Kampretis Ngacoisme

Industrialisasi menyediakan uang dan senjata untuk melanggengkan dominasi dan memperluas koloni

(Revolusi Industri awal abab ke 18)

Oleh: Mbah Takrib*

Sebuah Pengantar

Daripada berdebat soal cara pandang antara Joko Dalem (Kampretis I) dan Ipoeng (Kampretis II), yang seolah-olah diantara kami bersebrangan. Lebih baik kita lestarikan kampretisme sebagai mazdhab filsafat baru beraliran ngacoisme.

Sebagaimana filsuf-filsuf terdahulu, mulai dari Thales, Socrates, Plato sampai terahir Joko Dalem dan Ipoeng dari madzhab Kampretisme, filsafat selalu dimulai dari pertanyaan, kemudian mencari jawaban-jawaban dengan olah fikir. Mereka yang melakukan aktivitas filsafat disebut filosof/filsuf, dari bahasa Yunani Philos (Cinta) dan Sophos (Kebijaksaan). Jadi, mereka adalah orang-orang yang mencintai kebijaksanaan.

Dari sini, tak perlu ada yang diperdebatkan soal kampretisme sebagai aliran filsafat baru. Toh Joko Dalem dan Ipoeng, sedang melakukan olah fikir Ngocoisme, dengan membangun paradigma yang menurut mereka baru, berusaha keluar dari paradigma masyarakat umum yang hanya melahirkan sikap pesimis dan skeptis.

Berangkat dari semangat di atas, meniru sunnah para filsuf terdahulu, tentu menjadi hal yang boleh, ketika sekelompok orang dengan aliran ngocoisme berfilsafat tentang apapun. Di tulisan singkat ini, penulis akan membuat seketsa tentang negara imajiner, keluar dari perdebatan yang absurd antara Joko Dalem dan Ipoeng, sekaligus saya sendiri sebelumnya. Hehehe :p

Sketsa Republik Kampret

Dunia sedang mengalami masa kemajuan, saat Republik Kampret lahir. Tapi sebagaimana teori jungkat-jungkit (Gelarina, 2015), selalu ada hal yang timpang dibalik sebuah kemajuan. Itulah yang terjadi pada Republik Kampret. Gemerlap dunia dalam kemajuan zaman tidak dirasakan oleh rakyat Republik Kampret.

Republik Kampret sedang diselimuti mendung, rakyatnya sengsara, jauh dari kesejahteraan. Padahal, dengan segala potensi yang dimiliki, mestinya Republik Kampret mampu menjadi negara adikuasa, melebihi negara Paman Sem (nama disamarkan). Republik Kampret memiliki jumlah penduduk yang besar, keempat terbesar di dunia. Wilayahnya sangat luas, terdiri dari daratan dan lautan. Kekayaan alamnya melimpah, baik di atas maupun di dalam tanah. Kesemua potensi tersebut, merupakan syarat berdirinya negara adikuasa.

Luas lautan Republik Kampret adalah 7:3 daratan yang terdiri dari hamparan kepulauan. Dengan berbagai kekayaaan laut yang melimpah baik ikan, terumbu karang dan juga migas. Di darat, pulaunya adalah pulau yang subur tepat untuk pertanian, hutannya kaya dengan tanaman yang beragam dan hewan bermacam-macam, terdapat juga sumber daya tambang, mulai dari emas, batu bara migas dan lain sebagainya.

Menurut Gelarina, ketimpangan yang terjadi merupakan hukum sebab akibat. Sesuatu yang saling berkaitan, jika ada yang kaya, pasti juga menyisakan kemiskinan. Entah dalam satu ruang dan waktu yang sama atau terpisah jauh di wilayah lain.

Sebab keduanya saling berkaitan, maka mengkaji Republik Kampret harus juga melihat dunia di luar Republik Kampret. Ini bisa kita lacak semenjak lahirnya revolusi industri, pada ke 18. Ditemukannya teknologi mutakhir sebagai pengganti proses kerja manusia menciptakan tata dunia baru dalam kegiatan ekonomi. Industrialisasi menjadi tren baru dalam rencana pembangunan sebuah negara.

Virus tersebut menjalar ke berbagai belahan dunia, faktanya negara-negara yang sekarang menguasai dunia, adalah negara-negara yang pernah melakukan revolusi atau restorasi industri di negara masing-masing. Tapi bukan berarti hari ini kita harus latah menerima industri sebagai prasyarat kemajuan, tanpa melakukan koreksi dan kajian kritis terhadapnya.

Setelah industrialisasi sampai pada level mapan, ternyata terdapat beberapa permasalahan. Mulai dari upah buruh, kesenjangan pendapatan antara pekerja dan pemilik modal. Kekurangan bahan baku dan surplus produksi yang mengaharuskan negara industri maju melakukan kolonialisasi dan imperialisasi (untuk membuka pasar dan mendapatkan bahan baku industri) ke belahan dunia lain. Sebagaimana kolonialisasi yang dialami Republik Kampret, sebelum kelahirannya.

Di awal abad ke 18, saat gejala permasalah industrialisasi mulai merambah negara-negara industri berkembang, mereka menyediakan uang dan senjata untuk melanggengkan dominasi dan memperluas koloni ke daerah-daerah Asia-Afrika, termasuk Republik Kampret. Rakyat diperbudak sumberdaya kekayaan alam dijarah. Lantas pertanyaannya, apakah di dunia modern seperti saat ini, dimana negara bekas jajahan sudah merdeka, pola seperti itu sudah hilang? Kenyataannya belum.

Diraihnya kemerdekaan bekas negara jajahan, dengan bentuk tata dunia baru, tidak begitu saja menghilangkan penjajahan oleh negara adikuasa. Sistem penjajahan lama berevolusi menjadi model penjajahan yang lebih canggih. Tidak hanya melalui kekuatan militer, uang dan senjata, tapi membangun sistem yang legal formal menurut kesepakatan internasional. Namun tetap melakukan penghisapan terhadap negara dunia ke tiga. Sistem tersebut biasa disebut neoliberalisme-neoimperalisme, bentuk penjajahan melalui pasar bebas, dengan prisip deregulasi dan privatisasi. Dan merupakan sistem yang dilindungi oleh lembaga internasional yang legal, semisa WTO, IMF, WB, WHO dan PBB.

Sistem inilah yang sekarang sedang melanda Republik Kampret. Buaian harapan tentang kemajuan negara melalui industrialisasi tidak bisa dicermati secara kritis. Sehingga yang ada hanya penjarahan sumberdaya kekayaan alam melalui pasar modal dan investasi. Negara tidak bisa bangkit menjadi negara produktif, karena guyuran barang asing di pasar domestik. Sedangkan rakayatnya, terjebak pada konsumtifisme karena sistem yang mengekang daya kreatifitas dan minimnya sumberdaya modal akibat kemiskinan.

Harapan Diambang Kehancuran I: Teologi Pembebasan

Hal demikian telah disadari oleh sebagian Rakyat Repbublik Kampret. Mereka membangun mimpi hidup di dunia yang setara, sama rasa sama rasa (bukan istrimu istriku atau istriku istrimu). Melainkan kesamaan mendapatkan kesejahteraan, pemerataan pembagian kekayaan negara tanpa ada monopoli diantara satu dengan lainya. Walaupun baru mimpi, keinginan hidup layak sebagai hak, telah tertanam sebagai harapan dan kesadaran.

Mereka sadar, harapan itu bukan hal yang mustahil untuk diraih. Ini hanya soal merubah takdir, menyandarkan harapan pada perjuangan. Sebagaimana yang diajarkan oleh para pemuka agama di Republik Kampret: Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau merubah nasibnya sendiri.

Dalam Republik Kampret, agama bukan merupakan candu, agama menjadi semangat membangun persaudaraan, persatuan dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Para pemuka agama selalu mengadakan pertemuan rutin untuk berdiskusikan kebangsaan, mereka beranggapan: menjadi penganut agama yang baik adalah memanusiakan manusia lain. Tidak hanya sekedar menghafal kitab suci, tetapi juga meresapi maknanya, melakukan intepretasi yang kontekstual dengan keadaan dan permasalahan bangsa, guna menjadi problem solver.

Selain ilmu agama, mereka juga mendalami ilmu-ilmu sosial ekonomi dan politik sebagai pisau analisa dalam membedah permasalahan. Kata mereka, kebenaran bisa darimanapun datangnya, sebab Tuhan maha kuasa. Mereka mengakaji teori-teori ekonomi politik, mulai dari Al-Mawardi, Ibnu Rusyd sampai Hassan Hanafi. Dari pemikiran barat mereka mengkaji Adam Smith, David Ricardo, Robert Owen sampai Karl Mark, Lenin dan Mao Tze Dong.

Yogyakarta, 19 Januari 2015

*Kampretian dilematis.

Baca tulisan sebelumnya:  Kampretisme I ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/06/kampretisme/ ), Kampretisme II ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/06/kampretisme-ii-meninjau-manusia-goa/ ), Post-kampretisme ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/15/berhenti-berspekulasi-jadilah-batman/ ), dan Homo-Kampretus Sapiens ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/19/homo-kampretus-sapiens/ )

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.