktober 20, 2017

    […] Baca Juga : Jogja dan Buku Bajakan […]

  2. Oktober 25, 2017

    […] Baca juga : Jogja dan Buku Bajakan […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.