Secarik Kertas Dari Puncak “MERBABU”

secarik

Awal dari perjalanan ini dimulai dari kegelisahan bersama yg mengakar sehingga membutuhkan ruang yg mampu mengekspresikanya. Untuk sementara itu hanya puncak gunung yang menjadi tempat solutif untuk berekspresi, refleksi, hingga aktualisasi kegelisahan yang ada. Perjalan kami dimulai dengan hal yang sederhana dan tentunya dengan tujuan yang sederhana. Ini bukan sebuah “pelarian”!!!!

Awal senja dijogja kami bergerak menyusuri garis aspal menuju basecamp pendakian gunung merbabu. garis jam menunjukkan pukul 14.00 WIB kami tiba dibasecamp dengan iringan sambutan salam dari para pemuja sang alam. Tepat pukul 16.00 WIB kami bersepakat untuk berangkat menuju puncak dimana kami berdiri tegak diatas hiruk pikuk keramaian, menengadahkan wajah sambil menikmati ciptaan tuhan yg tak akan kami lihat di kehidupan biasa. Perjalanan inipun dimulai..,,,

Alam sedang menyambut dengan iringan rintihan kesedihanya, gemercik air hujan yang lembut menetes diantara muka yang ingin segera bertemu lalu meluapkan sebuah kerinduan yang tak berujung. Tapak demi tapak sudah terlalui, sudah lebih dari 3 jam kami berjalan menyusuri lorong panjang yang belum terlihat ujungnya. Tepat pukul 19.30 WIB dengan iringan angin yang menusuk kedalam tulang serta keletihan yg mendera memaksakan kami untuk mendirikan tempat tidur sederhana, kami bersepakat untuk sejenak melepaskan beban berat yg ada, keadaan memaksakan kami untuk segera beristirahat lalu melanjutkan perjalanan esok hari.

Senja menyambut dengan senyuman indahnya, wajah bahagia melekat dimatahari pagi menyampaikan salam rindu terhadap kami. Setibanya pukul 08.00 WIB kami harus segera melanjutkan perjalanan. Kabut tebal sedang menyelimuti bukit yang kami daki, dingin namun kami anggap sebagai pelukan hangat alam terhadap kami yang sedang rindu denganya. bukit pertama sudah kami lalui, hujan dan badai menyambut kedatangan kami di SABANA I tepat pukul 10.00 WIB. Peristiwa ini memaksakan kami untuk segera mengakhiri perjalanan awal dihari itu. setelah badai berlalu kami mendirikan tenda kembali.

SABANA I menyuguhkan keindahan alam yang tak dapat kami lihat dilain tempat, barisan rumput yang luas, rangkaian bukit kecil menambah pesona keindahan alam. Suguhan semacam ini yang membuat kami semakin takut dengan maha pencipta, Samudera awan juga muncul ditepian jurang curam. kami sadar, sekarang kami berdiri diatas awan. tak lupa momentum ini sejenak kami abadikan untuk membuktikan kepada anak cucu kami kelak, “bahwa inilah ciptaan Tuhan yang harus kau lihat,…..”.

Matahari sedang berdiri diatas kepala kami, itu menandakan kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju puncak ketinggian atas pijakan kaki. Tak sampai 1 jam kami tiba di SABANA II. Gambaran tentang tempat ini tak jauh beda dengan SABANA I namun hamparan barisan rumput SABANA II lebih luas serta bukitnya yang lebih tampak hijau. puncak sudah kian dekat, lambaian tangan serta ucapan “cepat, kesini….!!!” sudah begitu terdengar nyaring di telinga kami. kaki yang awalnya sudah tak sanggup untuk melangkah lebih jauh tiba-tiba terasa begitu ringan karena ingin segera menyambut lambaian tangan itu.

Puncak tinggal beberapa langkah lagi, namun kabut tebal menyelimuti langkah kaki yang letih. Sama sekali tak terlihat sejauh mata memandang apa yang ada dibawah. Kabut membatasi jarak pandang kami. 3 langkah terakhir kami pijakkan, kami telah sampai. refleksi kedirianpun kami mulai. Kami menyadari bahwa realitas kehidupan manusia sungguh amat dinamis, kita tak mampu menebak secara akurat apa yang ada dalam fikiran manusia serta bentuk aktualisasi macam apa yang akan dilakukan. Dinamika alampun tak kalah mengerikan, berubahan cuaca yang tak mampu dibaca, angin, hujan,badai, sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka itu hidup. proses penciptaan alam yang awalnya kita anggap sebagai benda mati sekarang menjelma menjadi kehidupan baru yang tak kalah dengan kehidupan manusia.

keramaian hiruk pikuk kehidupan normal sejenak kami lupakan, realitas keindonesiaan yg merumitkan turut serta sementara kami tinggalkan. Menyepi, menyendiri dan ingin lebih intim dengan alam adalah sesuatu hal yang kami anggap membahagiakan, namun hal semacam itu bertolak belakang dengan apa yang kami rasakan, bahwa “Jika diketinggian kamu mengharap kebahagiaan, kepuasan, serta kemenangan, itu adalah suatu hal yang salah. Karena hanya sebuah kekerdilanlah yang akan kamu dapatkan”.

oleh : “SeMar”

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.