Homo-Kampretus Sapiens

Oleh Joko Dalem*

/i/

Bagi mereka yang “buta warna,” kenyataan memang hitam putih.

/ii/

Sebelum jadi ruwet, seperti tanggapan yang berdesingan ditembakkan Mbah Takrib (Kampretisme II) dan Ipoeng (Post-kampretisme), ada baiknya Kampretisme kita bahas dengan sederhana dan mendasar. Biar kepala tidak ngelu, sementara hasilnya sia-sia atau hanya diserahkan pada Tuhan yang maha Esa sebagai simbol keruwetan kita yang mentok dan putus asa.

Saya teringat waktu ketjil, tentang pengalaman melihat sendok yang dicelupkan pada air dalam gelas, dan nampak bengkok. Apakah sendok benar-benar jadi bengkok? Saat saya angkat, ternyata lurus. Saya masukin lagi, bengkok lagi. Angkat lagi, ternyata tidak bengkok. Begitu seterusnya. Sampai-sampai harus minta penjelasan pada Ibu. Dan ibu saya tentu tidak menjelaskan saya dengan teori-teori canggih. Sendok ia ambil, lalu dipakai menyuasi saya sarapan. Dan sarapanlah saya sambil joget-joget. 😛

Itu pengalaman saya mula-mula, tentang “penampakan” yang ternyata menipu. Selanjutnya saya melihat banyak sekali penampakan-penampakan yang ternyata juga menipu. Maksudnya, kenyataan tak selamanya sama—kadang malah kebalikan—dengan penampakan.

/iii/

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang yang mati-matian mempertahankan pendapatnya: bahwa sendok itu bengkok! Padahal dia ilmuwan, atau pejabat tinggi. Apakah dia berbohong? Tentu saja tidak. Hanya saja, mereka tidak mengenali kenyataan.

Contoh, di Tuban, banyak pejabat dan kalangan intelek yang mati-matian meyakini bahwa peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) adalah sama dengan peningkatan kesejahteraan warga. Sehingga industrialisasi ekstraktif digalakkan, sebab industri itulah penyumbang PAD terbesar. Saat PAD tinggi, merekalah yang paling banyak menikmati. Warga tetap saja tak kebagian. Sementara disisi lain, kerusakan lingkungan akibat industrialisasi itu secara langsung jadi beban warga, seperti limbah industri, kekeringan, penyempitan lahan, dst. Dan warga disuruh diam saja sebab mereka dianggap tidak tahu statistik, tidak paham ilmu pemerintahan, tidak mengerti kenyataan, tidak tahu apa yang terbaik buat dirinya; sehingga warga harus mengikuti sabda mereka, atau sabda dewa-dewa.

Dalam ranah yang lebih luas, negara kita selalu saja mengamini “pasar-bebas” yang turun sepaket dengan “civil society” sebagai jalan menuju kesejahteraan. Iman pada pasar-bebas itu memang bukan hanya dipaksakan oleh IMF, WTO, Worl Bank, tapi juga secara lembut disuarakan oleh sekian LSM/NGO yang dapat donor dari mereka untuk mengkampanyekan sebuah jimat civil society.

Dan apa hasilnya? Pertumbuhan ekonomi ternyata tak mampu menanggulangi kemiskinan. Ritual demokrasi (pemilu, pilkada, dst) yang kita jalankan, tak lebih dari ajang cakar-cakaran demi kepentingan segelintir elit. Dan kebudayaan yang kita hasilkan hanya menjadikan mental kita kian inferior terhadap dunia luar. Disisi lain, kita baru sadar bahwa negara kita yang katanya kaya sumber daya alam (SDA), ternyata SDA itu tak pernah kita miliki, sebab kita biarkan mereka untuk merampoki, bahkan perampokan itu kita fasilitasi.

Percobaan demi percobaan sejak era Soekarno sampai Jokowi, selalu berujung pada kekacauan, pemimpin yang dinista, rakyat yang tak pernah beranjak dari posisinya, dan bingung harus bergerak kemana sebagai bangsa Indonesia. Mengapa hal ini terus terjadi? Nah, inilah perlunya Kampretisme.

/iv/

Kampretisme, yang saya tawarkan dengan gagah berani di awal sebagai madzhab filsafat baru, sesungguhnya tak lebih dari “cara pikir” lain. Seperti cara kelelawar yang mampu menjelajahi gelapnya malam tanpa kejedok tembok, dan mengenali dan membedakan dalam gelap mana jambu yang masak dan mana batu. Berbeda burung-burung yang tak berdaya untuk menjelajah saat malam tiba.

Mengenai siang-malam, itu hanya simbolik. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa kenyataan seringkali lebih gelap dari malam, sebab ada penampakan yang menipu. Dan kita mudah sekali tertipoe.

Seperti penampakan sendok yang bengkok tadi, kita juga tertipu oleh dongengan bahwa negara kita sudah merdeka sejak tahun 1945, negara kita kaya raya dan gemah ripah loh jinawe. Itu tipuan yang membuai.

Ada juga tipuan yang menyesatkan. Seperti kasus korupsi yang di mana-mana dicaci-maki. Setiap KPK menangkap koruptor baru kita langsung bersorak dan menghujat, meng-asu-kan, seolah-olah itu murni akibat keserakahan mereka belaka. Kita lupa ikut andil dalam membentuk struktur sosial yang memungkinkan, bahkan memaksa mereka untuk berlaku korup!

/v/

Kampretisme disini adalah “cara-pikir-lain” yang punya disiplin tersendiri. Bermula dari amatan, tapi tidak lantas menerima hasil pengamatan sebagai kenyataan. Bahwa kenyataan selalu bergerak, dan tugas kita menangkap gerak-kenyataan itu. Lantas kita ikut andil dalam menentukan arah gerak-kenyataan itu, sebab “kita” adalah bagian darinya, dan tidak mungkin membiarkannya bergerak sendiri dan kita terlarut didalamnya.

Kesalahan mengidentifikasi gerak-kenyataan dan pengabaian adalah dua hal mendasar yang menyebabkan kita tak berdaya. Sebagai bangsa kita jadi bangsa kuli. Sebagai negara menjelma negara dunia ketiga. Sebagai manusia kita tak pernah beranjak dari manusia yang sesungguhnya sebab masih terjebak dalam dilema identitas antara manusia atau monyet, atau kampret.

Benar-benar kesalahan yang tak terampuni. Aduh. Kampret, pret, preeeet!

Lereng Merapi, 19 Januari 2015

*Penulis tak perlu lagi menjelaskan dirinya. Ia sudah sangat terkenal.

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tanggapan atas Kampretisme I ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/06/kampretisme/ ), Kampretisme II ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/06/kampretisme-ii-meninjau-manusia-goa/ ), dan Post-kampretisme ( https://tubanjogja.wordpress.com/2015/01/15/berhenti-berspekulasi-jadilah-batman/ )

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Januari 19, 2015

    […] Homo-Kampretus Sapiens […]

  2. Mei 13, 2017

    […] untuk logika berfikir, cobalah tengok tulisan Joko Dalem yang berjudul “Homo-kampretus Sapiens”. Di situ dia berusaha memberi contoh tentang cara baca atas kenyataan. Tentu saja bukan berarti […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.